Kesan Pertama di Medan, Macet!

Ketika tiba di Bandara Polonia, saya begitu gugup. Karena saya tidak tahu seperti apa Medan, bagaimana proses magang saya akan berlangsung, bagaimana saya akan tinggal, dan lain-lain. Namun ketika ayah asuh saya di Medan dan dua anak perempuannya terlihat begitu ramah sambil menunjukkan tanda bertuliskan nama saya, saya jadi sedikit lega. Saya senang karena ternyata mereka bisa berbahasa Inggris juga, karena saya tidak begitu bisa berbahasa Indonesia.

Ketika perjalanan dari bandara ke rumah,  barulah terasa sedikit mengejutkan. Begitu banyak kemacetan dan bunyi klakson kendaraan di jalanan. Kendaraan saling menyalip. Bagi saya ini sungguh tidak disiplin, karena di Swiss, negara saya, hal semacam ini dilarang. Jarak antara rumah baru saya dari bandara sebenarnya tidak begitu jauh, tapi karena begitu banyak kendaraan terutama sepeda motor dan macet, waktu tempuhnya jadi lebih lama.

Setibanya di ‘rumah’, saya berpikir bahwa rumah ini cukup nyaman, sederhana. Terutama kamar mandinya. Di Swiss, saya pasti menggunakan air pancur untuk mandi, dan selalu ada air hangat. Jadi mandi dengan gayung adalah pengalaman yang baru bagi saya, termasuk soal WC yang tanpa dilengkapi tombol penyiram otomatis, saya harus menyiramnya dengan gayung.

Keterkejutan saya juga terjadi di meja makan. Saya tidak terbiasa untuk berdoa dulu sebelum makan, ataupun makan dengan jari, biasanya langsung makan dengan sendok dan garpu. Tapi di sini saya mencoba keduanya, dan ini menyenangkan. Padahal di Swiss, makan pakai jari dianggap tidak sopan.

Ketika saya tiba di Medan, semua terlihat sama saja. Saya tersesat saat berangkat ke kantor PESADA di hari pertama. Saya duduk di angkot dari rumah, dan orang-orang terus menatap saya, seolah-olah saya ini makhluk dari planet Mars. Tapi saya coba tenang dan konsentrasi pada tempat yang mau saya tuju. Tapi tetap saja saya tersesat. Saya coba tanya kepada supir angkotnya, tapi sayangnya dia tidak bisa bahasa Inggris. Supir itu kemudian ingin menurunkan saya di kantor polisi, tapi saya tolak dan akhirnya saya jadi naik becak saja. Setelah 20 menit naik becak, saya akhirnya tiba juga di kantor PESADA. Sejak itu, saya tidak pernah kesasar lagi. Dan sekarang, setelah tiga minggu melewati jalur yang sama, saya bisa berkeliling di sekitar.

Bekerja di PESADA cukup menarik. Hanya saja sayang sekali saya tidak bisa bahasa Indonesia, kalau tidak saya pasti bisa melakukan lebih banyak hal. Misalnya soal metode Credit Union yang benar-benar baru bagi saya. Saya terkesan, dan saya pikir CU adalah jalan keluar bagi masyarakat ekonomi lemah. Sekali waktu saya berkesempatan untuk datang ke pertemuan bulanan anggota CU. Seluruh anggota CU perempuan, mereka cukup ramah dan bertanya banyak hal kepada saya. Kemudian saya disuguhi kopi dan makanan oleh pemilik rumah tempat pertemuan diadakan. Meskipun komunikasi cukup sulit, karena mereka tidak bisa bahasa Inggris sama seperti saya tidak bisa bahasa Indonesia, tapi kami berkomunikasi dan tertawa bersama.

Minggu lalu saya menghadiri sebuah lokakarya dari Feminis Muda selama empat hari di Brastagi, yang menurut saya sangat menarik, dimana seluruh peserta terlihat sangat antusias. Ketika acara berakhir pada hari Jumat, saya memutuskan untuk tetap tinggal selama akhir pekan, dan ternyata saya jadi melihat letusan gunung Sinabung. Sungguh suatu pengalaman yang mendebarkan, terutama karena saya mendaki gunung Sibayak sehari sebelum letusan Sinabung. Saya hanya berharap letusan gunung Sinabung tidak terjadi lagi dan seluruh penduduk sekitar bisa tinggal di daerah yang aman dan kembali ke desa mereka segera. (Vera Schmid, mahasiswa magang di PESADA, dari Swiss)

Explore posts in the same categories: Artikel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: