Kekerasan Terhadap Anak, Mengancam Masa Depan Kita

Semua orang pasti setuju dengan anggapan bahwa anak adalah aset masa depan bagi keluarga dan bangsa. Tapi begitu mirisnya ketika di banyak media elektronik atau cetak banyak terjadi kasus kekerasan terhadap anak. Entah itu dari orang-orang dekat (keluarga) atau orang-orang luar dari keluarga mereka. Selain perempuan, anak – anak adalah kelompok yang paling rentan untuk mengalami kekerasan. Untuk itu, perlindungan dan pengawasan sangat dibutuhkan.

Bulan Juli setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Anak Nasional. Meskipun demikian tetap saja kesejahteraan anak – anak di Indonesia masih jauh di bawah standar. Hal ini bisa kita lihat di jalan – jalan, di pelabuhan  dan sebagainya, masih banyak terjadi eksploitasi pada anak. Selama masa pertumbuhan mereka, seharusnya anak-anak menimba ilmu dan bersosialisasi di sekolah. Namun tidak sedikit anak yang karena ketidakmampuan ekonomi orangtuanya terpaksa ikut mencari nafkah dan jauh dari akses pendidikan. Kurangnya perhatian keluarga dan beban kerja, anak-anak sering menjadi korban kekerasan baik fisik, psikis, maupun seksual, terutama bagi anak perempuan.

Khusus untuk kasus kekerasan seksual terhadap anak, di Sumatera Utara terbilang tinggi.  Berdasarkan  data dari kasus Kekerasan Terhadap Anak yang didampingi WCC Sinceritas PESADA untuk semester I tahun ini ada 15 kasus sedangkan berdasarkan kliping koran lokal ada 25 kasus. Dari hasil kajian PESADA terhadap kasus-kasus kekerasan seksual terhadap anak dapat disimpulkan bahwa karakteristik pelaku adalah orang yang dikenal baik atau orang yang dekat dengan korban misalnya tetangga, pendidik, keluarga.

Sejauh ini, UU Perlindungan Anak cukup membantu penanganan anak korban kekerasan. Namun penanganan secara hukum sering terkendala karena sulit dalam pembuktiannya, antara lain dibutuhkan saksi yang melihat terjadi tindak kekerasan tersebut. Sementara kasus kekerasan seksual sering terjadi ketika tidak ada orang lain yang melihat, misalnya di tempat sepi dan  di ruangan tertutup. Kejelian dan kepedulian orangtua dan keluarga menjadi sangat penting dalam rangka mencegah terjadinya aksi kekerasan kepada anak, menangani dan merawat  anak korban kekerasan. Jika terjadi kekerasan, bisa melaporkan ke polisi dan LSM yang menangani anak segera agar bisa diambil tindakan yang diperlukan terutama untuk menindak tegas si pelaku kekerasan.

Dampak negatif kekerasan pada anak tidak hanya berdampak secara fisik tetapi juga psikologis. Pelecehan seksual pada anak bisa menimbulkan efek trauma selama bertahun-tahun atau bahkan seumur hidup jika tidak diberikan konseling. Pendampingan secara psikologis sangat dibutuhkan bagi korban.

Untuk mengatasi persoalan kekerasan seksual pada anak dibutuhkan kerjasama dari semua pihak, terutama masyarakat/lingkungan di sekitar korban. (KL)

Iklan
Explore posts in the same categories: Artikel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: