Tema Kita

“Stop Diskriminasi terhadap Anak Perempuan”

Anak adalah pelita hati, generasi penerus, masa depan bumi. Ungkapan ini bukanlah tanpa sebab bisa keluar dari mulut orangtua. Keberadaan anak identik dengan tumbuhnya cinta dan kejujuran laku dan tingkah mereka. Sayangnya, orang dewasa sering memaksa kehendak dan menafikan bahwa seorang anak balita pun punya hak bicara tentang keinginan mereka.

Keegoisan orang dewasa kerap membuat anak kehilangan minat alami yang tumbuh di diri mereka. Hal ini berkaitan erat dengan cita-cita dan obsesi anak ketika dewasa kelak. Bagaimana mereka tumbuh terkadang terlalu mendapat kungkungan dari orang dewasa di sekitar mereka. Perbedaan jenis kelamin, tingkat ekonomi keluarga, latar belakang sosial dan agama, sering menjadi sekat-sekat yang membuat ruang gerak anak menjadi terbatas.

Kondisi ini tentu saja sangat merugikan pertumbuhan pola pikir dan mental anak, terutama bagi anak perempuan. Yang karena seksualitasnya ia dibatasi bergerak. Misalnya, bahwa karena dia anak perempuan maka beban kerjanya adalah seputar pekerjaan rumah tangga, tetapi hal ini tidak dibebankan kepada anak laki-laki. Dari sisi pendidikan, anak perempuan juga masih dipinggirkan. Kesempatan mengecap pendidikan lebih besar diberikan kepada anak laki-laki, karena dianggap akan memiliki karir sehingga bisa menafkahi keluarga, sementara perempuan tidak didorong untuk berkarir dan meraih karir setinggi ia mampu, karena hanya akan ditempatkan sebagai istri dengan beban kerja pekerjaan rumah tangga dan mengurus anak.

Padahal secara hukum, hak dan kewajiban (anak) laki-laki dan perempuan sama. Namun faktanya secara sosial dan budaya terjadi pembedaan peran anak laki-laki dan perempuan berdasarkan jenis kelaminnya. Seharusnya pembagian peran harus didasarkan pada asas kemampuan dan minat. Pendidikan bias gender yang diterapkan sejak kecil akan membangun sebuah menara ketidakadilan yang akan menyebabkan ketimpangan di masyarakat secara kolektif (bersama-sama).

Sejak kecil anak-anak dididik untuk bersikap adil dan bijaksana. Bagaimana memutuskan, bertindak, dan bertanggung jawab atas keputusan dan tindakannya itu. Pengetahuan sains, seni, budaya, olahraga, dan lainnya diberikan secara utuh berdasarkan kemampuan dan minat mereka. Dilatih secara bersama-sama, laki-laki dan perempuan, agar tumbuh jiwa kompetisi yang sehat dan seimbang, dan bagaimana menjalin kerja sama dalam rangka membangun kepentingan bersama.

Hari Anak Nasional yang diperingati setiap tanggal 23 Juli terus mengingatkan kita bahwa anak adalah generasi bangsa, masa depan dunia. Rawatlah anak sebaik mungkin, didiklah anak sebijaksana mungkin, dan dukunglah anak mencapai cita-cita dan harapan mereka. Serta,jangan diskriminasikan anak perempuan. Anak perempuan dan laki-laki mempunyai hak yang sama (DJ)

Iklan
Explore posts in the same categories: Tema Kita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: