Susi Pudjiastuti Juragan Pesawat dari Pangandaran

Sosok Susi Pudjiastuti sudah sangat dikenal sebagai seorang pengusaha kaya dan ternama di Indonesia. Tapi, siapa yang menyangka bahwa dia termasuk anak yang putus sekolah? Namun Susi putus sekolah bukan karena malas belajar tetapi pada waktu itu dia sakit dan orang tuanya menyuruh pulang ke Pangandaran.  Saat itu juga dia memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah lagi.

Susi merupakan anak sulung dari tiga bersaudara, lahir 15 Januari 1965. Ayah-Ibunya berasal dari Jawa Tengah yang sudah lima gene­rasi lahir dan hidup di Pangandaran. Keluarganya adalah saudagar sapi dan kerbau, yang membawa ratusan ternak dari Jawa Te­ngah untuk diperdagangkan di Jawa Barat. Kakek buyutnya Haji Ireng dikenal sebagai tuan tanah. Susi sekolah di SD Negeri 8 Pangandaran tahun 1972-1977, SMP Negeri 1 Pangandaran pada 1978-1980 dan SMA Negeri 1 Yogyakart, namun hanya sampai kelas 2 saja. Setelah itu hanya bermodalkan gelang keroncong, dia memulai bisnisnya sebagai penjual ikan. Ternyata, dalam 25 tahun penuh kerja keras dan fokus, ia berhasil menjadi pengusaha ikan, bahkan kini ia memiliki usaha pesawat carteran. Padahal, SMA pun ia tak lulus.

Semasa kecilnya Susi sebenarnya bercita-cita menjadi ahli oceanologi, yakni ahli bidang ilmu kelautan. Namun ibunya menganggap cita-citanya tersebut hanya sebagai mimpi belaka dan ibunya membayangkan bahwa Susi kelak jadi seorang istri, ibu rumah tangga mengurusi keluarga dan kebun. Ibunya bilang, apalah yang boleh dilakukan oleh seorang yang tidak  tamat SMA pun.

Semasa SMP di kampung maupun SMA di Yogyakarta, dia sangat suka dagang kecil-kecilan antar teman. Dia membeli baju atau T-shirt untuk dijual  kepada teman. Ada beberapa  yang pernah dijualnya kaus golput, bed cover dan sarung bantal dan menawarkanya ke hotel-hotel. Pada saat itu juga dia melihat potensi besar dunia maritim di Pangandaran tempat pendaratan ikan yang amat potensial di pesisir selatan pulau Jawa. Setiap hari para nelayan mendaratkan perahu-perahu mereka dengan hasil yang melimpah. Melihat peluang itu Susi tertarik untuk menekuni profesi menjadi bakul ikan. Bakul ikan ini adalah pengepul hasil laut tangkapan nelayan yang dilakukan oleh perempuan.

Tahun 1983 hanya berbekal Rp 750.000, Susi mengikuti jejak perempuan di Pangandaran sebagai bakul ikan. Setiap hari Susi harus menaksir cepat berapa harga jual ikan-ikan di keranjang yang sedang ditawarkan juru lelang, memperkirakan kepada siapa ikan-ikan itu akan dijual, dan dengan cepat memutuskan untuk membeli ikan-ikan yang dilelang itu. Pekerjaan ini tentu bukan hal yang mudah dan hari pertama dia hanya berhasil mendapatkan 1 Kilogram saja dan begitulah seterusnya dilakukan oleh Susi, dan tak jarang pula dia mengalami kerugian. Bagi Susi semua itu adalah dinamika kehidupan. Dalam waktu satu tahun dia berhasil menguasai pasar Pangandaran dan mulai mengusahakan perahu untuk disewa nelayan dan hasilnya dia beli sesuai dengan harga pasar. Saat ini Susi sudah memiliki ratusan perahu yang disewa kepada nelayan.

Produksi ikan nelayan Pangandaran sangat melimpah, hal ini disebabkan karena di daerah tersebut ada bisnis pariwisata. Setelah itu Susi pun mulai membuka pasar di luar Pangandaran seperti Jakarta. Usaha yang ditekuni oleh Susi sangat cepat berkembang dan dia dijuluki dengan ‘Susi Kodok’.  Susi sukses menjadi pemasok ikan dan mendirikan pabrik pengolahan ikan yang produknya berhasil menembus pasaran Jepang.

Di pasar ikan Tsukiji yang terletak di pinggiran Tokyo ada beragam produk ikan dalam dus kotak berlabel Susi Brand dari  PT ASI Pudjiastuti Marine Product – Pangandaran, Indonesia. Untuk mendapatkan kesuksesan menurut Susi bukan hal yang mudah, tetapi harus dimulai dari rasa suka atau hobi terhadap bidang yang ditekuni tersebut. Usaha yang sedang dijalankanya ini tidak pasti yaitu kadang rugi dan untung. Oleh karena itu harus setiap saat waspada terhadap situasi pasar.

Di bawah ini ada beberapa usaha lagi yang dirintis oleh Susi yaitu

  • Tahun 1989, membuka restoran Hilmans di dekat pantai dengan spesialisasi menu ikan segar. Para pengunjung bisa memilih ikan segar dan kemudian dapat diolah oleh Koki.
  • Tahun 1996, ia mulai merintis pendirian pabrik pengolahan ikan sendiri, di pekarangan samping rumahnya di depan terminal bus Pangandaran.

Ratusan tenaga kerja lokal yang bekerja di pabriknya untuk menyiangi ikan. Sisa-sisa ikan tidak ada yang dibuang dan semua diolah misalnya tulang dan isi perut ikan dipisahkan, dicacah atau digiling, untuk pakan itik di kebunnya, sementara bagian dagingnya dibuat filet atau produk lain seperti bakso.

Satu hal yang paling menarik dari Susi ini meski sudah menjadi pengusaha kelas Internasional, ia tetap menjadikan Pangandaran sebagai homebase semua bisnisnya. Ada beberapa cabangnya di Jakarta tetapi kantor pusat PT ASI Pudjiastuti tetap di Pangandaran.

Untuk bisnis ikan segarnya, maka Susi terpikir untuk membeli pesawat terbang. Tahun 1999 dia mengajukan proposal pinjaman dana ke Bank untuk membeli pesawat. Pejabat Bank pada saat itu malah menertawakan alasan Susi untuk membeli Pesawat itu karena dia hanya tamatan SMP. Walaupun seperti itu dia harus tetap berjuang untuk mendapatkan pesawat itu karena kalau hanya mengandalkan truk dengan perlengkapan pendingin maka ikan-ikan yang akan sampai ke luar negeri seperti Jepang tidak segar lagi dan harganya pun turun. Dengan berbagai usaha yang dilakukanya maka dia berhasil membeli pesawat terbang yaitu sebuah Cessna Caravan buatan USA, seharga Rp. 20 miliar. Cessna berkapasitas 12 seats itu digunakan untuk ngangkut ikan dan lobster tangkapan nelayan di berbagai pantai Indonesia ke Jakarta dan daerah lainya.

Susi sukses dalam bidang karir tetapi dalam hal membina rumah tangga dia kurang berhasil. Susi menikah tiga kali, pertama dengan orang satu kampung, kedua dengan laki-laki yang berkebangsaan Swis dan suami Susi sekarang berkewarganegaraan Jerman dan katanya ini adalah pernikahannya yang paling lama.

Tanggal 26 Desember 2004, gempa tektonik mengguncang perairan di ujung barat laut Sumatra, menimbulkan gelombang Tsunami dahsyat. Susi bersama suaminya juga ikut memberikan bantuan dan obat-obatan kepada korban bencana. Pada waktu itu dia juga menyewakan pesawatnya. Dari satu orang, berita menyebar ke mana-mana. Secara getok-tular pesawat Cessna-nya kerap disewa pihak-pihak internasional yang membantu pemulihan NAD. Akhirnya istilah Susi Air pun lahir dari para penyewa awal. Pada awalnya Susi ingin memberi nama yang keren seperti nama-nama burung gagah tetapi karena orang-orang pada saat bencana itu selalu mencari Susi Air maka akhirnya pesawat susi itu diberi nama Susi Air. Selamat untuk Susi semoga masih banyak perempuan yang menjadi Susi berikutnya. Sukses terus!!!!!! (diringkas dari: Femina)



Iklan
Explore posts in the same categories: profil

One Comment pada “Susi Pudjiastuti Juragan Pesawat dari Pangandaran”

  1. Sita S. Phulpin Says:

    Kemarin saya mendapat cerita ttg Bu Susi dari seorang teman dari Indonesia yg sedang berlibur di rumah kami. Lalu saya penasaran dan ingin membaca dengan mata kepala sendiri kisah Bu Susi. Saya benar2 salut pada Bu Susi. Kisah beliau benar2 inspiring story, memberi saya semangat tambahan untuk mewujudkan impian menjadi wanita yg berkiprah mandiri tidak selamanya menjadi karyawan bagi orang lain.

    Salam hormat,
    Sita


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: