Perdagangan Bebas dan Dampaknya Bagi Perempuan

 Bagi masyarakat pedesaan, istilah pasar atau perdagangan bebas mungkin masih menjadi hal yang jauh dari perbincangan sehari-hari. Namun, cepat atau lambat dampaknya pasti akan dirasakan juga. Perdagangan bebas justru sebenarnya sangat dekat dengan masyarakat pedesaan yang selama ini menjadi pemasok berbagai hasil pertanian yang dijual kepada masyarakat perkotaan dan bahkan untuk ekspor ke luar negeri.

Tentu saja perihal perdagangan bebas harus menjadi perbincangan masyarakat desa karena ini menyangkut kepentingan dan peran mereka dalam perdagangan nasional. Pertanyaannya adalah, adakah negara melakukan pendidikan dan pelatihan terkait menghadapi perdagangan bebas ini? Dalam arti, apakah efektif dan mengena pada penguatan masyarakat untuk ikut berperan dalam perdagangan tersebut. PESADA melihat bahwa upaya menguatkan para petani atau masyarakat desa, khususnya perempuan, melalui pemahaman yang tepat soal perdagangan bebas menjadi sebuah kebutuhan mendesak.  Untuk itu, sebuah diskusi digelar di PUSDIPPRA PESADA Sidikalang bagi sekira 220 anggota dan pengurus Credit Union (CU) Besar Pesada Perempuan untuk wilayah Pakpak Bharat, Dairi, dan Humbahas. Diskusi ini berlangsung sejalan dengan Rapat Anggota Tahunan (RAT) CUB Pesada Perempuan pada 22-23 Februari 2010 kemarin.

Diskusi ini difasilitatori oleh Dina Lumban Tobing, dengan menghadirkan pembicara Veronica Saraswaty Shinta seorang peneliti tentang bisnis internasional dari Jakarta. Ia menyampaikan seluk beluk perdagangan bebas, dampak dan solusi menghadapinya. Diskusi bersama ini cukup mengundang antusiasme peserta dalam memposisikan perdagangan bebas adalah tantangan yang harus dihadapi dengan kekuatan bersama. Munculnya pengusaha-pengusaha asing dan bermodal besar, menjadi ancaman bagi pengusaha lokal dengan modal tidak besar. Kekayaan alam akan dikeruk sebanyak-banyaknya, tanpa ada pengawasan dari pemerintah seperti yang dilakukan selama ini. Karena dalam perdagangan bebas, peran pengawasan pemerintah menjadi sangat terbatas.

Persaingan tidak sehat antara pengusaha lokal dengan pengusaha asing, hanya akan membuat posisi masyarakat dengan ekonomi lemah semakin terpuruk. Barang-barang menjadi mahal, sumber-sumber penghasilan dari alam akan berkurang karena dikuasai pengusaha bermodal besar. Hal yang bisa dilakukan untuk menghadapi perdagangan bebas ini antara lain dengan menggalang kekuatan bersama, dengan membentuk serikat. Mengumpulkan modal bersama misalnya dengan credit union, melakukan transaksi dagang bersama, dan menggiatkan pertanian organik. (DJ)

Iklan
Explore posts in the same categories: Artikel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: