Mengungkap Tabir Politik Uang di PEMILUKADA PAKPAK BHARAT

Indahnya pesta demokrasi adalah impian dari semua lapisan masyarakat dimana masyarakat dapat memilih dengan akal sehat, tanpa adanya tekanan-tekanan dari pihak luar atau bahkan dari keluarga sendiri. Dan dari sini seharusnya mereka dapat menentukan siapa dan bagaimana masa depan dari suatu daerah, wilayah atau kabupaten ke depan.

Namun kalau kita melihat kondisi pada saat ini, di tiap PEMILUKADA di daerah kabupaten/kota sangat banyak kita temui kecurangan-kecurangan yang dapat merugikan berbagai pihak terutama masyarakat. Dimana di setiap PEMILUKADA banyak terjadi kericuhan antara tim sukses dari masing-masing kandidat yang dapat meresahkan masyarakat dan bahkan tidak sedikit yang menimbulkan korban jiwa.

Hal serupa di atas juga terjadi di Kabupaten Pakpak Bharat, dimana pada tanggal 12 Mei 2010 lalu di Kabupaten ini telah berlangsung PEMILUKADA yang melibatkan pemilih sebanyak 26.385 orang dan terdapat 6 calon kandidat yang sah untuk bertarung. Terdiri atas 3 kandidat dari partai politik, yakni Remigo Yolando Berutu-Maju Ilyas Padang, Dinar Boang Manalu-Makner Banurea, dan Ozi Manik-Lubis Tumangger. Tiga kandidat dari jalur independen, Ahmad Padang-Rentiares Manik, dr. Erison Banurea-Ledce Berutu, dr. Tahim Solin-Safrijal Banurea.

Melihat kondisi ini PESADA yang selama ini aktif di penguatan perempuan dan anak juga melakukan pendidikan politik kepada masyarakat anggota CU perempuan dampingan PESADA dan sekitarnya. Dimana dalam pendidikan politik ini kita mencoba menyampaikan kepada masyarakat supaya dapat menjadi pemilih yang cerdas, dengan mengenali siapa calon kandidat yang akan bertarung, menjelaskan apa yang menjadi visi-misi, perbedaan pencalonan jalur partai dan jalur independen, dan bahkan bahaya dari politik uang yang akan terjadi dalam proses pemilihan.

Pendidikan politik ini kita lakukan di 28 kelompok dampingan CU di wilayah Pakpak Bharat dengan jumlah peserta keseluruhan 639 orang. Di samping itu kita juga melibatkan kelompok dampingan CU untuk menjadi pemantau langsung pada saat PEMILUKADA di tiap TPS yang ada di desanya masing-masing dengan tujuan untuk mengetahui kemungkinan adanya kecurangan-kecurangan yang dilakukan oleh pihak tertentu. Dalam proses pendidikan politik yang kita lakukan banyak temuan yang kita jumpai di lapangan, dimana ternyata masyarakat sudah didata dan dipanjar oleh kandidat tertentu dengan jumlah uang sebesar Rp.50.000,-, melalui tim sukses mereka.

Kandidat yang berbeda juga melakukan hal yang sama. Adanya perebutan wilayah/daerah kekuasaan, menimbulkan ketakutan dan perpecahan pada masyarakat, padahal seharusnya kandidat yang naik harus dapat menyatukan dan merangkul masyarakat untuk mewujudkan demokrasi sejati. Kecurangan-kecurangan di atas tidak berhenti sampai di situ saja. Ketika pada proses pemilihan pada tanggal 12 Mei 2010, serangan fajar (pembagian uang untuk dipilih) juga terjadi di desa-desa dengan menyebarkan tim sukses dari masing-masing kandidat langsung door to door (dari pintu ke pintu) kepada masyarakat yang sudah di data atau dipanjar sebelum pemilihan. Dimana besaran uang yang mereka terima mulai dari Rp.200.000 – Rp.500.000.

Dengan jumlah uang yang begitu besar masyarakat Pakpak Bharat yang memang masih dalam garis kemiskinan merasa mendapat air di tengah gurun pasir, sehingga mereka tidak perlu berpikir dua kali untuk menerima uang tersebut. Terjadilah jual beli suara seperti tawar menawar barang, karena kandidat mana yang lebih banyak memberikan uang maka dia yang akan dipilih oleh masyarakat. Secara logika dengan diterimanya uang dari kandidat oleh masyarakat, maka pada saat itu juga masyarakat sudah dibeli haknya dan juga sudah dibungkam mulutnya, karena ketika masyarakat hendak menuntut apa yang menjadi kebutuhanya mereka tidak memiliki hak lagi, karena suara mereka telah dibeli pada saat pemilihan. Satu hal yang harus kita pahami bersama bahwa tidak ada pendidikan apa pun yang dapat menjawab politik uang, kecuali masyarakat itu sendiri yang menetukan pilihan dan bagaimana nasib mereka ke depan.

Terpilihnya Bupati dan Wakil Bupati sekarang, diharapkan jangan merasa puas dan bangga dulu, karena mereka terpilih bukan karena murni dukungan masyarakat yang melihat kemampuan tapi karena melihat UANG. Dan masyarakat juga jangan merasa senang dulu, karena dengan menangnya calon yang dipilih karena uang, maka masyarakat juga harus sudah siap-siap untuk menderita selama 5 tahun karena uang yang diterima akan diambil kembali melalui dana-dana yang seharusnya untuk pembangunan masyarakat.

Melihat kondisi ini timbul pertanyaan besar, dimana fungsi dan peran Panwas yang katanya mendapat mandat untuk melakukan pengawasan PEMILUKADA ???? Ternyata semuanya hanya NOL besar. Lemahnya sistem pengawasan dalam proses pemilihan menimbulkan banyak kecurangan di kalangan masyarakat, atau sebenarnya PANWAS juga sudah ikut dibeli oleh kandidat calon bupati?? Sungguh ini sesuatu hal yang sangat memprihatinkan. Kalau begini, mau dibawa kemana Pakpak Bharat ini……….???? (ROS)

Money Politic

        Maraknya aksi politik uang diduga kuat menjadi alasan kekalahan bagi pasangan AMAN. Padahal diketahui bahwa politik uang tidak saja merusak mental masyarakat dan hanya menjadi pintu masuk aksi korupsi para pemimpin daerah.  Jika warga rela menukar suara mereka dengan uang, maka secara tidak langsung masyarakat juga menyetujui calon kepala daerah  yang membayar suara mereka untuk korupsi jika duduk menjadi pemimpin mereka nantinya, dan ikut andil dalam aksi penyuapan.

         Padahal, jika ada pasangan calon pemimpin yang murni dan tidak mau beli suara/menyogok rakyat, mereka akan benar-benar bekerja keras dan bertanggung jawab kepada rakyatnya karena mereka jujur dan ingin membangun daerahnya bersama-sama dengan rakyat yang memilih mereka. (DJ)

Iklan
Explore posts in the same categories: Artikel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: