Konsultasi

Tanya :

Saya NS di PB, ibu rumah tangga  berusia 18 tahun, menikah pada tahun 2008, di Batam dengan pacar saya pada saat sekolah dulu. Awalnya kehidupan kami bahagia walaupun kami menikah di Batam tanpa restu orang tuanya dan hanya dihadiri oleh kakak kandung saya. Orang tuanya tidak setuju karena perbedaan keyakinan, namun suami saya itu mengikuti keyakinan saya.

Kebahagiaan yang saya rasakan hanya dua minggu, karena setelah itu suami saya berubah dan suka memukul. Dia mencekik sampai saya mengeluarkan darah lewat anus dan menampar saya hingga wajah lebam-lebam. Kakak saya tidak dapat berbuat apa-apa melihat suamii saya yang sering bertindak kasar terhadap saya.

Melihat pertengkaran saya dengan suami terus menerus, kakak saya menyarankan agar kami pulang kampung karena kakak saya tidak tahan melihat saya disakiti terus. Akhirnya kami pulang ke kampung di desa LI dan tinggal di rumah mertua. Walaupun tinggal bersama orang tuanya, perbuatannya tidak berubah dan terus memukull saya, bahkan di depan orang tuanya.

Akhirnya mertua saya menyarankan kami untuk pisah rumah dari mereka dan mendirikan rumah di areal perladangan pemberian orangtuanya kepada kami ,agar suami saya berubah. Besar harapan saya suami saya berubah, tetapi keyataanya tetap saja tidak berubah. Bahkan dia pernah menendang saya hingga keluar dari rumah dan menyulutkan rokok ke daerah sekitar mata saya. Saya sudah merasa  tidak tahan dengan siksaan suami saya itu dan saya ingin berpisah dengan dia, Apa yang harus saya lakukan ??????

Jawab:

Ibu NS, yang ada di desa LI, kekerasan yang ibu alami sangat menyedihkan, apalagi usia ibu yang masih tergolong sangat muda untuk mengahadapi situasi rumah tangga yang ibu alami sekarang.

Kekerasan yang dilakukan oleh suami ibu itu tidak dapat lagi dimaafkan apalagi semua pihak keluarga sudah mencoba untuk menyelesaikannya. Kalau memang ibu sudah tidak merasa nyaman dengan semuanya,  ibu bisa melaporkan suami ibu tersebut ke Polisi, karena sudah melanggar UU PKDRT No. 23 Tahun 2004 pasal 44. Pasal ini menjelaskan kekerasan fisik, karena suami ibu sudah melakukan kekerasan fisik yang sangat berdampak juga pada psikis ibu.

Kalau ibu ingin berpisah dengan suami, ibu bisa menggugat cerai di Pengadilan Agama. Isi gugatan adalah bahwa ibu ingin bercerai karena selalu mendapatkan kekerasan selama berumah tangga dengan suami ibu itu dan ingin berpisah.  Ibu bisa meminta bantuan pada lembaga yang peduli dengan kekerasan terhadap perempuan agar proses perceraian ibu itu bisa dilakukan. (YR)

Iklan
Explore posts in the same categories: Konsultasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: