PESADA Dukung Nomor 10, Pasangan Sofyan-Nelly

Meletak Harapan Pada Pemimpin Perempuan dan Aktor Masyarakat Sipil Yang Peka Gender dan Pro Kesejahteraan Rakyat

 Arena politik di Sumut kembali memanas menjelang pemilihan umum kepala daerah (Pemilukada) di beberapa kabupaten/kota di Sumut. Di Medan sendiri, suasana sibuk terlihat jelas di beberapa kantung-kantung suara para simpatisan pasangan calon walikota dan wakil walikota yang berdialog untuk memilihnya pada 12 Mei 2010 nanti.

Terkait upaya melakukan penguatan perempuan yang menjadi program utama organisasi, komunikasi dengan pemimpin daerah merupakan akses khusus untuk bermitra dalam melahirkan kebijakan-kebijakan publik yang sensitif gender.  Untuk itu, PESADA dengan terbuka menyatakan dukungannya kepada perempuan calon pemimpin publik yang memiliki visi dan misi yang sama dengan PESADA. Dari 10 pasangan calon yang lolos verifikasi KPUD Medan, pasangan Sofyan Tan dan Nelly Armayanti yang dinilai tepat untuk didukung PESADA. Kedua sosok aktivis ini memiliki rekam jejak sebagai mitra PESADA dalam melakukan kerja-kerja sosial,  kemanusian, dan lingkungan . Baik di LSM maupun di wadah lain sesuai dengan profesi keduanya.

Nelly Armayanti, yang merupakan aktivis petani dan mantan ketua KPUD Medan periode lalu, memiliki visi misi dan rencana aksi kota yang sederhana namun menjadi kebutuhan dasar untuk kesejahteraan dan kemajuan kota Medan.  Bersama Sofyan Tan, seorang aktivis multikultural dan tokoh pendidikan di Sumut, dirasa sangat tepat untuk mendapat dukungan dalam upayanya menjadikan kota Medan sebagai kota yang tertata, manusiawi, sejahtera, dan modern.

Dalam rangka mendukung pencalonan Sofyan-Nelly menjadi walikota dan wakil walikota Medan, PESADA secara riil memberikan bantuan dan ruang politik bagi pasangan tersebut, khususnya Nelly sebagai perwakilan dari suara perempuan di Medan. PESADA membuka dialog politik Nelly Armayanti dengan dampingan CU (credit union) di Medan. Yakni pada pertemuan 60 orang perwakilan dampingan PESADA dengan Nelly, 19 April 2010 lalu.

Dalam dialog tersebut terbangun suatu pandangan dan kesepahaman bahwa kota Medan harus dipimpin oleh walikota dan wakil walikota yang multikultural, peka gender, cerdas, transparan, dan berkeadilan sosial.  Kemajemukan warga kota Medan adalah aset yang harus terus dilestarikan demi kemajuan Tanah Deli ini ke depannya. Untuk itu, pasangan Sofyan Tan-Nelly Armayanti (Nomor 10) patut untuk dipilih.

Selain itu, komitmen Nelly untuk membenahi birokrasi akan menjadi hal pertama yang akan dilakukan jika terpilih nanti, menjadi pegangan peserta yang hadir untuk mendapatkan kontrak sosial dan politik pada masa kepemimpinan mereka di Medan nantinya. Sebab, akar masalah yang terjadi di masyarakat dimulai dari karakter, kebijakan, dan ketepatan dari pemerintahnya sendiri. Untuk itu, tujuan menegakkan 10 ciri pemerintahan yang baik (good governance) akan sangat didukung oleh warga kota Medan.

Di antaranya pemerintahan yang bebas korupsi, bebas politik uang, tidak mementingkan kepentingannya sendiri dan mengutamakan kepentingan rakyat, mau menerima kritik saran demi pemerintahan yang lebih baik lagi, tidak sewenang-wenang terhadap rakyatnya. Selain itu, ciri pemerintahan yang bersih dan baik adalah tidak bersikap otoriter dalam memutuskan sesuatu namun didiskusikan atau dimusyawarahkan, dapat menyelesaikan masalah dengan baik sehingga tidak ada pihak mereka dirugikan, bebas dari kolusi-korupsi dan nepotisme, menegakkan peraturan/menindak tegas setiap pelanggaran yang terjadi sesuai dengan hukum yang berlaku di Indonesia tanpa membedakan-bedakan siapa pelakunya. Dan poin terakhir yakni, menghormati hak-hak warganya.  

Dukungan  PESADA kepada pasangan ini juga terlihat dengan memberikan seorang asisten kepada Nelly selama melaksanakan kegiatan kampanye politik. Asisten ini bekerja untuk membantu kerja-kerja teknis Nelly, seperti mengatur jadwal pertemuan dengan konstituen dan membantu Nelly bersosialisasi melalui media massa.

Dukungan ini pun dilontarkan dalam sebuah diskusi publik yang digelar Kaukus Perempuan Sumut di Medan pada Maret 2010 lalu. Diskusi dengan dua calon wakil walikota Medan tersebut, yakni Nelly Armayanti dan Nurliza Ginting, di hadapan tiga panelis yaitu Ridwan Rangkuti (pengamat politik), Avian Tumengkol (media), dan Dina Lumbantobing (aktivis perempuan PESADA) serta puluhan peserta diskusi, cukup berdinamika. Harapan akan wajah baru dalam kepemimpinan kota Medan dan sosok perempuan di dalamnya, akan memberi iklim yang lebih kondusif bagi kota Medan ke depannya. Komitmen bebas korupsi dan kesetaraan pembangunan menjadi hal pokok dalam meraih simpati para konstituen. 

Pola politik pasangan Sofyan-Nelly yang anti politik uang memunculkan pandangan yang lebih segar terhadap dunia politik. Mereka bahkan berjanji akan memutus rantai budaya ‘pemberian upeti’ untuk penempatan kepala dinas dan jajarannya. Karena ini merupakan pintu masuk korupsi dan penyuapan yang akan membuat kinerja dinas tidak maksimal dan berorientasi uang. Sebaliknya akan menerapkan tes kemampuan (fit and proper test) ketika mengangkat pejabat.  PESADA sangat mendukung pemikiran ini. Karena dalam setiap gerak kampanye politik yang dilakukan perempuan terutama pada pemilihan legislatif 2009 lalu, selalu dihempang oleh maraknya politik uang oleh calon legislatif lainnya.   (DJ)

Explore posts in the same categories: Artikel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: