Dari Redaksi

Ditulis Januari 29, 2015 oleh suaraperempuanpesada
Kategori: Tak Berkategori

Njuah-njuah, Horas, Mejuah-juah, Ya’ahowu

dan selamat bertemu kembali.

 

Di bulan Desember, Hari AIDS menjadi pembuka kegiatan, di samping kegiatan lainnya sesuai rencana perayaan 16 Hari Aktivisme. Bagaimana agar kita lebih peka terhadap masalah HIV AIDS, juga disajikan oleh salah satu staff lapang di edisi ini.

Selain itu, kami menampilkan 4 perempuan istimewa yang berhasil menjadi Rektor di Indonesia. Ternyata di dunia pendidikan tinggi, masalah gender masih mewarnai kepemimpinan di institusi tersebut.

Memahami anak down syndrome dan berbagai jenis anak berkebutuhan khusus, juga kami sajikan. Kasus KDRT yang ditangani Sinceritas juga kami masukkan di bagian Konsultasi, agar menjadi bahan diskusi dan pelajaran bagi para pembaca.

Selamat membaca,  DL

Iklan

Thema Kita

Ditulis Januari 29, 2015 oleh suaraperempuanpesada
Kategori: Tak Berkategori

Pergerakan Perempuan Lebih Tua dari umur NKRI
Tetapi Kekerasan Terhadap Perempuan tetap Tinggi!
(Catatan Akhir Tahun PESADA 2014)
No. 121/C.9/KKCB/XII/2014

Hari Ibu pada hakekatnya adalah hari pergerakan perempuan Indonesia, yang berjuang untuk kesatuan organisasi perempuan Indonesia di tahun 1928. Pergerakan perempuan telah dimulai, jauh sebelum Indonesia merdeka ; tetapi sejauh mana pergerakan perempuan berimbas ke penurunan Kekerasan Terhadap Perempuan/KTP, kelihatannya masih membutuhkan waktu panjang.

WCC Sinceritas – PESADA mencatat betapa jumlah perempuan yang menjadi korban Kekerasan Terhadap Perempuan semakin meningkat. Dalam 3 tahun terakhir, WCC Siceritas – PESADA memperhatikan angka korban berada di sekitar 100 perempuan yang ditangani langsung per tahun. Tetapi di akhir tahun 2014, jumlah korban yang ditangani melonjak ke angka 168. Angka tertinggi adalah 84 korban KDRT (50%), disusul dengan 43 kasus kekerasan seksual (26%). Korban yang ditangani sebagian besar berasal dari wilayah Dairi & Pakpak Bharat yaitu 70 kasus (42%), dan wilayah Medan sekitarnya 45 kasus (27%). Selebihnya adalah dari Nias, Humbang Hasundutan dan Tapanuli Tengah.

 WCC Sinceritas-PESADA juga mengamati bahwa target kekerasan seksua di 2014 adalah anak-anak perempuan dan anak perempuan berkebutuhan khusus. Kesulitan mendapat keadilan bagi korban adalah kurangnya saksi, dan untuk anak berkebutuhan khusus, masalah saksi ahli. Selain itu, masalah trafficking menjadi kasus yang paling sulit untuk ditangani. Dalam dua tahun terakhir, korban yang ditangani berasal dari NTT; dan kesulitan berada pada mata rantai pihak yang memperdagangkan serta kecenderungan korban untuk tidak ingin kembali ke tempat asal (rumah). Kemiskinan dan berbagai masalah khas berbasis gender merupakan alasan yang membuat korban pulang dengan enggan, atau melarikan diri ketika kasus masih ditangani.

 Untuk itu, menutup tahun 2014, WCC Sinceritas – PESADA menyerukan kepada semua pihak, terutama kepada perempuan untuk menggunakan semangat persatuan dan kesatuan perempuan yang telah diawali sejak 1928. Kekuatan yang dibangun untuk bersama memerangi segala bentuk Kekerasan Terhadap Perempuan, khususnya KDRT, Kekerasan Seksual (terhadap Anak Perempuan dan yang berkebutuhan khusus) serta Traficking.

Perempuan adalah Ibu yang harus dihormati, yang kita rayakan di setiap tanggal 22 Desember. Selamat menghitung mundur hari-hari di 2014, menuju perbaikan di tahun 2015….

Medan, 22 Desember 2014.

WCC Sinceritas – PESADA

Kontak: 061 – 8361102/ 081370133528

Mengenal Para Rektor Perempuan di Indonesia

Ditulis Januari 29, 2015 oleh suaraperempuanpesada
Kategori: Tak Berkategori

rektor

(ki-ka) Badia Perizade, Tian Belawati, Dwikorita Karnawati, Dwia Aries Tina.

Belum banyak perempuan yang memimpin institusi perguruan tinggi Indonesia. Di lingkup perguruan tinggi negeri (PTN) di Indonesia saja, baru empat perempuan yang menjadi rektor.

Berikut profil rektor perempuan di Indonesia :

1. DR. Hj. Badia Perizade MBA, Rektor Universitas Sriwijaya, Sumatera Selatan

Sebelum memimpin Universitas Sriwijaya (Unsri), Badia merupakan perempuan pertama yang menduduki jabatan Dekan Fakultas Ekonomi di kampus tersebut. Tangan dingin Badia membuatnya memimpin Unsri selama dua periode.

Selama masa kepemimpinannya, Badia berhasil membawa Unsri masuk dalam jajaran 50 universitas terbaik nasional versi Ditjen Dikti Kemendikbud serta pemeringkatan webometrics 2009 dan 2010. Unsri juga berhasil meraih peringkat tiga nasional paten Hak atas Kekayaan Intelektual (HKI) antarperguruan tinggi, juara regional OSN 2010, serta peringkat kedua Indonesia Student Mining Competition (ISMC) 2009 dan 2010. Selain itu, UNsri juga menjadi Koordinator Riset Energi Nasional – Rusnas PEBT.

2. Prof. Ir. Tian Belawati. M.Ed., Ph.D., rektor Universitas Terbuka, Jakarta

Wanita kelahiran Sukabumi, 1 April 1962 ini gigih dan ulet dalam memajukan Universitas Terbuka (UT) dan pendidikan jarak jauh. Perjuangan Tian pun diakui dunia internasional melalui penunjukan dirinya sebagai presiden International Council for Open and Disstance Education (ICDE). Tian juga merupakan wanita Asia pertama yang memimpin organisasi bagi para pemerhati dan pelaksana pendidikan jarak jauh internasional.

Alumnus Institut Pertanian Bogor (IPB) ini merintis karier di UT sejak 1985. Sejak itu pulalah dia mencurahkan semua upayanya untuk menjadikan UT sebagai rujukan pendidikan jarak jauh di Tanah Air maupun dunia.

3. Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc., PhD, Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta

Ketika Rektor UGM Prof. Dr. Pratikno, M.Soc.Sc., ditunjuk sebagai Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) dalam Kabinet Kerja, civitas akademika UGM pun memilih Dwikorita Karnawati sebagai penggantinya.

Rita, demikian dia biasa disapa, menjadi rektor perempuan pertama di UGM dan akan memimpin hingga 2017. Sebelumnya, dia menjabat sebagai wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Alumni.

4. Prof Dr Dwia Aries Tina, MA, Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar

Dwia Aries Tina menggantikan rektor Unhas sebelumnya, Idrus Patturusi. Dwia akan memimpin kampus di Bumi Celebes tersebut untuk periode 2014-2018. Guru Besar Sosiologi ini merupakan perempuan pertama yang menduduki tampuk pimpinan tertinggi di Unhas.

Sejak 1988, Dwia sudah mengabdi di Unhas. Dia memegang dua gelar sarjana yaitu S-1 Sosiologi di Universitas Airlangga, Surabaya (1982-1985), dan S-1 Sosiologi di Unhas (1985-1986). Gelar master diraihnya dari Ateneo de Manila University, Filipina dan gelar doktor diraihnya dari Unhas.

Pada 2006, Dwia menduduki jabatan sebagai Wakil Rektor IV. Sebelumnya, dia merupakan Sekretaris Program Studi Sosiologi pada Program Pascasarjana Unhas (2000–2002), dan pada saat bersamaan juga dipercaya sebagai Koordinator Divisi Resolusi Konflik di Pusat Studi HAM Unhas (2001–2002).

Selain keempat sosok tadi, ada juga perempuan yang memimpin berbagai perguruan tinggi swasta (PTS). Di antara mereka adalah Rektor Universitas Muslim Indonesia (UMI), Makassar, Prof Dr Masrurah Mokhtar; Rektor Universitas Islam Makassar (UIM) Dr Majdah M Zain; Rektor Universitas Veteran Republik Indonesia (UVRI), Makassar, Dr Niniek F Lantara; Rektor Universitas Pepabri, Makassar, Dr Apiaty Kamaluddin Amin Syam dan Rektor Universitas Sawerigading, Makassar, Prof Dr A Siti Melantik Rompegading.

 (dari news okezone.com dan www.Jurnal perempuan.org)

Manajemen Info PESADA

Ditulis Januari 29, 2015 oleh suaraperempuanpesada
Kategori: Tak Berkategori

Pengalaman menjelaskan  AIDS dan HIV
Untuk orang-orang disekitar kita
(Tulisan dari lapangan oleh Ganda Siregar)

Penentuan & Peringatan Hari AIDS

Tanggal 1 Desember diperingati oleh seluruh dunia sebagai hari HIV/AIDS  Pencetus pertama kali tanggal 1 Desember sebagai hari AIDS sedunia adalah James DW Bunn dan Thomas Netter pada bulan Agustus  1987. Ide yang tercetus dari keduanya itu disampaikanlah kepada Direktur Program AIDS Global (kini UNAIDS), Dr. Jonathan Mann, DR.Mann menyetujui dan menetapkan setiap tanggal 1 Desember sebagai hari AIDS sedunia. Kenapa ditetapkan tanggal 1 Desember?, Menurutnya salah satunya awal Desember mendekati liburan Natal dan tahun baru,  dan tanggal pertama di bulan terakhir adalah waktu yang mudah diingat.

PESADA juga merayakan hari HIV /AIDS di Medan , tahun ini dirayakan di pendopo lapangan Merdeka Medan  dengan peserta ada dari dampingan, jurnalis dan gabungan para aktivis se SUMUT, dan ada juga yang mereka yang pengidap HIV tetapi sayang mereka tidak bisa lama karena tingkat daya tahan tubuh mereka yang lemah.

Thema hari AIDS Dunia tahun ini adalah “ Masalah spesifik ODHA perempuan  dengan berfokus pada anak yang positif, yakni issu anak dan perlindungan Negara,  diskusinya pada saat itu yaitu dimulai dari pemahaman peserta mengenai perbedaan seks dan seksualitas dan orientasi seksualitas serta organ produksi yang difasilitasi oleh Koordinator Perayaan.

Memahami tubuh dan istilah

Membciarakan HIV dan AIDS pada dasarnya adalah membicarakan tubuh, organ tubuh, dan seluruh aspek-aspek yang berhubungan dengan tubuh tersebut. Oleh karena itu, ada berbagai istilah yang harus dipahami lebih dahulu, untuk bisa melihat masalah-masalah dalam penularan HIV AIDS.

textboxSering istilah ini rancu dipahami dan digunakan dalam membicarakan HIV AIDS, sehingga dapat menimbulkan menimbulkan kesalah-pahaman, bahkan prasangka social.

Perempuan sebagai ODHA
Kenapa kita berfokus kemasalah ODHA perempuan, karena perempuan rentan sekali terhadap HIV  Penderita perempuan yang paling banyak terinfeksi HIV/AIDS  adalah ibu rumah tangga. Mereka tertular dari  suaminya yang diduga terbiasa melakukan hubungan  seks berisiko (tanpa kondom),  selain dengan pasangannya sendiri (istri).   ”Parahnya lagi, laki-laki yang terinfeksi ini tidak mau membuka diri kepada keluarganya apalagi memeriksakan dirinya.  Karena kalau berterus terang mereka takut akan ditinggalkan istrinya,” Ini kalimat seorang aktivis yang peduli terhadap ODHA perempuan

Dokter Juli sebagai salah satu nara sumber yang juga memfasilitasi diskusi, mengatakan cara yang paling efektif untuk mencegah penyebaran HIV adalah penggunaan kondom saat berhubungan sex. Selain itu melakukan tes secara berkala terhadap penyakit menular akibat hubungan seks,

Selain itu, kita perlu tahu bagaimana HIV itu menular. Penularan HIV bukan karena beraktivitas bersama orang yang di tubuhnya ada HIV.    Penularan HIV bisa  lewat transfusi darah yang telah tercemar HIV, pemakaian alat suntik bersama-sama, berhubungan intim, bisa lewat cairan sperma dan cairan vagina, dll. Bagi ibu yang terkena HIV juga selalu mungkin menularkan ke bayi lewat air susu.

Demikian tulisan ini yang yang bertujuan untuk ikut memperingati hari AIDS sedunia. Semoga informasi ini bisa menambah pengetahuan sehingga kita tidak perlu kuatir jika di pergaulan sehari-hari ada orang yang terkena HIV. Sesungguhnya orang yang terkena HIV perlu dukungan dari kita dan bukannya malah di hina dan dikucilkan (G.S)

Advokasi Anak

Ditulis Januari 29, 2015 oleh suaraperempuanpesada
Kategori: Tak Berkategori

DOWN SYNDROME TIDAK SAMA DENGAN IDIOT

Teti Ichsan M.Si ( Peneliti dan orang tua  dari anak  Down Syndrome)

Memahami Arti Down Syndrome

Bagi orang tua atau keluarga yang memiliki anak  down syndrome, komentar seperti ini masih sering terdengar di telinga kita : “ Ooooh….ibu,bapak atau keluarga yang memiliki anak dengan wajah serupa itu lho ya…… yang idiot ”. Miris rasanya , meskipun dikatakan  dengan nada biasa-biasa saja namun tetap membuat perasaan orang tua tidak  nyaman. Gerah, jengah dan  terganggu “idiot” artinya sama dengan “tolol” atau “bego” atau bisa dikatakan   “dungu”.  Sebutan tersebut memiliki  arti  bahwa orang tersebut tidak memiliki kemampuan apa-apa dalam hal apapun.

Definisi idiot : taraf (tingkat) kecerdasan berpikir yang sangat rendah (IQ lebih kurang 25); daya pikir yang lemah sekali (nomina). Sementara karakteristik  intelektual individu Down  sydnrome  diidentifikasi berada pada kelompok mental retarded moderate sampai dengan IQ 70.

Dalam teori Multiple Intelligences  atau  kecerdasan majemuk  menurut Howard Gardner, kecerdasan seseorang meliputi unsur-unsur kecerdasan matematika logika, kecerdasan bahasa, kecerdasan musikal, kecerdasan visual spasial, kecerdasan kinestetik, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan naturalis. Melalui konsepnya mengenai multiple intelligences atau kecerdasan ganda ini Howard Gardner mengoreksi keterbatasan cara berpikir yang konvensional mengenai kecerdasan dari tunggal menjadi jamak.

Individu  down syndrome, dapat mencapai optimalisasi dalam unsur-unsur kecerdasan tertentu. Tidak hanya berpaku pada kecerdasan intelektual yang hanya diukur dengan menggunakan beberapa tes inteligensi yang sempit saja, atau  hanya sekedar melihat prestasi yang ditampilkan seorang peserta didik melalui ulangan maupun ujian di sekolah belaka. Kecerdasan juga menggambarkan kemampuan peserta didik pada bidang seni, spasial, olah-raga, berkomunikasi, dan cinta akan lingkungan.

Potensi Anak Down Syndrome

Howard Gardner (1993) menegaskan bahwa skala kecerdasan yang selama ini dipakai, ternyata memiliki banyak keterbatasan sehingga kurang dapat memprediksi kinerja yang sukses untuk masa depan seseorang. Seperti anak-anak pada umumnya kecerdasan dan kematangan perkembangan anak-anak Down syndrome memiliki kurva normal, kemampuan mereka sebagian besar berada pada klasifikasi kelompok Moderate ( IQ, 40-50) yaitu mampu latih, namun ada juga sebagian masuk kedalam klarifikasi Mild  mampu didik . Dan tentunya ada juga yang berada dalam kelompok Severe, yang betul-betul butuh bantuan karena mereka tidak mampu mengurus dirinya sendiri.

Namun pada kenyataannya, dengan kemampuan ( kecerdasan)  yang mereka miliki didukung dengan stimulasi yang optimal  baik dari keluarga maupun dari lingkungan sebagian dari anak Down syndrome memiliki kemampuan, diantaranya mereka memliki kemampuan minimal, seperti mereka dapat :

  • Menulis, membaca dan berhitung ,  bukankah itu termasuk  kecerdasan  dasar akademik?
  • Melukis, bukankah itu kemampuan seni?
  • Berenang, main golf, atletik, bukankah itu kecerdasan  kinestetik?
  • Memainkan alat musik seperti piano, drum, jimbe, biola, bukankan itu kecerdasan musik?
  • Bersosialiasasi menjalin hubungan dan memiliki keterampilan komunikasi didalam masyarakat.

Dari poin-poin diatas tadi memberikan gambaran kepada kita bahwa anak-anak dengan Down syndrome memiliki kemampuan minimal untuk membantu diri sendiri. Dan keterampilan-keterampilan tersebut dapat digolongkan kedalam  kecerdasan  interpersonal.  Selain itu mereka memiliki afeksi seperti rasa kasih sayang, empati yang lebih dibandingkan dengan individu pada umunya, bukankah ini kecerdasan intra personal?

Mengapa Terjadi Down Syndrome & Dukungan Yang Dibutuhkan

 Down syndrome terjadi karena adanya kelainan kromosom 21, lalu apa dampak dari kelainan kromosom tersebut terhadap perkembangan anak?  Salah satu dampak dari abnormalitas kromosom 21 adalah adanya keterbelakangan intelektual (Intellectual disability), yang erat kaitannya dengan kemampuan akademik.  Sementara kemampuan akademik bukanlah satu-satunya kecerdasan yang dimiliki oleh manusia.

Kecerdasan majemuk dapat memberikan ruang untuk dapat  berkembangnya  berbagai unsur-unsur dari  kecerdasan  tersebut. Permasalahannya sekarang  apakah kita sudah membantu dalam membuka ruang kecerdasan tersebut dengan memberikan dukungan kepada mereka dalam  memfasiltasi dengan memberikan kesempatan  dalam  mengembangkan kecerdasan teresebut?  Atau bahkan kita sendiri malah yang sudah membatasi kecerdasan anak hanya pada satu unsur atau bidang kecerdasan tertentu saja.

Padahal kita ketahui bersama bahwa  setiap anak terlahir unik mereka memiliki kelebihan dan kekurangan, begitu juga dalam hal kecerdasan. Sekalipun itu anak-anak yang memiliki Down syndrome,  tidak menutup kemungkinan mereka memiliki unsur-unsur kecerdasan di luar akademik mereka apabila dikembangkan lebih jauh dapat mencapai optimalisasi sesuai dengan kapasitas yang dimilikinya.  Optimalisasi perkembangan anak dapat mencapai maksimal selama kita memahami kemampuan mereka dan memberikan stimulasi sesuai dengan kebutuhannya. Kita masih memiliki harapan mereka dapat berkembang sesuai dengan kapasitas yang dimilikinya. Bahkan akan  terbuka bagi mereka untuk memiliki dan mencapai keterampilan pada tingkat tertentu  dan mencapai keunggulan pada bidangnya itulah yang dinamakan prestasi.

Dengan intervensi dini dan dukungan dari keluarga dan kalangan profesional yang terkait banyak anak dengan Down syndrome dapat tumbuh menjadi orang dewasa yang mandiri.  Sudah saatnya kita menghapus label atau stigma “idiot” untuk individu Down syndrome. Biarlah mereka menyandang namanya sesuai dengan sindrom yang dimilikinya yaitu  Down syndrome ( sindroma Down). Agar mereka memiliki ruang yang lebih terbuka dan  leluasa dalam mengembangkan unsur-unsur kecerdasan  dan kemajemukan yang dimilikinya  terutama diluar unsur kecerdasan akademik. Keberadaan anak-anak Down syndrome  di dalam keluarga maupun di masyarakat, kerabat, handai taulan, tetangga dekat maupun jauh, guru –guru di sekolah  dan teman-temannya. Mereka memiliki kebutuhan yang sama seperti anak-anak lain pada umumnya, yaitu kebutuhan rasa nyaman , penerimaan yang tulus, dihargai, dipahami , dicintai,  dimaknai dan diberi kesempatan. Itu yang lebih utama dan dapat membuat mereka bahagia juga  dapat menjadi  media sebagai  jalan untuk  menuju masyarakat inklusi.

Pesan Moral :

Manusia diciptakan Allah berbeda-beda, berbeda suku, Bangsa, jenis kelamin, warna kulit, sampai perbedaan dalam organ tubuh. Individu dengan Down syndrome  memiliki perbedaan dalam jumlah kromosom sehingga mempengaruhi terhadap metabolisme tubuh mereka. Kita ketahui dan menyadari semua, pada kenyataanya dari setiap anak yang lahir di dalam sebuah keluarga. Setiap anak memiliki sifat, karakter dan kepribadian yang berbeda satu sama lainnya. Begitu juga individu dengan Down syndrome, meskipun mereka memiliki karakter yang sama terutama yang dapat terlihat dengan kasat mata oleh kita dalam bentuk fisik seperti bentuk muka/ raut muka mereka yang hampir sama. Namun meskipun mereka memiliki kesamaan mereka tetap memiliki perbedaan sifat dan karakter serta kemampuan yang berbeda satu sama lainnya, itulah rahasia besar dari Yang Maha Pencipta. Saatnya kita belajar menghargai perbedaan dari anak – anak Down syndrome, untuk tercipta harmoni yang indah sebagai anugrah dari yang Maha Kuasa.

Bogor, 24  Maret 2012

Foto Kegiatan

Ditulis Januari 29, 2015 oleh suaraperempuanpesada
Kategori: Tak Berkategori

diskusi-KESPRO

Diskusi KESPRO pada perayaan hari AIDS sedunia di Lapangan Merdeka Tgl 1 Desember 2014

Clip_2

Hari Ibu :Talkshow di TVRI Tgl 22 Desember 2014)

Konsultasi

Ditulis Januari 29, 2015 oleh suaraperempuanpesada
Kategori: Tak Berkategori

Tanya:

Saya Seorang Perempuan berumur 34 tahun, dan telah mempunyai 3 orang anak. Sejak kelahiran anak pertama suami mulai kasar dan sering menganiaya. Hanya karena hal-hal kecil seperti anak menangis, tidak punya uang dsb, kesalahan sekecil apapun suami langsung memukul.

Sehari-hari saya berjualan sayur dan cabai. Hasilnya suamilah yang menerima, saya hanya diberikan sekedar untuk kebutuhan rumah tangga. Prilaku kasar suami semakin menjadi setelah mempunyai hubungan dengan perempuan lain. Suami bahkan tidak mengijinkan saya tidur dikamar dan selalu mengunci kamar.

Pada 22 Oktober 2014 saya membaca SMS dari HP suami yang isinya menyuruh agar menganiaya, meminta uang bahkan menulis kata-kata matikan saja istrimu itu, karena takut akan terjadi hal yang tidak diinginkan saya pergi dari rumah dan menumpang tidur dirumah tetangga. Keesokan harinya sekitar pukul 07.30 Wib suami datang dan meminta saya pulang, saya tidak mau dan mengatakan “aku gak mau pulang, nanti kau bunuh pulak aku”. Mendengar itu suami emosi dan menarik saya keluar, kemudian mengambil kayu dan memukul saya namun saya tangkis dan kayu mengenai tangan saya. Suami terus membabi buta dan terus memukuli saya, saya didorong dan saat saya terjatuh ke tanah suami kembali memukul saya dengan kayu broti dibagian kepala dan akibat dari pukulan itu saya mengalami luka koyak lebar dan dalam dibagian kepala. Ada beberapa tetangga yang melihat tapi mereka hanya diam saja. Setelah puas menganiaya saya suami berjalan pulang sambil berteriak dan mengatakan kepada tetangga agar jangan mau percaya pada saya bahwa saya hanya bersandiwara dan mempunyai banyak hutang. Dan saya mohon bantuan dari ibu tentang masalah Rumah tangga saya ini.

 Jawab:

Untuk Ibu M di Medan, kami cukup prihatin mendengar permasalahan yang ibu hadapi saat ini. Perlakuan yang ibu alami dari suami ibu selama bertahun-tahun disebut dengan Kekerasan Dalam rumah Tangga/KDRT. DI dalamnya termasuk kekerasan secara Fisik maupun Psikis. Dikarenakan kekerasan yang ibu alami sudah sampai ke titik yang sangat memperihatinkan dan membahayakan, kami sarankan agar ibu melaporkan suami ibu ke polsek yang terdekat. Hal tersebut juga untuk pembelajaran kepada suami ibu yang sering melakukan kekerasan dalam rumah tangga.

Perlu kami sampaikan, bahwa Negara sangat melindungi hak-hak perempuan, salah satunya adalah UU nomor 23 tahun 2004 tentng Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT), dimana ancaman hukuman bagi pelaku kekerasan dalam rumah tangga diatas lima tahun dan denda sampai dengan 45 juta rupiah. Sementara untuk kasus yang ibu alami saat ini adalah kekerasan Fisik (pasal 44) dan bila dilaporkan dan diproses sampai ke Persidangan maka ancaman hukuman untuk suami ibu dipidana antara 5 – 10 tahun atau denda 15 – 45 juta rupiah.

Ada empat jenis kekerasan dalam rumah tangga yang tercantum pada UU PKDRT tersebut, yaitu kekerasan Fisik (artinya perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit atau luka berat), kekerasan Psikis (artinya perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, tidak percaya diri), kekerasan Seksual (artinya pemaksaan hubungan seksual) dan Penelantaran Ekonomi (artinya menelantarkan orang dalam lingkup rumah tangga secara ekonomi/membatasi, melarang untuk bekerja)

Yang perlu ibu siapkan dan bawa ketika Ibu melaporkan perbuatan suami ke Polisi adalah KTP, KK, Buku Nikah atau Surat Kawin dari Catatan Sipil. Biasanya setelah melapor dengan surat pengantar dari Kepolisian, ibu dirujuk untuk dilakukan visum ke rumah sakit tersekat, dan nantinya Juru Periksa (Juper) meminta ibu untuk membawa saksi.

Hal lain yang bisa ibu lakukan yaitu dengan melapor ke Kepala Lingkungan setempat, minta saudara atau family untuk menemani ibu. Atau ibu bisa langsung datang ke LSM/ LBH terdekat atau ke PESADA. Bila ibu tidak ingin melaporkan suami ke Polisi masih ada jalan lain yaitu dengan melayangkan surat Somasi/Peringatan dari kantor kepada suami agar tidak melakukan KDRT kembali. Demikian disampaikan Ibu, semoga masukan ini bisa bermanfaat buat Ibu. (KL)

Hotline/SALURAN KHUSUS WCC Sinceritas – PESADA

Bila anda Mendengar, Melihat, Mengetahui atau Mengalami Serta membutuhkaPertolongan Dari Segala Bentuk Kekerasan Yang Dialami Perempuan dan Anak Perempuan

Hubungi kami:

Sinceritas PESADA Wilayah Medan dan sekitarnya

HP 0812 6326 6186

Sinceritas PESADA Wilayah Sidikalang dan Sekitarnya

HP 0812 6026 0910

Sinceritas PESADA Wilayah Humbang Hasundutan dan Tapteng

HP 0812 6514 7499

Sinceritas PESADA Wilayah Nias dan sekitarnya

HP 0823 6196 4110

Peringatan : NOMOR HANYA UNTUK KASUS KTP

Mohon jangan menggunakan nomor ini untuk kepentingan lain atau kasus palsu