Konsultasi

Tanya :

Saya S (28), beragama Islam dan tinggal di Medan, dan merupakan seorang istri korban kekerasan suami. Saya menikah dengan pelaku pada tahun 2007 dan telah di karuniai 1 orang anak laki-laki berusia 22 bulan. Pernikahan kami atas dasar perjodohan dari orang tua saya. Sepanjang pernikahan yang kami lalui pelaku sering sekali tidak perhatian pada keluarga termasuk pada anak kami, dia lebih mementingkan bergaul dengan teman – temanya dari pada diam di rumah.

Suami juga tidak punya perkerjaan tetap selama menikah dan tidak mau berusaha untuk mencari pekerjaan. Ia cenderung mengharapkan saya dalam hal permodalan untuk usaha berjualan. Sering terjadi pertengkaran antara kami berdua bahkan suami saya pernah memberikan surat cerai yang ditulisnya sendiri pada saya. Puncaknya pada bulan Mei 2009 terjadi pertengkaran antara saya dan pelaku karena masalah sepele sehingga saya marah dan memilih untuk pergi dari rumah untuk menenangkan diri, pelaku juga meninggalkan rumah dan menjadi tidak perduli lagi dengan saya dan anaknya. Meskipun pihak keluarga saya telah menjemput suami untuk rujuk namun ia tetap menolak.

Belakangan saya mendengar ia telah menikah lagi dengan perempuan lain. Saya tidak tahan dengan kondisi seperti ini, saya juga tidak mau status saya di gantung-gantung. Saya ingin punya status yang jelas dari pernikahan saya dan ingin agar anak saya mendapat haknya. Namun, pihak keluarga masih berharap cerai bukan solusi bagi kami. Saya harus bagaimana menghadapi situasi ini, karena sejujurnya saya sudah tidak tahan lagi namun keluarga masih menghalangi untuk cerai.

Jawab :

Ibu S, sangat wajar apabila ibu menginginkan kejelasan status dari pernikahan ibu dan suami. Terlebih diketahui bahwa suami telah menikah lagi. Masuk akal bila tekanan psikologis yang ibu terima kemudian mendorong ibu untuk mengajukan gugatan cerai pada suami melalui pengadilan agama Medan. Dari perceraian tersebut ibu bisa meminta nafkah untuk anak hingga anak dewasa serta hak asuh anak.

Semakin cepat ibu mendaftarkan gugatan ibu maka semakin cepat pula ibu terlepas dari tekanan tersebut sehingga ibu bisa lebih fokus dalam pengasuhan anak ibu dan melanjutkan hidup ibu. Prilaku suami yang tidak bertanggung jawab kepada ibu dan anak – anaknya merupakan kekerasan dan dapat dikenai pasal 44 UU No 23 tahun 2004 tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga (P-KDRT). Dengan sanksi pidana penjara maksimal 5 tahun.

Apabila Ibu belum mengerti prosedur pengajuan gugatan perceraian maka ibu bisa meminta bantuan pada lembaga yang perduli pada masalah perempuan untuk membantu ibu membuat gugatan perceraian seperti ke LSM PESADA tanpa dikenai biaya pendampingan.  (Dewi)

Iklan
Explore posts in the same categories: Konsultasi

2 Komentar pada “Konsultasi”

  1. dewi Says:

    tanya :Asalammu’Alaikum Wr,Wb sudah 23th saya hidup dibawah tekanan seorang suami,kalau bukan karena rasa cinta saya kepada 3 orang buah hati saya,saya mungkin sudah hengkang dari kehidupan nya,suami saya adalah seorang yang temperamen,egois,pencemburu dan seorang suami yang tidak mempunyai rasa keadilan,saya bingung menghadapi semuanya,padahal berbagai usaha dan do’a telah kujalani ,sampai kapan saya harus bersabar menghadapi semua ini ?


    • Ibu Dewi, kekerasan terhadap siapapun haruslah dihentikan segera. Jika ibu ingin didampingi secara hukum atau konsultasi, silakan hubungi kami di nomor HOTLINE 081370133528. Bisa juga datang langsung ke alamat kami di Jalan Jamin Ginting KM 8 No.282 Padang Bulan Medan. Di Sidikalang, Jalan Empat Lima No.24E Sidikalang.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: