Konsultasi

Tanya :

Nama saya CB (44 th), ibu rumah tangga. Saya menikah dengan RP (49 th) pada tahun 2005 di GKPS Sidikalang. Saya merupakan istri kedua, istri yang terdahulu telah meninggal pada tahun 2003. Dari pernikahan kami, kami tidak mempunyai anak, karena suami dari istri terdahulu telah memiliki 4 orang anak. Sejak tahun 2006 kehidupan rumah tangga kami selalu ribut. Suami selalu pulang dalam keadaan mabuk dan bermain judi. Dalam kondisi mabuk suami selalu memaksai dan mengancam akan membunuh saya. Selain itu suami juga tidak pernah mengizinkan saya untuk keluar rumah bahkan berhubungan dengan tetangga di sebelah rumah saya.

Saya tidak kuat lagi. Pada bulan Februari yang lalu saya pergi meninggalkan rumah suami dan kembali ke rumah keluarga saya yang tinggal di daerah Salak. Saya ingin hidup normal dan mau membuka usaha kecil-kecilan di Sidikalang untuk bertahan hidup.

Pertanyaan saya :

Selain bercerai, apa yang harus saya perbuat agar suami tidak mengganggu saya lagi? Karena saya tidak memiliki uang untuk proses cerai di Pengadilan.

Jawab :

Ibu CB, keputusan untuk meninggalkan pelaku dan memilih untuk hidup mandiri merupakan keputusan yang baik, terlebih pelaku telah membuat ibu tertekan sehingga dapat memperngaruhi kondisi kejiwaan ibu. Perbuatan pelaku yang sering mengancam dan mengasingkan ibu dari lingkungan rumah merupakan suatu kekerasan. Apabila Ibu memilih percerai sebagai jalan keluar namun tidak mempunyai uang, Perkumpulan Sada Ahmo (PESADA) melalui staff lapang sering melakukan pendidikan ekonomi pada masyarakat, ibu dapat bergabung di salah satu CU dampingan PESADA. Dari CU tersebut ibu dapat memperoleh pendidikan ekonomi rumah tangga dan belajar cara menyisihkan sebagian pendapatan yang ibu miliki, sehingga lambat laun ibu akan mempunyai dana untuk mengajukan gugatan perceraian di pengadilan dan mulai merintis usaha sendiri melalui modal yang ibu simpan.

Kekerasan yang ibu alami adalah kekerasan psikis dan suami telah melanggar pasal 7 dan pasal 45 UU PKDRT yang hukumannya 4 bulan – 3 tahun atau denda Rp 3 – 9 juta. Apabila ibu tidak begitu mengerti tentang hukum dapat meminta bantuan kepada WCC Sinceritas atau LBH lainya yang perduli terhadap perempaun (DH & Herli).

Iklan
Explore posts in the same categories: Konsultasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: