Perempuan, Agama, dan Kekuasaan

Banyak hal yang harus dikaji soal hubungan perempuan dan kekuasaan yang melilitnya. Perempuan, yang secara statistik memiliki jumlah tertinggi ketimbang laki-laki di dunia namun faktanya hanya sebagian kecil yang hidup sejahtera dan aman. Kekuasaan terhadap dirinya dipelintir oleh dogma agama, adat, dan nilai-nilai di masyarakat. Di antaranya, bahwa perempuan harus berpakaian sopan dan berbicara dengan lembut, perempuan (istri) harus berada selangkah di belakang laki-laki (suami), perempuan harus penyabar dan pemaaf.

Hal ini menyebabkan ruang gerak dan kebebasan berpikir dan bertindak perempuan sangat terbatas. Hasilnya, banyak perempuan tidak bisa hidup mandiri karena segala tindak tanduknya selalu dibayang-bayangi pendapat orang lain, dan ketergantungan terhadap keluarga dan masyarakat membuat perempuan yang hidup dalam kungkungan seperti itu tidak bisa menikmati hidup. Menurut Prof Dr Musdah Mulia, pakar Islam yang memiliki cara pandang yang berpihak kepada perempuan (feminis), dalam agama apapun khususnya Islam, posisi perempuan sama dengan laki-laki. Hanya saja tafsir agama itu sendiri yang sering disalahartikan karena penafsir dan penulis kitab suci pada zaman itu adalah laki-laki, sehingga cara pandang yang dipakai dalam menuliskan tafsir agama adalah dari sudut pandang laki-laki.

Agama, yang selama ini dipakai laki-laki untuk membenarkan tindakannya terhadap perempuan, misalnya poligami dan memukul perempuan, seharusnya bisa dicegah untuk melakukan tindakan kekerasan dan pengungkungan terhadap perempuan. Agama selalu mengajarkan berbuat demi kebaikan orang lain, saling bekerja sama, dan menghormati. Tidak ada dikatakan bahwa laki-laki lebih tinggi derajat dan kemampuannya ketimbang perempuan. Semua sama di mata Sang Pencipta.

Selain agama, adat juga kerap melayangkan ketidakadilan terhadap perempuan. Sanksi dan tuntutan adat kepada laki-laki tidak sebanyak untuk perempuan. Bahkan norma dan nilai-nilai lebih banyak diterapkan kepada perempuan. Sejumlah Peraturan Daerah (Perda) Syariah yang mengharuskan perempuan tidak boleh keluar malam, berpakaian tertutup, dan harus bersikap lembut, rajin dalam pekerjaan rumah; sementara hal yang sama tidak dituntut dari kaum laki-laki. Dengan alasan menjaga citra dan kesucian perempuan, padahal seharusnya yang menjadi sumber aib adalah laki-laki yang sering melakukan tindakan pelecehan kepada perempuan.

Cara pandang agama dan adat yang mengungkung perempuan selama ini sudah sangat melilit ruang gerak perempuan. Kemerdekaannya sebagai manusia yang diberi pikiran untuk mencari solusi bagi masalahnya, diberi hati untuk merasakan penderitaan orang lain, sering tumpul karena tidak diasah berdasarkan keinginan dan pengalaman sendiri. Ketakutan akan bertindak dan disalahkan oleh orang lain membuat perempuan tidak punya pendapat sendiri bahkan untuk dirinya sendiri. Untuk itu, sudut pandang yang mengungkung kebebasan berpikir perempuan harus segera dihentikan. Perempuan memiliki hak yang sama dengan laki-laki untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Perempuan mampu membangun kehidupannya dan berprestasi sesuai dengan keahliannya. Kemandirian perempuan yang terbangun dari kemerdekaannya berpikir dan bertindak akan membuat kehidupan perempuan lebih bermakna dan bahagia. (DJ)

Iklan
Explore posts in the same categories: Artikel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: