23 Juni, Hari “Janda” Internasional

(Janda = Perempuan Kepala Keluarga/PEKKA)

Tidak banyak yang mengetahui bahwa banyak janda-janda di dunia merupakan pahlawan bagi keluarganya. Hal inilah yang melatarbelakangi munculnya sebuah penghormatan bagi ibu-ibu orangtua tunggal yang berjuang keras menghidupi dan melindungi anak-anaknya, dengan menetapkan tanggal 23 Juni sebagai Hari Janda Sedunia atau International Widow Day. Di Indonesia, janda kemudian sering disebut dengan istilah yang lebih menunjukkan posisi setara janda dengan perempuan lain, yaitu Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA).

Hari Janda Internasional, diumumkan pertama oleh Cherie Blair di sebuah acara makan siang pada 26 Mei 2005 yang diberikan oleh Trust Loomba (sebuah yayasan amal), dan secara resmi diumumkan di PBB pada 21 Oktober 2005, di hadapan Kofi Annan (Sekjen PBB saat itu) dan Cherie Blair. Trust Loomba didirikan oleh Raj Loomba dan istrinya, Veena, pada 1997. Misi Trust Loomba adalah untuk mendidik anak-anak janda miskin di India sehingga mereka dapat memiliki masa depan yang lebih baik.

Ketua Wali Amanat, Raj Loomba, mendirikan The Trust Loomba dalam memori dari ibunya, yang menjanda pada usia awal 37 di India pada 1954 dengan tujuh anak-anak untuk hidup dan meningkatkan diri. Ibunya, Shrimati Pushpa Wati Loomba , yakin bahwa anak-anaknya harus masing-masing memiliki pendidikan penuh meskipun dia sendiri tidak sekolah. Ada ribuan janda di India yang berada pada posisi kurang beruntung yang tak punya pilihan. Hidup miskin, namun ada juga yang bisa hidup dengan ekonomi yang cukup. Menjadi seorang janda dalam masyarakat bukanlah dosa tapi pasti membawa stigma sosial, yang melemahkan posisi sosial di masyarakat.

Tidak hanya di India, tetapi di seluruh dunia, ternyata cukup banyak perempuan menjanda. Di seluruh dunia sedikitnya 245 juta perempuan hidup menjanda. Bukan hanya karena kematian suami, karena sakit, bercerai, laki-laki tidak mengakui kehamilan perempuan, ditinggalkan, tetapi juga karena perang atau konflik bersenjata.  Sebagian besar dari mereka terlilit kemiskinan dan berbagai persoalan lainnya, termasuk stigma atau pandangan negatif yang ditujukan kepada para janda. Di Indonesia, data Susenas 2007 menunjukkan bahwa jumlah janda atau PEKKA mencapai 13.60 % atau   6 juta orang, di mana jumlah mereka ditambah rumah tangga atau keluarga yang dipimpinnya, berjumlah 30 juta orang.

Para janda atau PEKKA adalah perempuan yang sama haknya dengan manusia lain. Mereka menjadi janda karena berbagai hal, dan bukan karena pilihan yang menggembirakan. Tantangan yang mereka hadapi berbeda dengan perempuan lain. Bahkan mungkin sebagian dari kita adalah PEKKA. Oleh karenanya, hargai janda, harga PEKKA, dan hargai seluruh perempuan. Hidup Perempuan…. (DJ-DL/berbagai sumber).

Explore posts in the same categories: Artikel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: