KERENTANAN PEREMPUAN DAN ANAK TERINFEKSI HIV

Mencermati fenomena penularan HIV AIDS saat ini, menunjukkan bahwa perempuan dan anak menjadi kelompok yang sangat rentan atau mudah terinfeksi HIV AIDS. Posisi dan peran-peran laki-laki dan perempuan  membuat perempuan semakin mudah mengalami diskriminasi atau perlakuan yang membuat perempuan menderita, terutama apabila mereka terinveksi virus HIV AIDS (ODHA).

Data di Sumatera Utara yang dikeluarkan oleh Global Fund menunjukkan bahwa pada tahun 2010, ODHA berjumlah 2.616 orang. Sementara Laporan AIDS Depkes RI tahun Januari sampai Des 2010 menunjukkan semakin meningkatnya perempuan yang terinfeksi yaitu 33,8%.

Data tersebut sesungguhnya hanyalah merupakan fenomena gunung es, di mana kita hanya melihat sebagian kecil di puncak; padahal  sesungguhnya kemungkinan besar jauh lebih banyak dibandingkan dengan data yang kelihatan.

Kerentanan perempuan dan anak terhadap HIV/AIDS ini lebih banyak disebabkan tidak setaranya posisi perempuan dan laki-laki serta nilai-nilai yang lebih mengontrol perempuan dari pada laki-laki. Akibatnya, isteri sulit mengontrol perilaku seksual suami, pendidikan mengenai perilaku seksual lebih longgar kepada laki-laki,  serta terbatasnya akses dan pengetahuan perempuan terhadap pelayanan pengobatan HIV/AIDS.

Khusus di Indonesia, diperkirakan jumlah perempuan yang terdeteksi virus HIV akan terus meningkat karena penyebab utamanya adalah hubungan heteroseksual termasuk penularan dari suami ke istri mereka.

Pandangan masyarakat selama ini menganggap bahwa HIV/AIDS hanya dialami perempuan penjaja seks komersial (PSK) tidak benar, karena perempuan yang tidak berperilaku berisiko juga dapat terinfeksi HIV yang ditularkan suami yang suka berhubungan seksual selain dengan istrinya. Dari 3.596 perempuan yang terinfeksi HIV/AIDS, 1.970 di antaranya adalah Ibu Rumah Tangga; yang tidak bekerja di luar rumah. Sementara perempuan petani, peternak berjumlah 117 orang.

Banyak perempuan menjadi rentan karena perilaku beresiko dari orang-orang terdekatnya. Di sinilah pentingnya upaya meningkatkan posisi tawar perempuan sehingga mampu mandiri dalam memutuskan hak-hak reproduksinya.

Dari ibu yang terinfeksi HIV akan menginfeksi juga anak yang dilahirkan. Infeksi ini bisa saja terkena selama kehamilan, waktu dilahirkan dan melalui menyusui. Ibu ditularkan dari suami, sementara anak ditularkan oleh ibunya. Dalam hal ini, anak yang tidak tahu apa-apa harus menanggung akibat dari perbuatan orang tuanya. Untuk itu, kita perlu lebih memahami masalah penularan HIV AIDS dan menyadari berbagai penyebab yang berada di luar control kita. Atau yang disebut sebagai kerentanan kita sebagai perempuan. Itu sebabnya kita selalu berupaya untuk menghilangkan ketidak setaraan perempuan dan laki, agar masalah kerentanan dan kesamaan akses maupun control kita dapat semakin melindungi kita dari berbagai ketidak adilan dan kerentanan. (EEP/Dari berbagai sumber)

Explore posts in the same categories: Artikel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: