Kiprah Perempuan di Kancah Pemerintahan dan Politik

 

            Dalam dialog yang diadakan oleh radio SmartFM di warung kopi Garuda Plaza Medan awal bulan lalu, sejumlah perempuan pimpinan institusi dan komunitas hadir. Mereka mendiskusikan tentang kiprah mereka mendapatkan posisi tersebut dan mengajak perempuan Sumut lainnya untuk ikut serta dalam berprestasi sehingga bisa menduduki posisi strategis di tempatnya bekerja. Mereka adalah Sri Hartini (Kepala Museum Propinsi Sumut), Prof Sri Sulistiowaty (Rektor Universitas Muslim  Nusantara Al Wasliyah), Diah Susilowaty SH (Kordinator Kontras Sumut), Sarma Hutajulu (Kordinator JARAK Perempuan Sumut).

            Menurut Sarma Hutajulu, pola pikir masyarakat yang masih bias gender kerap menghalangi perempuan untuk mencapai posisi terbaik di pemerintahan dan politik dalam upaya mengabdikan ilmu dan tenaganya untuk masyarakat. Keluarga pun lebih menginginkan agar perempuan lebih baik bekerja di rumah ketimbang di luar rumah. Namun di satu sisi, beban untuk mendapatkan penghasilan juga dituntut dari perempuan.

Hal ini berbeda dari laki-laki. Jika ada tawaran untuk posisi strategis, misalnya kepala dinas atau kepala daerah, maka dukungan pasti akan datang bertubi-tubi. Tetapi jika perempuan yang akan naik posisi, selalu dibebani kekhawatiran yang berlebih yang membuat perempuan menjadi kurang percaya diri untuk menunjukkan kualitasnya.

            Rektor UMN, Prof Sri Sulistyowaty mengatakan, untuk memperlihatkan kualitas perempuan di mata masyarakat, harus dengan prestasi dan menunjukkan kinerja yang bermanfaat untuk orang banyak. Hal ini akan serta merta melunturkan pandangan miring terhadap kemampuan perempuan. Saat ini, perempuan dan laki-laki sudah setara dalam hal pencapaian karir. Itu karena muncul perempuan-perempuan yang kuat dan cerdas, sehingga perempuan menjadi diperhitungkan dalam pemerintahan dan politik. Tinggal bagaimana perempuan dan laki-laki bisa bermitra (bekerja sama) dalam upaya membangun bangsa dan negara menjadi lebih sejahtera dan adil.

            Kepala Museum Propinsi Sumut, Sri Hartini, mengaku bahwa dalam sepanjang karirnya di dunia arkeologi (mempelajari benda dan situs purbakala), perempuan termasuk langka. Bidang kerjanya tersebut lebih banyak diambil oleh laki-laki. Apalagi tuntutan kerja yang harus berhari-hari bahkan berminggu-minggu di lapangan, tidak menyurutkan langkahnya untuk tetap menggeluti arkeologi yang menjadi keahliannya. Baginya, apapun yang menjadi profesi kita, haruslah dikuasai dan dilakukan sebaik-baiknya. Dengan demikian, orang akan menilai kita dengan baik pula.

            Hal yang sama juga dikatakan Diah Susilowaty. Meskipun dalam komunitasnya di Kontras lebih banyak laki-laki dan resiko kerjanya berat, namun karena dia memiliki kemampuan dalam bidang hukum untuk membela orang-orang yang dianiaya, ia memilih untuk tetap bekerja di Kontras. Tantangan kerja pasti ada, namun dengan keteguhan hati serta adanya rekan dan keluarga yang selalu mendukung, ia selalu bisa tetap bekerja maksimal.  Ini hanya persoalan bagaimana membagi waktu saja dan tanggung jawab dengan baik. (DJ)

Explore posts in the same categories: Artikel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: