Diskusi Penyadaran Gender untuk CU Sipalakki Dolok Sanggul

Kegiatan rutin yang dilakukan PESADA di kelompok dampingannya selain penabungan di kelompok CU juga memberikan pendidikan non formal kepada perempuan desa melalui diskusi bulanan. Banyak topik yang didiskusikan di kelompok, seperti hak perempuan, pengetahuan mengenai reproduksi, pentingnya perempuan duduk dalam pengambilan keputusan, gender, hak anak, dan sebagainya. Bahan diskusi diambil dari bermacam referensi, seperti Suara Perempuan yang terbit setiap bulannya, UU Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (P-KDRT), UU Perlindungan Anak dan isu yang hangat dan berkembang di masyarakat.

Pada 18 Juli 2010 lalu terlaksana diskusi bulanan di CU Sipalakki Pakkat, Dolok Sanggul dengan topik penyadaran gender.  Diskusi kelompok ini difasilitasi oleh Berliana Purba dan Ganda Maria Siregar. Diskusi penyadaran Gender ini menurut anggota CU adalah yang pertama kali dilaksanakan. Dari awal diskusi semua anggota sangat aktif dan berpartisipasi mengikuti proses diskusi.

Pada sat diskusi Fasilitator menjelaskan apa perbedaan Laki-laki dan Perempuan secara kodrat, dimana  kodrat artinya: Pemberian Tuhan kepada manusia sejak lahir, sama di seluruh dunia dan susah dipertukarkan.

PEREMPUAN

•              Perempuan mengalami haid;

•              Memiliki rahim

•              Bisa hamil dan melahirkan

•              Menyusui anak

•              Alat kelamin disebut vagina

•              Mempunyai hormon progesteron

LAKI-LAKI

  • Menghasilkan sperma
  • Alat kelamin disebut penis
  • Dalam testis terdapat hormon testosteron

Banyak tuntutan masyarakat kepada perempuan. Misalnya perempuan itu harus cantik, putih, dan wangi. Hal itu dimanfaatkan oleh kapitalis (pemilik modal) melalui iklan di media massa yang menjadikan perempuan menjadi obyek atau sasaran, misalnya dalam produk kecantikan, sabun, shampo. Selain itu perempuan harus bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti mencuci, menyetrika, dsbnya, sementara lelaki tidak dibebankan hal yang sama. Hal inilah yang disebut dengan gender. Gender adalah perbedaan secara sosial antara laki-laki dan perempuan. Masyarakat memberikan batasan dan memelihara perbedaan antara laki-laki dan perempuan secara sosial berupa pembagian tugas, peran sampai nilai-nilai.

Di masyarakat, perbedaan laki-laki dan perempuan cenderung merugikan perempuan. Tubuh perempuan yang berbeda dengan laki-laki seringkali menjadi sumber diskriminasi sehingga di anggap wajar kalau laki-laki melakukan kekerasan terhadap perempuan. Karena perempuan dianggap lebih lemah dari laki-laki. Selain itu, misalnya karena perempuan melahirkan, maka dia bertanggungjawab untuk mengasuh, merawat anak, sedangkan laki-laki hanya bertugas sebagai pencari nafkah keluarga.

Mengenai peran ada 3 jenis peran gender atau perbedaan peran antara laki-laki dan perempuan, yaitu:.

Peran Produksi

Kegiatan yang menghasilkan uang

Perempuan yang memasak setiap hari di rumah tangga dianggap wajar dan tidak pernah dinilai dengan uang namun jika pekerjaan memasak tersebut dilakukan oleh laki-laki, maka akan ada nilai produksinya.

Peran Reproduksi

Semua Pekerjaan rumah tangga yang dilakukan oleh Perempuan seperti mengurus dan membesarkan anak, belanja kebutuhan rumah tanggaa. Pekerjaan ini tidak pernah dianggap sebagai  pekerjaan yang produktif namun itu dianggap sebagai kewajiban Perempuan untuk melakukannya. Padahal pekerjaan ini membutuhkan waktu yang banyak dan harus dilakukan secara terus menerus.

Peran Sosial di Masyarakat

Dalam oraganisasi, rapat-rapat pembagian tugas terjadi dimana Laki-laki pengambil keputusan sedangkan perempuan hanya mempersiapkan makanan, seksi konsumsi yang merupakan perpanjangan dari peran reproduksi.

Akibat dari pembedaan di atas, muncul juga pembagian arena atau ranah bagi perempuan dan laki-laki, di mana perempuan berada di area rumah tangga atau domestic dan laki-laki di luar lingkup rumah tangga atau public. Pada akhirnya terjadi 5 bentuk ketidakadilan yang dialami oleh perempuan yaitu.

1.         Kekerasan

a. Kekerasan Fisik: tampar, tendang, dibunuh dengan menggunakan senjata tumpul, dll

b. Kekerasan Psikis: diancam, difitnah, dimaki, didiamkan, direndahkan

c. Kekerasan Seksual: diperkosa, disodomi

d. kekerasan ekonomi: tidak dinafkahi (ditelantarkan secara ekonomi)

  1. Subordinasi/penomorduaan

Perempuan dianggap lebih rendah dari laki-laki, baik dalam bidang Politik, budaya, sosial. Misalnya: Bila ada Perempuan yang mencalonkan diri menjadi caleg, masyarakat memandang sebelah mata terhadap kemampuan perempuan.

  1. 3. Marginalisasi

Peminggiran dan pemiskinan perempuan secara ekonomi. Misalnya: Jika ada Rumah atau tanah, maka kepemilikan atas nama suami sedangkan istri hanya berhak untuk mengolah dan tidak ada harta atas nama istri. Hal ini membuat perempuan tidak bisa berhutang atau meminjam ke lembaga keuangan seperti bank. Kalaupun bisa, biasanya pihak lembaga keuangan akan meminta persetujuan dari suami terhadap hutang yang dipinjam perempuan.

4. Beban berlebihan/Beban ganda

Meskipun saat ini sudah banyak perempuan yang bekerja di luar rumah seperti pabrik, kantor,dsbnya namun Perempuan harus bertanggungjawab untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga.

5.         Pelabelan/Stereotype:

Misalnya, orang yang tinggal di lokalisasi di cap sebagai perempuan yang tidak benar sehingga setiap kali ada Razia dari Pamong Praja atau Satpol PP maka yang dikejar dan dimasukkan dalam panti PARAWASA adalah Perempuan sedangkan laki-laki yang datang ke tempat itu tidak pernah ikut ditangkap dan selalu dilepaskan saat ada Razia. Selain itu, kasus video mesum antara Ariel Peterpan dengan Luna Maya serta Cut Tari, perempuan yang selalu dipojokkan dan dicemooh serta dipaksa untuk meminta maaf kepada masyarakat Indonesia.

Ketidakadilan terhadap perempuan bisa dihapuskan. Caranya mulailah dari diri sendiri dan keluarga. Karena masih banyak perempuan yang belum selesai tentang gender dan banyak perempuan bukannya mendukung perempuan keluar dari ketidakadilan malahan dia berkontribusi terhadap terjadinya ketidakadilan terhadap perempuan, seperti perempuan yang masih ragu memilih perempuan saat pencalegan, dll.

Di akhir diskusi seluruh anggota kelompok meminta PESADA agar memfasilitasi Penyadaran Gender untuk suami anggota CU. Hal ini dilakukan agar ada pemahaman bersama yang benar tentang perempuan dan laki-laki. Selain itu juga agar berkurang jumlah perempuan yang mendapat kekerasan dari suami. (BP)

Iklan
Explore posts in the same categories: Dari Kegiatan Kita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: