Deklarasi Perempuan Asia Terhadap Perubahan Iklim

 

Kami, lebih dari 70 perempuan dari berbagai latar belakang di negara Asia, masyarakat adat, petani, nelayan, buruh, dan dari berbagai jaringan dan gerakan sosial-hukum, bertemu pada 28-29 September 2009 di Bangkok, Thailand. Kami berbagi pengalaman dengan saudari-saudari kami, dan mendiskusikan dampak dari perubahan iklim di lingkungan kami masing-masing.

Kami membahas strategi dan solusi untuk menyampaikan suara dan pemikiran kami ke diskursus perubahan iklim dan menetapkan solusi untuk mengatasi krisis iklim. Kami, masyarakat adat, petani, nelayan, buruh, perempuan kota dan desa, menghadapi dampak negatif perubahan iklim dan salahnya solusi yang ditawarkan pemerintah yang mengaku dirinya ahli. Perempuan terus menghasilkan makanan, bekerja di dalam dan di luar rumah untuk menambah penghasilan keluarga, dan seringkali menjadi pemberi nafkah, dan melalui kerja produktif dan reproduktif kami, kami memastikan kesejahteraan keluarga dan masyarakat kami.

Bagaimanapun, kami masih tidak dikenali oleh pemerintah, lembaga nasional dan internasional sebagai kontributor yang meningkatkan hajat hidup keluarga kami, golongan dan masyarakat. Dan lagipula kami secara sistematis dikeluarkan dari proses pengambilan keputusan terkait kehidupan kami, lingkungan dan sumber daya alam. Terkait krisis iklim, kami menjadi korban, tetapi bukan sebagai pembuat keputusan dalam upaya perubahan iklim dan berkontribusi solusi berdasarkan kebijaksanaan dan pengetahuan kami.

Kami juga meneruskan pendidikan kami soal isu perubahan iklim, mendidik perempuan yang lain dan pembuat kebijakan, dan membangun aliansi serta berkoalisi untuk mencapai keadilan iklim sejati dengan berdasarkan prinsip keadilan gender. Kami tahu bahwa krisis iklim sudah begitu kompleks dan sulit diatasi, dan kami harus bergerak cepat untuk melaksanakan sistem yang bisa menempatkan krisis iklim dalam upaya jangka panjang dan berkelanjutan.

Untuk itu, kami perlu solusi yang benar yang akan mengatasi akar masalah krisis iklim ketimbang mekanisme yang membolehkan pengusaha mendapat keuntungan dari krisis dan mengijinkan pihak yang kaya tetap mengkonsumsi dan menghisap sumber daya alam serta memcemari udara. Kami ingin anak-anak dan generasi masa depan untuk hidup di dunia yang sehat dan layak untuk ditinggali. Untuk itu kami menyatakan:

Sebagai perempuan masyarakat adat :

1. Hormati dan tegakkan hak menjaga diri sebagai perempuan dan selaku bagian dari masyarakat adat.

2. Perempuan harus sejalan dengan proses mencapai kemerdekaan sejati, utama, kelengkapan masyarakat adat dalam program pembangunan yang meliputi wilayah tradisional mereka.

Pertanian:

1. Kampanyekan dan danai pertanian berkelanjutan, organik, dan lahan agro-ekologi.

2. Hentikan subsidi dan dukungan terhadap industri pertanian dan perusahaan agri-bisnis

3. Perhatikan hak-hak perempuan petani, dan kontribusi perempuan dalam pertanian.

4. Tolak perdagangan karbon dan Mekanisme Pembangunan Bersih (CDMs) terhadap pertanian.

5. Tolak mahluk hidup yang diubah secara genetis (GMOs).

6. Tolak perjanjian perdagangan bebas dan ekspor bahan pertanian

7. Tolak penguasaan lahan petani kecil dan kesetaraan untuk perempuan dan laki-laki.

8. Keputusan terhadap bagaimana menggunakan dan memperlakukan sumber daya ekologi lokal harus dibuat oleh masyarakat lokal, dengan memperhatikan kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan.

Kelautan:

1. Undang semua lembaga pemerintah dan internasional untuk mendesak perlindungan hak nelayan.

2. Tolak solusi berbasis pasar atas sistem kelautan yang menyebabkan terjadinya perubahan iklim.

3. Dukung komunitas dan organisasi nelayan dalam upaya pembangunan komunitas mengatasi perubahan iklim berbasis kearifan dan kemampuan lokal.

4. Lindungi, promosikan, dan danai perawatan ikan dan mangrove berbasis lokal, hak-hak komunitas nelayan yang membuktikan kadar karbon rendah oleh karena perjanjian pemerintah lokal dan internasional.

5. Buat aturan perdagangan ikan dan utamakan kebutuhan pasar lokal menuju keamanan pangan dan pembangunan komunitas pembaharu. 

Hutan:

 1. Hindari hutan dari perdagangan karbon dan sebagai sumber cadangan emisi

2. Perhatikan hak masyarakat adat dan tanah ulayat mereka. Terutama hak perempuan masyarakat adat.

 3. Tegakkan aturan, keinginan, dan hak perempuan dalam menggunakan dan melindungi hutan.

4. Katakan tidak pada pertambangan di hutan lindung dan wilayah ekologi sensitif, termasuk wilayah laut lepas, pelaku pertambangan di semua wilayah untuk menguatkan dan melegalkan peraturan lingkungan dan sosial.

5. Tolak reduksi emisi dari penghancuran hutan dan degradasi hutan.

Kesehatan:

Perhatikan hak perempuan terkait kesehatan dan lingkungan yang aman, pemerintah harus mengukur pelaksanaan pelayanan kesehatan dasar yang menguntungkan posisi perempuan, anak, dan masyarakat ekonomi lemah.

Energi :

 1. Tolak senjata nuklir, penggunaan senjata secara massal dan penghancuran sumber air untuk energi/listrik

2. Tolak agrofuel, geo-engineering dan solusi salah yang ditawarkan oleh International Financial Institution (IFIs), pemerintah, (TNCs/MNCs), UNFCCC dan lainnya.

3. Desentralisasi wewenang produksi dan distribusi, dengan peraturan yang mengutamakan usaha kecil. Promosikan dan danai komunitas berbasis pembaharuan energi.

Air dan sanitasi:

 1. Tolak privatisasi air dan sediakan layanan sanitasi.

 2. Lindungi air sebagai milik bersama

 3. Kampanyekan sanitasi berkelanjutan

Pendanaan untuk adaptasi perubahan iklim dan usaha pembelaan:

1. Pemerintah harus membuat komitmen perbaikan dan resitusi dengan tidak membuat hutang baru untuk Negara-negara berkembang.

2. Perhatikan hutang sejarah dan ekologi dari Utara ke Selatan

3. Membuat komitmen keuangan bebas dari syarat kebijakan yang mengerdilkan

4. Mengukur komitmen keuangan yang tidak diatur oleh IFIs tetapi berdiri sendiri dengan  mengikutsertakan partisipasi masyarakat sipil, ini berarti harus melalui PBB atau proses alternatif lain.

5. Batalkan hutang Negara-negara berkembang yang masih ada

6. Mengukur ekonomi unik perempuan yang sensitif gender, kebutuhan sosial-politik dan budaya, serta memprioritaskan perempuan di semua perjanjian terkait keuangan.

Explore posts in the same categories: Artikel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: