Catatan Lapangan dari Rangkaian Pendidikan Politik Perempuan Menjelang PILGUBSU

Berawal dari Pendidikan Politik SPUK

Negara sesungguhnya tercipta dari rakyat untuk mensejahterakan rakyat, namun kami belajar dari kenyataan, dan ternyata berbeda. Kami mengerti apa itu demokrasi,  “ dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat”.  Sebuah kata yang sudah sangat terkenal dari kalangan elit hingga ekonomi sulit. Salah satu ciri utamanya adalah Pemilu.

Empat puluh lebih kaum ibu pengurus dan anggota SPUK dari pelosok desa berkumpul di ruang pertemuan Pusat Pendidikan Perempuan dan Rakyat (PUSDIPRA) PESADA Sidikalang. Kami mencoba untuk mendiskusikan perkembangan dan situasi politik dari rumah, desa hingga kondisi negara. Semua berawal dari pemahaman demokrasi itu tadi. Dengan model dialog sederhana, kami mengurai struktur negara. Bahwa negara lahir dari rakyat dan seharusnya untuk rakyat. Dalam pembelajaran itu, kami melihat bahwa ternyata yang kami alami, negara ini dikuasai oleh sekelompok pengusaha, preman, OKP,ormas-ormas fundamentalis, mafia, tokoh adat dan tokoh agama.

Di balik kekuasaan legal pemerintah; mereka ada, menguasai sistem dan praktek bernegara ini, dan bagi rakyat terasa bagaikan pusaran setan. Tidak ada yang berpihak kepada rakyat minoritas, marginal (kaum pinggiran), dan perempuan.

PILGUBSU, CAGUBSU – SIAPA DIA????

Pemilihan Gubernur Sumatra Utara menjadi topik penting pembicara kami. Mengenali CAGUBSU dari visi dan misi masing-masing. Terlihat jelas tidak satupun calon yang mengagendakan kesetaraan gender. Dan diantara CAGUBSU tersebut ada yang terkait korupsi dan  konon, poligami. Kami tidak perlu mengusut soal poligami, kami tahu bahwa masalah itu ada, secara sah atau tidak…itu tidak penting lagi.

Ketika ditanya mengenai pilihan, dari 44 peserta, ada 4 orang yang memilih untuk GOLPUT yang lainnya masih tetap ingin memilih. “Saya tidak ikut memilih, karena tidak ada yang memperdulikan perempuan,” ungkap ketua SPUk Dairi “Saya tidak memilih karena tidak kenal.”  tambah ibu yang lain. Perempuan terkesan menyerah dan putus asa terhadap kotornya kondisi perpolitikan negara ini. Demokrasi ecek-ecek, demokrasi yang dibeli oleh penggarap; kata mereka dengan bersungut-sungut. Miris rasanya…karena ketika ditanya 40 orang apa alasan memilih; mereka mengemukakan marga dan agama menjadi faktor utama, ditambah kalau suami atau keluarga menjadi tim sukses calon.

Serba salah…

“Siapa calon yang kuat ibu?” Tanya fasilitator. “Si Ganteng, katanya kami akan diberi pupuk dan ternak ayam. Besok kami disuruh membuat proposal, aku mau pulang lebih cepat…kami perlu itu…” ungkap seorang ibu yang menggunakan baju muslim, dengan polos tanpa ekspressi. “Kalau diterima salah, kalau tidak diterima juga salah, bisa jadi berantam, karena biasanya orang dekat yang memberi amplop, nanti kita dianggap tidak mau kerjasama dan sok.” Ucap ibu lainnya.

Foto Februari 10

Ibu-ibu itu sesungguhnya kebingungan dan tidak punya pilihan  karena kurangnya pengenalan terhadap calon. Dasar/alasan memilih tidak jelas, sehingga sangat mudah terbeli oleh sebuah kaos, kalender, amplop 20ribuan-300ribuan dan janji kosong. Pemilu hakikatnya adalah pesta rakyat, di sana bukti kedaulatan rakyat dalam menentukan pemimpin. Tetapi sistim yang kotor bagai kubangan lumpur, membuat perempuan bingung dan memilih tidak mau untuk ikut mandi lumpur politik. Keputusasaan politik telah terjadi, karena sistem yang kotor dan kuatnya politik uang serta pengalaman traumatic caleg-caleg perempuan.

Apa kata CAGUBSU???

Pada tanggal 11 Januari 2013 yang lalu kami mengadakan dialog dengan CAGUBSU yang dihadiri oleh Chairuman Harahap dan Soekirman (Cawagubsu pasangan Gus Irawan). Pada saat kami tanyakan tentang upaya Cagubsu /Cawagubsu untuk memberantas korupsi, jawaban yang diberikan tidak tegas, tidak tersirat adanya komitmen untuk memberantas korupsi. Calon-calon tersebut justru seperti cari pasal dan menghumorkan perjuangan perempuan  untuk menghapuskan praktek poligami ilegal apalagi legal (diizinkan secara hukum). Yang kami dengar justru nasehat supaya perempuan tetap ingat kodrat domestiknya, dan berjalan di koridor agama, seperti diungkapkan salah satu Cagubsu. Nasehat untuk perempuan, tapi tidak pernah disebut untuk laki-laki… Begitu juga dengan dialog pada tanggal 14 Februari yang dihadiri CAGUBSU Gus Irawan Pasaribu, 3 Cawagubsu (Soekirman, Jumiran, Tengku Erry), dan Ketua Tim sukses Chairuman. Mereka belum ada yang secara eksplisit menyampaikan komitmen untuk perjuangan perempuan, hanya melihat pendekatan ekonomi bagi perempuan sebagai alat peningkatan ekonomi keluarga.

Ini berarti, Perempuan hanya dipandang sebagai massa yang sangat mudah diarahkan menjadi kantong suara calon. Perempuan tidak mendapat pendidikan politik karena wadah belajar politik masyarakat ada di kedai-kedai, arena para laki-laki.

Kondisi Di Lapangan – Tidak Peduli Lagi???

Memasuki desa Batu Gajah di penghujung perbatasan kabupaten Humbahas dengan Pakpak Bharat, sebuah spanduk salah satu Cagubsu menyambut. Tetapi dalam diskusi, ketika ditanya siapa GUBSU, mereka justru menyebut Sihombing (Bupati Humbahas) dan Efendi Simbolon (Cagubsu). Yang lain kebanyakan diam dan tidak tahu. Tidak tahu siapa  Cagubsu, dan berapa Cagubsu 2013.

Berbeda dengan CU Sejahtera di Desa Pakkat Toruan/Humbang Hasundutan. Mereka tahu persis siapa calon dan sudah memiliki calon yang akan dipilih di hati masing-masing. Dan serunya, ketika salah satu anggota menolak isu Poligami salah satu Cagubsu; seorang Ibu berkata: “Tidak ada itu, aku kenal betul dengannya, dia family, jangan sebarkan isu itu” katanya dengan sigap kepadaku.

Ketika topik yang sama kami bahas di CU Marsada (Kolang-Sibolga), mereka belum ada pilihan. Ada yang secara terbuka mengatakan “Siapa yang memberi lebih banyak, itulah yang dipilih.” Ibu lain menambahkan, “Cuma satunya Kristen disana, itulah yang kupilih.” Mereka tidak peduli lagi, walaupun calon itu punya jejak rekam yang kurang baik. Mereka semua seakan dilanda Apatisme/tidak mau tahu sudah terjadi.Sebagian menjadi opportunis/mengambil kesempatan… “Kalau diberi, yah memilih; kalau tidak, yah tidak usah. Karena siapapun itu, yang memberi atau tidak mereka pasti korupsi semua” ucap seorang ibu.

Akhirnya, Golput terkadang menjadi pilihan kritis, ketika pilihan yang ada memang tidak pantas dipilih. Haruslah diingat, bahwa Perempuan tidak boleh netral apalagi apatis, tetapi harus berpihak kepada calon yang secara konkrit menjawab kepentingan perempuan dan kesetaraan gender dalam agendanya. (MS/DL)

About these ads
Explore posts in the same categories: Seputar Perempuan

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: