Konsultasi

Tanya :

Saya menikah dengan M dan mempunyai anak satu orang perempuan, saat ini berusia 2 tahun. Kesepakatan kami sebelum menikah, tidak akan tinggal dengan pihak keluarga, di mana istilah Bataknya ”manjae”. Pertimbanganya pada waktu itu, jika tinggal bersama keluarga maka akan menimbulkan persoalan baru yang tidak ada habis-habisnya.

Setelah kami menikah, orang tua dan keluarga suami tidak mengizinkan kami pisah dari mereka, dan akhirnya kami tinggal dengan mertua. Hal yang saya takutkan akhirnya terjadi juga, dimana mertua dan adik suami saya selalu menyalahkan saya jika saya meminta suami untuk membantu saya dalam hal pekerjaan. Kami pernah mengontrak rumah karena tidak tahan dengan sikap keluarga suami saya, namun suami saya tidak bisa berpisah lama dengan ibunya, sehingga akhirnya kami kembali lagi ke rumah mertua.

Hal yang paling saya khwawatirkan kemudian terjadi. Baru-baru ini, saya dipulangkan ke rumah orang tua saya dan anak saya disembunyikan oleh suami dan keluarganya. Untuk mendapatkan anak saya kembali ada beberapa cara yang sudah saya lakukan misalanya : musyawarah dengan keluarga dan bahkan perkumpulan adat pun sudah terlibat. Pihak suami tetap tidak mau memberikan anak saya kepada saya, dan saat ini keberadaanya saya sudah tidak tau dimana. Saat ini pihak keluarga suami tidak menerima saya dan suami akan menggugat cerai saya.

Apa yang harus saya lakukan dan kemana harus mengadu? Apakah ada LSM yang bisa membantu untuk mendapatkan anak saya?

Jawab :

Ibu Lc di Siantar

Kami sangat perihatin atas masalah yang sedang ibu hadapi. Persoalan anak selalu membuat kita terharu dan prihatin, apalagi mendengar anak dipisahkan dari ibunya. Dalam ikut campurnya pihak keluarga dalam rumah tangga dapat merusak ketentraman masa depan rumah tangga yang dijalani. Situasi seperti ini merupakan pelanggaran hak azasi perempuan dan anak-anak dan melanggar hukum sebagaimana termuat dalam pasal UU Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga ( UU No. 23/2004) dan Hak Anak (UU No. 23/2002).

Saran kami, coba melakukan pendekatan kembali dengan mengunjungi pihak suami maupun keluarganya. Ibu dapat bertanya tentang keberadaan dan kesehatan anak ibu, karena ibu berhak atas semua itu. Apabila pihak keluarga suami tidak mau memberitahukan tentang keberadaan anak ibu, maka ibu dapat melaporkanya ke pihak kepolisian. Ibu juga bisa meminta bantuan ke lembaga anak yang ada di SUMUT dalam membantu menangani kasus ini.

Jika suami ibu menggugat cerai, biasanya pihak Pengadilan akan memberikan hak asuh/pemeliharaan kepada ibunya, dan hal tersebut sudah ditentukan oleh hukum negara bahwa anak yang masih dibawah umur (12 tahun kebawah) akan diberikan kepada ibunya untuk diasuh; sementara suami berkewajiban memberikan biaya sampai anak tersebut dewasa.

Sekarang ibu harus mempunyai kemauan dan tekat agar bisa mendapatkan anak ibu kembali. Jika tidak berhasil, maka masih banyak upaya yang bisa dilakukan melaporkan suami atau pihak keluarga suami ke pihak yang berwajib atau meminta dukungan kelembaga-lembaga pemerhati anak dan perempuang dalam mengupayakan persoalan yang ibu hadapi dan lain sebagainya. Jadi ibu tetap harus bersemangat atau bila ibu ingin mengetahui lebih jauh lagi tentang hak-hak perempuan, hukum, anak dan sebagainya ibu dapat meminta bantuan kepada LSM atau LBH terdekat yang peduli terhadap perempuan. (IZ)

Explore posts in the same categories: Konsultasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: