Thema Kita

“Pendidikan Perempuan untuk Kebangkitan dan Kemajuan Bangsa”

Saat ini, sedikitnya 8,3 juta orang Indonesia masih buta aksara atau tidak bisa menulis dan membaca huruf latin. Hal ini berdasarkan data Kementrian Pendidan Nasional, dan lebih dari separuhnya perempuan dan di dominasi usia 45 tahun ke atas. Angka ini sangat memprihatinkan, karena mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan salah satu tujuan negara ini didirikan.

Kurangnya pemerataan fasilitas pendidikan dan tenaga guru di daerah pelosok menyebabkan banyak anak pedesaan tidak mengecap pendidikan yang berkualitas, sehingga mereka tidak bisa bangkit dan membangun daerah mereka dengan pengetahuan yang baik. Seperti diketahui, pendidikan sangat erat kaitannya dengan kemampuan dan keberdayaan untuk melakukan sesuatu yang berguna. Tanpa pendidikan, sangat sulit bagi kita untuk maju. Khususnya bagi perempuan. Pada awal kebangkitan perempuan pada awal tahun 1900-an, pendidikan adalah salah satu pintu masuk bagi perempuan untuk bangkit dan melakukan pekerjaan bagi kesejahteraan dan kemajuan perempuan dan bangsa.

Hingga saat ini, pendidikan juga salah satu kebutuhan utama untuk kebangkitan bangsa. Pendidikan akan memupuk kepercayaan diri seseorang dan mendorongnya lebih berdaya guna untuk meningkatkan kesejahteraan dan kekuatan bangsa. Pengarusutamaan gender dalam kurikulum juga menjadi agenda penting yang harus dilaksanakan penyelenggara pendidikan. Dengan begitu, angka perempuan buta hutuf dan berpendidikan rendah bisa ditekan.

Selain itu kesadaran gender masyarakat bisa menjadi sebuah kekuatan bagi perempuan untuk bangkit dalam upaya memajukan bangsa dan negara. Seharusnya pendidikan yang berkualitas dan merata menjadi sebuah keharusan bagi seluruh rakyat Indonesia. Sayangnya, pendidikan masih saja merupakan ‘barang’ yang mahal. Warga ekonomi lemah akan sulit menjangkau bangku sekolah yang tinggi dan berkualitas. Hal ini menyebabkan kualitas kehidupan masyarakat juga ikut timpang, dimana kebanyakan masyarakat Indonesia berada di kalangan bawah.

Di samping itu, negara bukan hanya bertanggung jawab atas pendidikan formal, tetapi juga untuk pendidikan luar sekolah (non formal). Bahkan Indonesia adalah salah satu negara yang menyepakati bagaimana pentingnya pendidikan/pembelajaran seumur hidup (lifelong learning), dimana kelompok orang yang paling tersisihkan dari pendidikan ini bukan hanya orang miskin, tetapi juga perempuan.

Pemerintah sebagai penyelenggara negara bertanggung jawab penuh terhadap kualitas pendidikan rakyatnya. Adanya program sekolah gratis dan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) merupakan beberapa upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas dan pemerataan pendidikan di tanah air. Tetapi ini tidak cukup. Perhatian penuh harus diberikan oleh negara dan masyarakat sendiri agar pendidikan merupakan “pembelajaran seumut hidup” bagi semua. Mengutip kata-kata yang disampaikan para ahli pendidikan, “Dunia adalah planet untuk belajar, dan hidup itu sendiri adalah kurikulumnya”.  (DJ/DL)

Iklan
Explore posts in the same categories: Tema Kita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: