Arsip untuk Juni 2012

Dari Redaksi

Juni 30, 2012

Njuah-njuah, Horas, Mejuah-juah, Ya’ahowu dan selamat bertemu kembali.

Selamat bertemu kembali. Edisi kita kali ini memuat bagaimana penanganan KTP dapat dilakukan oleh masyarakat sendiri, sebagaimana dilakukan di wilayah dampingan PESADA.

Selain itu kami menyajikan perjuangan Suu Kyi, pejuang demokrasi Burma; serta berbagi cerita mengenai desa di Pakpak Bharat.

Ruang Konsultasi seperti biasa membantu pembaca untuk memahami berbagai kasus KTP yang terjadi di masyarakat.

Selamat membaca

DL

Membangun Penanganan Kasus Kekerasan terhadap Perempuan Berbasis Komunitas di TAPTENG/Sibolga

Juni 30, 2012
S

ejak semester II tahun 2011, PESADA dengan giat membangun pendekatan penanganan korban Kekerasan Terhadap Perempuan (KTP)  yang berbasis komunitas. Artinya, WCC Sinceritas yang berada di bawah naungan PESADA, dan bertugas khusus menangani perempuan korban KTP, perlu dikombinasikan dengan pendekatan di mana masyarakat aktif dan terlibat penuh untuk menangani para korban. Mengapa?

Sejarah WCC Sinceritas

 

            Berawal dari sebuah kasus pemerkosaan terhadap anak perempuan yang diselesaikan secara adat yang terjadi pada akhir tahun 1990 & pembunuhan seorang istri oleh keluarga besar suami diawal tahun 2000 di daerah Sidikalang, PESADA mulai melakukan kegiatan advokasi & pendampingan perempuan korban kekerasan.

            Pengalaman melakukan Advokasi & pendampingan hukum atas kasus tersebut diteruskan dengan memulai  PUSYAPER (Pusat Pelayanan Perempuan ). Nama PUSYAPER adalah sesuai usulan anggota-anggota CU yang hadir pada perayaan Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan pada November 2001. Ketika PESADA melihat bahwa kasus-kasus KTP sangat banyak dan perlu ditangani dengan lebih luas, maka pada tahun 2004, PESADA memulai ide WCC di Kota Medan. Launching atau peluncuran resmi WCC dengan nama WCC/Rumah Aman Perempuan SINCERITAS dilakukan pada bulan  September 2004, pada saat UU PKDRT no 23/2004 resmi diundangkan.

Diskusi Kelompok peserta training pertama Konseling September 2004
Diikuti seluruh personil PESADA dan Jaringan WCC

Kebutuhan Shelter  Meningkat

Tingginya jumlah korban yang melaporkan kasusnya membuat PESADA  menambah 1 shelter / kantor diwilayah jangkauan, yang kesemuanya bertujuan untuk memudahkan pendampingan kasus diwilayah tersebut.

Namun keterbatasan jumlah personil WCC Sinceritas membuat penanganan kasus menjadi kurang maksimal terutama di luar area kerjanya. Sementara beberapa penyintas yang pernah menerima pendampingan justru menunjukan semangat tinggi, mereka merasa punya tanggung jawab moril dalam membantu korban perempuan lain.

Banyak penyintas yang merujuk kasus kekerasan terhadap perempuan dilingkungan mereka ke WCC Sinceritas, tidak berhenti disitu beberapa dari mereka meminta dilakukan sosialisasi tentang informasi Perlindungan hukum (UU), hak perempuan, hak anak & Trafficking.

WCC Sinceritas melihat ini sebagai titik awal untuk memulai ide bersama masyarakat terutama perempuan untuk melakukan penanganan awal bagi perempuan yang mengalami kekerasan. Dalam hal ini perempuan, baik penyintas maupun anggota kelompok perempuan dampingan PESADA, bahkan perempuan lain yang sadar mengenai masalah KTP, mampu bergerak dan menjadi perpanjangan tangan dalam pemberian informasi awal mengenai hak perempuan.

Layanan berbasis komunitas

Layanan berbasis komunitas merupakan pendekatan kerja yang bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat untuk menangani masalah kekerasan dan diskriminasi yang dialami oleh perempuan dikomunitas tertentu. Yang penting adalah warga komunitas itu sendirilah secara aktif ikut serta dalam layanan sehingga mereka dapat berperan sebagai agen perubahan di komunitasnya.

Harapannya masyarakat mempunyai tanggung jawab bersama – sama untuk membantu dan mendampingi perempuan dan anak perempuan korban kekerasan. Sesuai dengan pasal 15 UU RI No. 23 tahun 2004 ttg PKDRT bahwa setiap orang yang mendengar, melihat, atau mengetahui terjadinya kekerasan dalam rumah tangga wajib melakukan upaya – upaya sesuai dengan batas kemampuannya untuk :

•      Mencegah berlangsungnya tindak pidana

•      Memberikan perlindungan kepada korban

•      Memberikan pertolongan darurat

•      Membantu proses pengajuan permohonan penetapan perlindungan.

Perlunya Upaya Masyarakat (Komunitas)

Ada beberapa factor yang mempengaruhi, diperlukannya layanan berbasis komunitas :

  • Meningkatnya tindak kekerasan terhadap perempuan
    • Keterbatasan lembaga (sumber daya, relawan) yang memberikan pelayanan bagi perempuan korban kekerasan
  • Keterjangkauan pusat layanan dengan korban yang berada di pelosok.
  • Keterlibatan lembaga adat & lembaga agama dalam pengadaan layanan
    • Adanya kemampuan masyarakat untuk merespon tindak kekerasan terhadap perempuan yang terjadi di komunitasnya.

Sebagai langkah awal PESADA melalui WCC Sinceritasnya mulai melakukan dialog & berdiskusi dengan Tokoh masyarakat, Tokoh adat, Aparat desa & masyarakat desa di wilayah Tapteng  dengan tema ”Kekerasan terhadap perempuan & pentingnya keterlibatan lembaga di desa untuk mengurangi kekerasan terhadap perempuan”. Dilaksanakan di 4 desa (desa Mela, desa Sigoring-goring Kolang, desa Pagaranri Poriaha, desa Aek Tolang Pandan), pada dasarnya diskusi menghasilkan beberapa kesimpulan yang juga merupakan kekuatan dari layanan berbasis komunitas:

  • Pentingnya penanganan secara cepat bagi korban Kekerasan terhadap perempuan oleh masyarakat sekitar.
  • Memperkuat posisi korban sekaligus komunitas untuk memahami KTP
  • Proaktif mengunjungi korban di manapun mereka berada
  • Fleksibel dan tidak dibatasi oleh ruang konsultasi yang formal.
  • Menghidupkan kembali kearifan lokal melibatkan lembaga adat & lembaga agama

Berbekal hasil dari diskusi dan berdialog dengan masyarakat di desa, kegiatan dilanjutkan dengan melakukan diskusi internal dengan 4 kelompok CU di wilayah Tapteng. Dengan tema Kekerasan terhadap perempuan dan pentingnya kepemilikan identitas bagi anggota CU, diskusi juga menyepakati pemilihan pengurus Kelompok penanganan kasus berbasis komunitas antara lain :

  • Desa Sigoring–goring, Kolang: Terpilih 2 orang pengurus Tirayah Gurat & Elviwati Hutabarat
  • Desa Mela, Terpilih 2 orang Pengurus Kelompok di Mela Sarmawati & Ernawati
    • Desa Pagaranri, Poriaha: Terpilih 2 orang Pengurus Tiasnida Situmeang & Ami Lina Halawa
    • Desa Aek Tolang, Pandan: Terpilih 2 orang pengurus Wilfrida Wati Waruwu & Olina Halawa

Peran – Peran Yang Dapat Dilakukan Pusat Layanan ini antara lain:

•        Sosialisasi tentang hidup tanpa kekerasan dan berkeadilan, termasuk keadilan gender.

•        Sebagai pemantau kekerasan di masyarakat (apakah ada kekerasan atau tidak)

•        Sebagai pusat pengaduan korban kekerasan

•        Memberikan pelayanan berupa pendampingan langsung kepada korban

•        Sebagai perujuk

Prinsip – Prinsip Yang Harus Menjadi Pedoman dalam Bekerjasama Dengan   Komunitas :

  • Keamanan dan rasa aman korban adalah prioritas pertama
    • Masyarakat memahami keterkaitan KTP dengan diskriminasi berbasis gender dan mengambil sikap proaktif untuk mengatasi
    • Fokus pada kekuatan, kapasitas dan sumber daya yang dapat ditumbuh kembangkan di dalam komunitas sendiri
    • Proses aksi dan refleksi yang teratur bersama komunitas
    • Pertanggung jawaban pelaku kekerasan di hadapan korban dan masyarakat.

Bagaimana perkembangan saat ini?

Hingga saat ini telah ada  2 kasus (1 KDRT, 1 KDP) rujukan dari pengurus kelompok berbasis komunitas, sebelumnya telah  ada 4 kasus (KDRT) yang dirujuk oleh anggota CU di wilayah Tapteng. Hal ini menunjukkan bahwa tingginya  kasus kekerasan terhadap perempuan memerlukan penanganan yang cepat dan tepat, jiwa perduli dan bertanggung jawab dari awal telah di tunjukkan oleh perempuan anggota CU dimana mereka merasa bahwa luka hati perempuan lain adalah lukanya dan perlu penanganan segera.(DH/Ò).

Di Pucuk Gunung Lae Mbentar-Pagindar

Juni 30, 2012

(Tulisan relawan lapang PESADA)

Jauh dari asap kepenatan, jauh dari kebisingan dan rayuan iklan televisi, tak ada jaringan, jauh dari berita politik dan korupsi, bahkan jauh dari Sekolah. Itulah suasana di Desa Lae Mbentar di puncak gunung Kecamatan Pagindar, Kabupaten Pakpak Bharat.  Desa ini sejajar dengan bukit Barisan, dibentengi barisan gunung berlapis-lapis, mengharu biru, di perbatasan Pakpak Bharat dengan Aceh Selatan. Dinding kemegahan Bukit Barisan mengelilingi membuat mereka jarang dijamah oleh kekisruhan hidup bernegara.

Perkampungan Transmigran

Pertanyaan pertama yang muncul melihat rute jalan dan jarak tempuh yang cukup lama dari ibu kota kabupaten adalah: “ Kok bisa ada perkampungan disini?”.  Ternyata mereka adalah ungsian pemerintah. Era Soeharto menghantarkan mereka menjadi penduduk Pakpak Bharat melalui program transmigrasi Orde Baru. Mereka menjadi pembuka puncak gunung di Lae Mbentar. Sebuah desa dengan hunian kurang lebih 200 manusia, dan 90%  suku Jawa.

Dapat dipastikan tak ada satu mobil pun menggelindingkan rodanya disana. Kita bisa ke sana hanya lewat sebuah jembatan kayu dengan  panjang 30 meter dan lebar 1 meter di atas ketinggian lembah 50 Meter. Wow!! Ketika jembatan gantungnya bergoyang, membuat lututku menggigil, apalagi saat memandang kecuraman dan desiran air di bawahnya. Kadang ada ketakutan seakan penghuni hutan memata-matai di balik rerimbung pepohonan. Sesekali terdengar suaranya, bergerombol sahut-menyahut, “monyetkah itu?’, pikirku.  Medan yang menguras tenaga, gedebag-gedebug dada kita dibuatnya. Dari kota ke kabupaten kira-kira jaraknya 120 Km, waktu tempuh 4 jam melalui jalur lintas Aceh Selatan Kabupaten Subuluhsalam.

Tidak bisa membaca

 

Mereka tak mengerti betul arti jejeran huruf-huruf dan perkalian angka-angka. Orang yang bisa menuliskan namanya dengan benar, sudah hebat bagi mereka. Ketika penabungan, mereka akan minta tolong kepada kawannya untuk sekedar menuliskan namanya. Saat PESADA menerangkan peraturan CU disana, ibu-ibu itu hanya menjawab “Ora mudeng aku!” (bahasa Jawa, artinya: ‘aku tidak mengerti’) Jadi untuk menjelaskan satu hal, harus diulang-ulang beberapakali.

            Mereka punya minimal dua hektar tanah per keluarga. Dengan produksi utama kebun karet, punya cukup uang, namun sudah menganggap mewah lauk ikan asin. Tak ada sayur atau tanaman berbuah yang bisa dikembangkan, kecuali hasil dari hutan. Karena masih banyak hama monyet dan binatang hutan yang suka memakan tanaman mereka.

Ber-CU tanpa pendampingan

Berbagai hal membuat pengelolaan keuangan keluarga juga kurang baik. Seorang ibu Elmida Silitonga punya pandangan dan keiginan untuk membantu warga desa, menggagasi dibukanya Credit Union disana. Ibu ini belajar CU dari desa Sibagindar. Salut dengan mereka! Ketika tanpa pendampingan sekalipun selama 1,5 tahun, penabungan tetap berjalan, walau cara-cara penabungan masih belum teratur.  Dan anggotanya pun tidak ambil pusing mengenai peraturan CU. Mereka cuma mengandalkan ingatan dan rasa percaya, seberapa duit yang mereka sudah berikan. Untuk saat ini anggota CU sudah ada 21 orang. Dan baru pertama kalinya PESADA datang ke desa ini (Mei 2012).

Mereka jarang bepergian keluar dari perkampungan. Betapa senangnya  mereka bila ada alasan untuk keluar dari desa, yang mereka anggap sebagai refreshing atau penyegaran untuk menyebrang ke desa lainnya.

            Kabar baiknya, sudah ada sekarang upaya untuk membangun jalan lintas dari daerah Sibagindar ke Kecupak. Diperkirakan jarak  45 Km dengan waktu tempuh 2 Jam. Satu lagi kabar baiknya adalah,  telah diupayakan listrik tenaga air secara mikro (PLTAM).

Memori Lintasan Pagindar Nai

Kecamatan Pagindar meliputi desa Napatalun, Sibagindar, Pagindar dan Lae Mbentar. Lae Mbentar merupakan desa terpojok. Untuk menuju Desa Lae Mbentar, kita melalui Desa Napatalun, Sibagindar dan Pagindar.

            Di perjalanan Pak Manik bercerita, ”Kira-kira 15 tahun yang lalu, daerah ini adalah hutan alami. Penebangan kayu hutan juga masih alami, tidak untuk eksploitasi hutan atau orientasi bisnis,” ucap Bapak itu. Saat ini, selang beberapa hektar, pokok-pokok sawit mulai berderet rapi.

Aku tak tahu persis siapa pemiliknya. Dipelosok negeri yang bergelombang batu-batu ini, sesekali mobil mewah melintasi, dugaanku dialah pemiliknya. Sebab, rumah-rumah kecil penduduk berkisah, dia bukan yang empunya. Saat diskusi bersama ibu-ibu di CU Sada Pekkat Desa Sibagindar, tersaji data JARPUK yang mengambarkan bahwa mereka 90% hanyalah petani padi dan cabe yang cukup untuk kebutuhan dapur saja.

Wilayah potensial mulai dikepung sawit

Pakpak Bharat wilayah yang cukup potensial. Disatu sisi kita ingin menjadikan hutan ini menjadi lahan yang produktif, disisi lain tidak ingin kemegahan gunung dijangkiti berbagai tanaman seperti sawit yang menguras kesuburan dan keindahannya. Bahkan dapat memiskinkan penduduk.

Di malam yang melarut, PESADA pulang dengan kenangan ‘Pagindar Nai’.  Tak kan terlupakan lembahnya, curamnya, hamparan dan dinding bukit Barisan yang menyimpan jutaan kisah dan keindahan lainnya.

(Berdasar Cerita K’Mida S & K’Tiba dari Lae Mbentar/DL)

Aung San Suu Kyi Perempuan Burma yang berjuang dalam diam dan damai

Juni 30, 2012

“Sepanjang yang saya ketahui, tidak satupun perang diawali oleh perempuan. Tapi adalah perempuan dan anak-anak yang terutama selalu menderita dalam situasi konflik” (kutipan dari kata-kata Suu Kyi).

Sepanjang bulan Juni, hampir seluruh media internasional memuat berita mengenai Aung San Suu Kyi; khususnya ketika berpidato di Universitas Oxford dan di Norwegia.

Siapa dia?

Orang mengenalnya sebagai pejuang demokrasi. Tidak banyak yang mengetahui latar belakangnya sebagai anak perempuan, mahasiswi dan ibu rumah tangga.

Aung San Sukyi lahir 19 Juni 1945, dari perkawinan Ma Khin Kyi (Daw Khin Kyi), seorang perawat senior; dengan Aung San, Komandan Pasukan kemerdekaan Burma. Ayahnya adalah pendiri angkatan bersenjata Burma dan salah satu yang ikut dalam perundingan untuk kemerdekaan Burma dari jajahan Inggris di tahun 1947. Suu Kyi sendiri  adalah anak ke 3. Namanya berasal dari 3 nama: Aung San dari Bapak, Kyi dari ibu dan Suu dari Neneknya.

 Tahun 1947 di bulan Juli, ketika Suu Kyi baru berusia 2 tahun, Jenderal Aung San terbunuh oleh lawan politiknya. Setelah itu, Daw Khin Kyi, ibunya; menjadi tokoh publik yang memimpin Badan Perencanaan & Kebijakan Sosial. Di tahun 1960, Daw Khin Kyi menjadi Duta Burma di India. Hal ini membuat Suu Kyi ikut pindah dan tinggal di New Delhi, dan bersekolah di sana (di Lady Shri Ram College).

Masa study yang menempa Suu Kyi

Pada kurun waktu 1964 s/d 1967, Suu Kyi studi dan memperoleh gelar BA di bidang  Filosofi, Politik dan Ekonomi di Universitas Oxford. Waktu itu yang menjadi semacam orangtua asuhnya adalah bekas Duta Inggris di India. Di situ, dia bertemu Michael Aris, mahasiswa peradaban/budaya Tibet; yang kelak menjadi suaminya.

Sukyi sempat kuliah di New York tahun 1969 – 1971, tetapi   kemudian berhenti untuk magang sebagai Asisten Sekretaris di PBB, dan terlibat di berbagai kegiatan sukarela di RS, seperti membaca dan menemani pasien.

Di tahun 1972, January Suu Kyi akhirnya menikah dengan Michael Aris tsb. Pada saat Michael melamarnya, dia mengajukan semacam syarat, bahwa apabila negaranya membutuhkannya, dia harus kembali. Michael menyetujuinya.

Mereka kemudian berangkat ke Bhutan, dan menjadi pengajar pada keluarga kerajaan dan memimpinan Depart. Peterjemah di Pementerian Luar Negeri. Setahun kemudian (1973), Suu Kyi melahirkan anak pertama mereka, Alexander, di London; disusul oleh anak kedua, Kim,  tahun 1977, yang lahir di Oxford. Selama 16 tahun, Suu Kyi hidup sebagai ibu rumah tangga.  Ketika membesarkan anak2nya, Suu Kyi mulai menulis, membuat penelitian untuk riwayat hidup bapaknya dan membantu Michael yang sedang melanjutkan studi mengenai Himalaya & Tibet. Di antara tahun ’85 ke ’86, Suu Kyi dan Michael harus berpisah sementara karena tugas dan studi; dan setelah itu, dapat tinggal bersama lagi di tahun 1987.

Mengapa jadi tahanan rumah?

Pada akhir Maret 1988 Suu Kyi memperoleh kabar bahwa Ibunya stroke. Ini membuat Suu Kyi segera pulang ke Rangoon (sekarang disebut Yangon) untuk merawat Ibunya. Pada tahun yang sama, Diktator militer Birma bernama Jenderal Ne Win yang berkuasa sejak 1962, mengundurkan diri. Sejak itu, Burma bergolak dengan berbagai demonstrasi yang mengakibatkan terbunuhnya ribuan orang oleh militer.

Di bulan Agustus, Suu Kyi mulai melakukan gerakan politik, melalui pengiriman surat resmi meminta PEMILU multi partai, menyampaikan pidato menuntut pemerintahan yang demokratis; tetapi pemerintah justru menanggapi dengan mengeluarkan UU yang melarang adanya kumpulan orang, hingga penangkapan dan hukum diperlakukan tanpa melalui peradilan. Akhirnya pada bulan September, sebuah partai politik bernama National League for Democracy/NLD atau Liga Nasional untuk Demokrasi dibentuk, dengan Suu Kyi sebagai SEKJEN.

Di masa-masa ini, Ibunya berjuang melawan penyakit hingga akhirnya meninggal di bulan Desember. Pada saat Ibunya dimakamkan, Suu Kyi menyatakan bahwa sebagaimana Ayah dan Ibunya, dia juga akan melayani dan berjuang untuk Burma, hingga akhir hayatnya. Sampai bulan Juli, dia terus berkampanye menuntut berbagai bentuk kekerasan yang dilakukan oleh tentara, seperti pemenjaraan para aktivis dan penahanan. Sementara itu junta atau penguasa militer menyatakan bahwa Suu Kyi dilarang ikut dalam PEMILU.

Tahanan selama 15 tahun.

Tanggal 20 Juli 1989, Suu Kyi dinyatakan sebagai tahanan rumah tanpa melalui proses peradilan. Michael, suaminya, terbang ke Rangoon dan menemui Suu Kyi yang sedang melakukan mogok makan sebagai protes atas perlakuan buruk terhadap para mahasiswa di penjara. Dia ingin masuk penjara saja dengan para mahasiswa tersebut. Mogok makan ini berakhir setelah pemerintah memenuhi janjinya untuk memperlakukan para mahasiswa dengan baik.

PEMILU kemudian berlangsung di tahun 1990, dan partai NLD yang dipimpin Suu Kyi memenangkan PEMILU dengan 82% kursi untuk parlemen (DPR). Tapi Pemerintah berkuasa menolak hasil ini. Di saat-saat itu, mata dunia tertuju ke Burma, dan Suu Kyi memperoleh berbagai penghargaan, seperti penghargaan HAM, khususnya Penghargaan Perdamaian Nobel di tahun 1991 oleh Norwegia. Penghargaan ini diterima oleh kedua anaknya sebagai wakil Suu Kyi pada hari HAM 10 Desember, di Oslo. Suu Kyi menolak untuk berangkat dan memilih untuk tetap menjadi tahanan rumah, daripada menerima tawaran meninggalkan Burma dan meninggalkan perjuangan politiknya. Di tahun 1992, Suu Kyi mengumumkan bahwa uang hadiah Nobel Perdamaian sebesar 1,3 juta Dollar akan digunakan untuk membangun lembaga untuk Kesehatan dan Pendidikan Rakyat Burma. Pemerintah militer Burma tidak bergeming, meski seluruh dunia, termasuk Komisi HAM PBB maupun team Nobel Perdamaian terus menyerukan pembebasan Suu Kyi.

Dibebaskan tapi ditahan kembali.

Tahun 1995, akhirnya Suu Kyi dibebaskan dari tahanan rumah setelah 6 tahun menjalani tahanan rumah. Tapi itu tidak berarti dia bebas melakukan berbagai aktivitas. Kegiatan partainya tetap dibatasi, beberapa anggota diserang dan dipenjarakan, Su Kyi tidak berani kembali ke Inggris untuk menemui keluarganya, bahkan keamanan dirinya sangat dikhawatirkan; tidak ingin pembunuhan Ayahnya terulang kepada dirinya.

Media internasional terus mengikutinya, dan popularitasnya tidak terbendung di dalam maupun di luar Burma. Bahkan saat penulis (Dina Lt.) mengikuti Konperensi Perempuan Sedunia ke 4 di Beijing tahun 1995, video Suu Kyi dapat  sampai ke Konperensi Forum LSM di Huairou, yang berisi Keynote/Catatan Kunci. Para aktivis perempuan yang mengikuti Konperensi ini sebenarnya sangat mengharapkan kehadirannya, tapi cukup puas dengan memandang dirinya di layar lebar video ruang Konperensi. Video ini sebenarnya adalah hasil seludupan. Hujan deras yang mengawali Konperensi saat itu dibuka dengan catatan kunci bertemakan “ Toleransi”, sekaligus bertepatan dengan tahun 1995 sebagai tahun toleransi internasional.

Di tahun 1995 itu juga, Suu Kyi akhirnya bertemu dengan keluarganya di Burma, dan sangat terharu melihat betapa kedua anaknya telah dewasa. Pertemuan ini pastilah pertemuan yang sangat menyentuh bagi mereka berempat. Bisa dibayangkan bagaimana perasaan mereka berpisah dan mengikuti dari jauh bagaimana Suu Kyi diperlakukan. Bagaimana Michael juga dengan sabar menghias dinding rumah dengan berbagai penghargaan yang diterima isterinya, termasuk memajang buku yang sedang dibaca oleh Suu Kyi ketika tiba2 harus pulang ke Burma pada saat Ibunya sakit.

Tetapi tahun 2000, kembali Suu Kyi ditahan, dilepas kembali 2002; ditahan kembali 2003, dilepas, demikian seterusnya. Pemerintah militer (Junta militer) selalu mempunyai alasan untuk menahannya kembali.

Baru pada 13 November tahun 2010 dia benar-benar bebas. Dari 21 tahun hidup di Burma, 15  tahun Suu Kyi berada dalam tahanan rumah. Saat-saat itu adalah masa sulit bagi Suu Kyi, keluarganya dan rakyat Burma. Suu Kyi juga beberapa kali mengalami gangguan kesehatan.

Suami berpulang tanpa kehadiran Suu Kyi.

Meski telah bertahun bebas dari tahanan rumah, keinginan untuk bertemu suami dan anak-anak memang sulit dilakukan. Dia dihadapkan pada pilihan, berangkat ke Inggris dan bertemu keluarga; tetapi tidak akan bisa masuk kembali ke Burma; atau tetap di Burma, berjuang dari dalam Burma. Penyakit kanker prostat Michael, suaminya tidak mengurangi semangat perjuangannya. Permohonan Michael untuk mengunjungi Suu Kyi  untuk terakhir kalipun, ditolak oleh Pemerintah.

Hingga akhirnya pada tanggal 27 Maret 1999,  Michael Aris meninggal di  London. Mereka tidak pernah bertemu sejak Michael mengunjunginya di Hari Natal 1995. Pengorbanan ini sangat besar, demi demokrasi di Burma.

Satu cerita mengenai hubungan Suu Kyi dengan suaminya yang tidak diketahui media adalah film pendek yang dia buat untuk suaminya. Ketika Suu menyadari dia tidak mungkin lagi bertemu dengan suaminya selagi hidup, dia memakai gaun dengan warna kesukaan suaminya, dengan mawar di rambut dan mebuat film pendek di Kedubes Inggris, untuk diseludupkan. Tetapi film ini tidak pernah dilihat Michael, suaminya; karena hanya bisa sampai di Inggris dua hari setelah Michael meninggal, cerita ini dikisahkan oleh Rebecca Frayn, penulis dan pembuat  film“Lady”  film yang merupakan kisah dari Suu Kyi.

Menang PEMILU dan melakukan tour.

Setelah kebebasannya di 2010, Suu Kyi memulai kunjungan ke daerah-daerah yang merupakan basis dari partainya. Dia semakin disorot oleh media, terutama ketika Hillary Clinton (MENLU AS) mengunjunginya di bulan Desember 2011. Kepala Negara pertama yang bertemu Suu Kyi setelah dibebaskan adalah Perdana Menteri Thailand, Anaknya, Kim; juga mengunjunginya berkali-kali, bahkan menemaninya di saat kunjungan ke daerah.

Pada 1 April 2012, partainya (NLD) memenangkan PEMILU, sehingga dia berhasil duduk menjadi anggota Majelis Rendah untuk parlemen Burma. NLD memenangkan 43 dari 45 kursi, dan kemenangan ini diakui oleh Komite Pemilihan Burma.

Pada bulan Juni 2012, Suu Kyi kemudian melakukan perjalanan 2 minggu ke Negara-negara Eropa yang memang sudah sangat menanti kedatangannya. Termasuk ke Norwegia untuk menerima secara resmi penghargaan Nobel Perdamaian, maupun menerima penghargaan dari Oxford University, tempat Suu Kyi dulu studi. Pidatonya di dua tempat ini sangat terkenal dan diliput secara luas oleh media di seluruh dunia.

Tour ini sangat berhasil menyebarkan pikiran-pikirannya dan membuatnya kembali pulang ke Burma dengan sambutan layaknya Kepala Negara.

(DL – dari berbagai sumber, a.l. Wikipedia,Fox News, Tribune, dll.) 

Photo Kegiatan

Juni 30, 2012

1. Diskusi Kemajuan & Rencana PESADA 2012/2013 serta monitoring keuangan bersama ACE (Titik Hartini & Tini), dihadiri oleh seluruh team manajemen PESADA

5. Aksi damai forum masyarakat Dairi-anti pembodohan, diikuti oleh PESADA (Perkumpulan Sada Ahmo), Petrasa, Organisasi masyarakat, Organisasi Mahasiswa, Wartawan dan LSM Lokal lainnya

2. Penabungan Di CU Pulau Pinang

6. Peserta Aksi damai ‘forum masyarakat Dairi-anti pembodohan’, yang diikuti oleh PESADA, Petrasa, Organisasi masyarakat, Organisasi Mahasiswa, Wartawan dan LSM Lokal lainnya

3. Sosialisasi CU dan Pengenalan PESADA di kampung Aur, Brigjen Katamso

7. Poto bersama pada malam budaya Jambore WCC 2012 di Jakarta

4.RAT dan Diskusi Sosialisasi CU PESADA Perempuan di CU Adil – Amplas

8. Pelatihan LFA di Jakarta (Logical Framework Analysis)

Konsultasi

Juni 30, 2012

Tanya :

Saya seorang Ibu rumah tangga, juga seorang pengusaha yang cukup aktif. Sepanjang usia perkawinan saya, saya mengalami KDRT. Saat ini saya sedang mengurus perceraian dengan suami saya. Dalam pengurusan perceraian ini, saya dibantu oleh seorang pengacara.

Pada saat proses perceraian terjadi di Pengadilan, saya baru tahu, bahwa pengacara saya telah membuat akte pernikahan palsu. Ini menurut saya, karena saat hendak membuat gugatan perceraian di Pengadilan Negeri, akte pernikahan dipegang oleh suami. Sehingga saya meminta Pengacara mengurus akte dan menyerahkan semua urusan kepadanya. Tetapi kemudian, suami mengancam saya dan menyatakan bahwa saya telah menggunakan Akte palsu, yang menurutnya dilakukan oleh pengacara saya. Saat ini saya bingung dan panik, tidak tahu siapa yang bisa  saya percaya. Juga segan bertanya kepada Pengacara, khawatir dia marah, menuduh saya tidak mempercayainya. Dan saya langsung percaya saja dengan pengacara saya dan ketika pengacara mengatakan akan ‘mengurus semuanya saya hanya bisa pasrah’. Saya mohon nasehat, apa yang bisa saya lakukan? Saya khawatir ancaman suami betul, sementara saya juga tidak ingin ada masalah dengan Pengacara saya.

Jawab :

Kami bisa mengerti  kekhawatiran dan kebingungan Ibu. Dalam banyak kasus seperti ini, banyak perempuan memang tidak memahami bagaimana sebenarnya hubungan dengan Pengacara. Hal-hal apa yang harus diketahui sebelum menanda-tangani, prinsip-prinsip yang harus disepakati bersama, dan sebagainya. Ada juga perempuan yang tidak mau tahu, menyerahkan semuanya ke tangan Pengacara. Yang penting bayar. Bisa karena tidak mau repot, terlalu lelah memikirkannya, dsb.

Biasanya jika kita sudah memberikan kuasa hukum kepada seorang pengacara, maka apapun tindakan yang diambil oleh pengacara tersebut harus diberitahukan kepada Ibu. Meskipun demikian, apapun yang terjadi saat ini; kami harap tidak membuat Ibu menjadi putus harapan atas kasus ini.

Pada dasarnya setiap pasangan harus mencatatkan diri ke Catatan Sipil, agar perkawinan dicatat oleh Negara. Akte sipil ini menjadi dokumen sah yang menyatakan bahwa Ibu sudah menikah. Ada dua copy yang diberikan oleh Kantor Catatan sipil, satu copy untuk suami, dan satu untuk isteri.

Sering sekali perempuan tidak memahami ini, atau menyerahkan semua dokumen ke suami. Dalam hal ini Kami ingatkan kesemua pembaca, agar selalu menyimpan copy dari setiap dokumen, bahkan kalau bisa, dokumen asli di scan dan disimpan di computer. Semua dokumen, termasuk harta.

Nah, dalam hal akte sipil yang ibu tanyakan, setiap kantor Catatan Sipil pasti punya catatan atas semua akte yang dia keluarkan. Oleh karena itu, biasanya perempuan bisa meminta salinan Akte tersebut ke Kantor di atas. Apabila ini sulit, laporkan saja ke Polisi bahwa Ibu kehilangan akte. Surat pernyataan hilang akan dibuat oleh Polisi, dan ini bisa menjadi pegangan Ibu untuk meminta copy dokumen dari Kantor Catatan Sipil.

Sehubungan dengan tuduhan Suami dan kecurigaan Ibu akan kemungkinan Akte palsu; saran kami, jangan panik. Suami biasanya akan melakukan apapun untuk membuat isteri yang menggugat cerai panik, sedih, bingung dsb. Belum tentu akte tersebut palsu. Selain itu, Ibu berhak untuk bertanya kepada pengacara apakah Akte tersebut adalah copy yang lama, ataukah dibuat baru. Apakah itu disebut palsu atau tidak. Sebagai seorang Pengacara, mestinya hal tersebut tidak dilakukan, terlalu beresiko. Paling tidak, Ibu minta saja copy dari Akte tersebut dan minta pandangan dari seseorang yang mengerti hukum untuk mengeceknya. Bisa juga dengan meminta orang yang Ibu percaya untuk mengecek ke Kantor Catatan Sipil tempat di mana Akte ibu yang asli dikeluarkan. Mudah-mudahan akte itu adalah salinan dari yang lama. Bila ternyata palsu, memang urusan bisa panjang, tetapi tidak otomatis berarti gugatan cerai Ibu akan batal atau gagal. Ada banyak bukti yang lain yang bisa Ibu ajukan, seperti surat dari Gereja, saksi pada saat pesta kawin, dll. Sementara urusan tuduhan pemalsuan dapat dihadapi kemudian.

Ibu jangan khawatir. Yang mana Ibu prioritaskan, itu dulu yang dipikirkan; dan tetap optimis. Kami harap masalah ini bisa selesai dengan tuntas. Bila Ibu membutuhkan bantuan kami, silahkan menghubungi nomor kantor atau hotline di bawah ini. Semoga berhasil dan belajar dari proses kasus ini. (LL/DL)

Dari Kegiatan Kita Juni 2012

Juni 30, 2012

Wil.Medan

♀   01, Rapat bulanan PESADA Medan, dihadiri seluruh staff ( 8 perempuan & 1 laki-laki) Wilayah Medan dan WCC Sinceritas

♀   05, Penabungan di Kelpum Paris di fasilitasi oleh Wenny Sitepu

♀   05, Diskusi pengenalan Gender dan kekerasan dalam pacaran di SMK I Gunung Sitoli difasilitasi oleh Dewi Hairani

♀   06, Diskusi Keuangan dengan ACE (Tini) serta Diskusi mengenai progress PESADA (Titik Hartini), bersama Rony S. & Dina Lt.

♀   Rapat Mananjemen di Sidikalang diikuti oleh Dina Lumban Tobing dan Kholida Lubis

♀  07, Diskusi berseri kekerasan dalam pacaran dan aspek hukum di SMA 3 difasilitasi oleh Dewi Hairani

♀  09, Diskusi kenakalan Remaja dan Gender di Gereja GBI Nias difasilitasi oleh Dewi Hairani

♀  15, Diskusi Aktivis Perempuan & Jaringan tentang Revisi UU PEMILU 2008. Dihadiri oleh 14 perempuan dan 1 laki-laki, dengan nara sumber: Nurlela Johan (KPU SUMUT) dan fasilitator: Dina Lt. & Ronald S.

♀   15 Dskusi bulanan di CU Lembah dan CU Jati difasilitasi oleh Wenny Sitepu

♀   18-23, Pelatihan LFA (Logical Framework Analysis) di Jakarta diikuti oleh Dewi Hairani

♀   21-25, Jass Sea di Kamboja, diikuti oleh Dina Lumban Tobing

♀    22, RAT CU Adil difasilitasi oleh Wenny Sitepu, Elpina Sipayung dan Kholida Lubis

♀    25, Diskusi dasar CU di CU Pulau pinang difasilitasi oleh Wenny Sitepu, Rastiba dan Rouli Manurung

♀    26, Diskusi bulanan di CU Usaha Maju difasilitasi oleh Wenny Sitepu, Rastiba dan Rouli Manurung

♀    27, Diskusi bulanan di CU Seroja difasilitasi oleh Wenny Sitepu

♀    28-30, Jambore WCC 2012 di Jakarta diikuti oleh Dewi Hairani

♀    29,  Diskusi Implementasi Program ICCO di Sidikalang diikuti oleh Dina Lumban Tobing, Kholida Lubis

 

Wil.Sidikalang :

 Pakpak Bharat

♀  07 (pagi), Kunjungan ACE (Titik Hartini & Tini) ke CU Imoia, Sukarame; mendiskusikan kemajuan anggota CU dan berbagai issue perempuan. Dihadiri oleh Mei (SL) dan 25 anggota CU.

♀   5  Diskusi bulanan di CU Sukarame difasilitasi oleh Mei Siagian

♀  10 Diskusi bulanan di CU Traju di fasilitasi oleh Mei Siagian

♀  14 Rapat Ortu di TBAA Jambu Mbellang difasilitasi oleh Dinta Solin

♀  15 Diskusi Reguler pengasuh  TBAA di Sekretariat PESADA Salak  difasilitasi oleh Dinta Solin

♀  17 Diskusi di CU Jambu Rea difasilitasi oleh Mei Siagian dan rapat TBAA Tinada difasilitasi oleh Dinta Solin

♀  18 Rapat pengurus jarpuk di fasilitasi oleh Dinta solin dan Mei Siagian

♀   22 Diskusi Reguler untuk pengasuh TBAA difasilitasi oleh Dinta Solin

♀   24 Diskusi bulanan CU Kecupak di fasilitasi Mei Siagian

♀   25 Diskusi tentang Monyet yang mengganggu pertanian narasumber dari Dinas kehutanan  di Sukarame” difasilitasi oleh Dinta Solin dan Mei Siagian

♀  26 Diskusi Jaringan CU Kec.Salak  sekitarnya Peningkatan pelayanan kesehatan Reproduksi perempuan dan anak di RSU Salak  di sekretariat  Salak, narasumber Dr.Rahim Lubis  difasilitasi oleh Dinta Solin dan Mei Siagian

 

Dairi:

♀ 01 (pagi) – 12 (siang), mengikuti aksi damai ‘forum masyarakat Dairi-anti pembodohan. Isu: menolak kebijakan anggaran bupati, plesiran kepala desa se kab. Dairi dan plesiran tokoh-tokoh Agama, diikuti oleh Perkumpulan Sada Ahmo (PESADA), diikuti oleh PESADA (Perkumpulan Sada Ahmo), Petrasa, Organisasi masyarakat, Organisasi Mahasiswa, Wartawan

♀ 07 (siang) – 08 (pagi), Diskusi Kemajuan & Rencana PESADA 2012/2013 serta monitoring keuangan bersama ACE (Titik Hartini & Tini), dihadiri oleh seluruh team manajemen PESADA (5 perempuan 2 laki-laki).

♀  8, Audiensi ke DPRD tentang persyaratan pengurusan akte lahir penetapan pengadilan di fasilitasi Ronal, Mei dan pengurus SPUK

♀ 11, Diskusi bulanan di CU Buntu Raja difasilitasi oleh Dinta Solin

♀ 12 Audiensi ke Puskesmas Sitinjo tentang diskusi Kespro dan Pemkes untuk dampingan PPS

♀  12 – 16 Juni Monitoring CUB Nias difasilitasi oleh Ramida Sinaga dan Elpina Sipayung

♀  13 Kunjungan kredit macet Batu horbo di fasilitasi oleh Dinta Solin dan Herli Sipayung dan Penabungan CU Paropo

♀  15 Dialog tentang Undang-undang PEMILU di Kantor Medan  di ikuti oleh Ronald Silalahi dan Mei Siagian

♀  18 -22 Pertemuan dengan Dinas Koperasi oleh Elpina Sipayung

♀  19 Diskusi jaringan Kecamatan Silalahi tentang Keramba dan UU Pemilu 2014 di fasilitasi Ronald dan Mei Siagian

♀  24 KPG (Kursus Penyadaran Gender) untuk suami anggota CU Sibolga difasilitasi oleh Ronald Silalahi

♀   26 Diskusi jaringan Kecamatan Si empat Nempu tentang Manfaat KUNKER dan UU pemilu 2014 difasilitasi oleh Ronald Silalahi dan Herly Sipayung

♀ 27 Diskusi Jaringan Kecamatan Silima Pungga Pungga tentang issu perkembangan Pertambangan dan peran perempuan dalam menjaga SDA, narasumber dari LSM PDPK  dan UU pemilu 2014 Paronggil di fasilitasi oleh Dinta Solin dan Ganda Siregar

♀  26-30 ke Yayasan bunga bangsa dikelompok perempuan berbari jaya, difasilitasi oleh Elpina Sipayung

♀  28, Diskusi Jaringan kecamatan sumbul tentang manfaat KUNKER dan UU pemilu 2014 difasilitasi oleh Ronald Silalahi dan Ganda Maria

♀ 29,  Diskusi Implementasi Program ICCO di ikuti oleh Ramida Sinaga, Ronald Silalahi, Dinta Solin, Herli Sipayung, Maringan Pardede, Mei Siagian, Ganda Siregar.

 

Humbang Hasundutan:

♀   10, Diskusi bulanan di CU Aek Sibundong dan  CU Aek Natio difasilitasi oleh Ganda Siregar

♀   11, Diskusi bulanan di CU Sejahtera difasilitasi oleh Ganda Siregar

♀   17, Diskusi bulanan di CU Damai di fasilitasi oleh Ganda Siregar

♀   21, Rapat Jarpuk di fasiliasi Ronald dan Ganda Siregar

♀   24, Percepatan RAT CU Huta bagasan oleh Ganda Siregar

♀   30, Percepatan RAT CU Martabe oleh Ganda Siregar

 

Wil.Nias

  1. A.    Pulau Nias

♀ 01, Kursus Dasar CU difasilitasi oleh Berliana Purba

♀ 04, Sosialisasi CU di desa Haoni Lausa Kec. Bawolato difasilitasi oleh Berliana Purba

♀ 05, Diskusi pertanian di Unit Fondro’ou difasilitasi oleh Berliana Purba

♀ 07, Diskusi Kredit Macet di unit Fanolo peserta 45 org di Fasilitasi Oleh Nasiba Hulu dan Ferima Gulo

♀ 10, Kursus Dasar CU di Unit Samaeri peserta 40 org di fasilitasi oleh Nasiba Hulu dan ferima Gulo

♀ 13, Kursus Dasar CU di Unit Haga Mazino peserta 40 org di fasilitasi oleh Nasiba Hulu dan ferima Gulo

♀ 15, Kursus Dasar CU di Unit Orahua peserta 27 orang di Fasilitasi oleh Dian Zebua dan Agustriana Halawa

♀ 17, Pembentukan Unit Baru di Desa Sifalaete Humene dgn nama Unit Sanolo peserta 25 orang di Fasilitasi oleh nasiba dan Deniria Zebua

♀ 20, Pembentukan Unit Baru di Desa Lolomboli Nalua dengan nama unit Fa’aurida Peserta 11 orang di Fasilitasi oleh Nasiba,Yusnidar dan Ferima Gulo

♀ 21, Diskusi tentang Pertanian di Unit Fondrou’o peserta 26 orang di Fasilitasi oleh Nasiba,Yusnidar

♀ 24, Sosialisasi CU di Desa Haoni Lauso Bawolato peserta 36 orang di Fasilitasi Oleh Nasiba Hulu, Idam Lase dan Ferima Gulo

TAPTENG

♀ 20, Penabungan di CU Marsada Roha difasilitasi oleh Serni Harita

♀ 22, Penabungan di CU Pandan difasilitasi oleh Serni Harita

♀     Sosialisasi CU dan program PESADA untuk masyarakat Pandan TAPTENG difasilitasi oleh Berliana Silaban

♀  24, KPG (Kursus Penyadaran Gender) untuk suami anggota CU Sibolga difasilitasi oleh Ronald Silalahi

♀ 24, Sosialisasi PESADA dan penanganan kasus berbasis komunitas oleh masyarakat Aek tolang pandan difasilitasi oleh Berlianan Purba  dan Ronald Silalahi

♀ 25, Pertemuan Kelpum di Kantor Sibolga difasilitasi Oleh Serni Harita

♀ 27, RAT di CU Saiyo Sakato difasilitasi oleh Serni Harita

♀ 29, Diskusi Implementasi Program ICCO diikuti oleh Berliana Purba dan Serni Harita


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.