Thema kita edisi 124/desember 2010

Catatan Akhir Tahun Perempuan Sumut

“Kekerasan Berbasis Gender di SUMUT Masih Tinggi”

No. 27/JARAK Perempuan SUMUT-PESADA/XII/2010

Bulan Desember adalah perayaan minggu terakhir dari 16 HARI AKTIVISME yang dimulai pada 25 November (Hari Perayaan Anti Kekerasan Terhadap Perempuan Internasional) dan berakhir pada 10 Desember (Hari HAM Sedunia), dilanjutkan dengan Hari Ibu atau yang dipahami sebagai hari perempuan oleh aktivis perempuan Indonesia pada 22 Desember. Hari Ibu adalah perayaan untuk seluruh perempuan, berapapun umurnya, menikah atau tidak menikah, mempunyai anak atau tidak dan di manapun dia berada. Hari Ibu adalah Hari Pergerakan Perempuan.

PESADA sebagai ORNOP Perempuan bersama Jaringan Aktifis/Pendukung Gerakan Perempuan SUMUT (JARAK) mengadakan  Perayaan pada 22 Desember 2010 melalui Diskusi Catatan Akhir Tahun Perempuan SUMUT sekaligus Pengenalan Buku “Menelusuri Tembok TEMBUS PANDANG Penghalang Perempuan dalam Politik” ,diakhiri dengan Aksi Damai Perempuan.

Diskusi dihadiri oleh 133 perempuan dan 16 laki-laki  yang di akhir diskusi mencatat berbagai peristiwa kekerasan berbasis gender di bidang politik, social,  ekonomi yang berdampak kepada perempuan, anak dan orang miskin di SUMUT dan Indonesia pada umumnya:

1. Jumlah perempuan yang mengalami Kekerasan Berbasis Gender (KBG) masih tinggi dan jumlah kasus yang didata masih merupakan fenomena gunung es. Ada banyak kasus KBG yang tidak dilaporkan atau diliput oleh media. Data kasus Women Crisis Center/WCC Sinceritas – PESADA mulai Januari s/d Oktober 2010 menunjukkan bahwa dari total 85 kasus yang ditangani, 59 atau 69% di antaranya adalah KDRT.  Dari kasus-kasus KDRT ini, 33 kasus atau lebih dari setengah (56%) di antaranya adalah kekerasan psikis. Secara khusus adanya kasus isteri dibakar suami hingga mati, dan maraknya perampokan diikuti perkosaan. Demikian juga diskriminasi terhadap perempuan dengan orientasi seksual minoritas.

Monitoring WCC Sinceritas-PESADA terhadap 2 koran lokal di SUMUT menunjukkan dari 88 kasus yang diberitakan, kekerasan fisik adalah peringkat tertinggi yaitu 35 kasus atau 40%. Kasus tertinggi lainnya adalah kekerasan seksual yang mencapai 32 kasus (36%), di antaranya 23 kasus pencabulan terhadap anak dan 9 kasus terhadap perempuan dewasa.

2. Jumlah perempuan di parlemen masih jauh dari batas quota 30%, dan minimnya perempuan di tingkat eksekutif. Dari 120 perempuan potensial SUMUT yang terlibat di kegiatan program peningkatan partisipasi politik perempuan JARAK & PESADA, 86 di antaranya maju di ke PEMILU/PILKADA dan ke pemilihan lainnya bidang politik; tetapi hanya 9 yang lolos (10,4%). Hal ini sejajar dengan  fakta rendahnya wakil perempuan di parlemen lokal. Di tingkat Provinsi, hanya 16 perempuan dari 100, sementara  di tingkat Kabupaten/Kota hanya ada 97 perempuan dari 1.089 anggota DPRD (8,9%); dan bahkan 5 Kabupaten tidak mempunyai wakil perempuan.

Dari 23 PILKADA periode 2010, terdapat 10 calon Kepala Daerah perempuan, dan 10 calon Wakil. Hanya satu di antaranya lolos menjadi Wakil Bupati (Simalungun) sementara 2 lainnya (Medan & Karo) berhasil masuk 2 besar di putaran kedua.

Money politics ditenggarai sebagai hambatan pertama perempuan masuk ke dunia politik, serta cara pandang yang melihat laki-laki lebih pantas menjadi pemimpin atau masuk ke dunia politik.

3. Kondisi ekonomi memburuk, dan terutama dirasakan oleh perempuan. Tingginya biaya yang dikeluarkan untuk Pendidikan, Kesehatan, dan kebutuhan dasar perempuan. Hal ini berpengaruh kepada tingkat DO anak perempuan, pernikahan dini, ibu RT yang terinfeksi HIV AIDS dan penyakit menular seksual. Juga stigma dan diskriminasi terhadap perempuan dan anak perempuan dengan HIV/AIDS dan terhadap Injection Drug User/IDU Perempuan.

Tingkat kesehatan perempuan dan anak buruk. Tingkat kematian ibu di SUMUT mencapai 50 kematian/hari; sementara anggaran untuk kesehatan khususnya kesehatan reproduksi perempuan belum mencukupi. Aktivis menilai APBD di SUMUT belum sensitif gender dan tidak pro rakyat miskin, sementara arena pengambilan keputusan sangat lemah dalam perspektif gender.

4. Gerakan perempuan yang selama ini masih didominasi oleh perempuan yang telah cukup senior di gerakan, saat ini telah mulai dimasuki oleh kelompok perempuan muda maupun feminist muda. Perempuan muda mempunyai masalah khusus yang berhubungan dengan stigma dan kerentanan sebagai anak perempuan yang berada di bawah control keluarga maupun kelompok yang lebih tua, maupun nilai-nilai social yang memandang perempuan muda dan anak perempuan sebagai kelompok yang hanya perlu “dinasehati”. Hal ini berpengaruh kepada tingkat militansi dalam gerakan, bahkan untuk kemandirian mereka sebagai perempuan.

Berdasarkan catatan peristiwa tersebut, seluruh peserta menghimbau agar:

  • Pemerintah lebih serius dalam mengimplementasikan Pengarus Utamaan Gender, Hukum yang peka gender, Anggaran yang responsive gender dan kemauan politik untuk representasi perempuan di semua institusi pengambilan keputusan.
  • Masyarakat serta institusi kemasyarakatan dan partai politik melihat masalah-masalah Kekerasan Berbasis Gender sebagai masalah serius pelanggaran HAM, ikut mendorong representasi perempuan di arena politik dan merubah cara pandang yang melihat perempuan sebagai kelompok yang lebih rendah posisinya.

Mari kita tinggalkan potret buram 2010 menuju pencerahan di tahun 2011.

HIDUP PEREMPUAN.

Iklan
Explore posts in the same categories: Tema Kita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: