Korupsi dan Akibatnya

Korupsi secara umum dipahami sebagai perilaku pejabat publik yang secara tidak wajar memperkaya diri dengan menyalahgunakan kekuasaan publik nya dan sumberdaya public yang dipercayakan kepada mereka.

Gejala dan kasus korupsi terjadi mulai dari pejabat di Pusat (Jakarta), sampai pamong di tingkat desa. Pejabat tidak lagi memiliki kepedulian terhadap masyarakat yang terus menerus menderita terutama perempuan dan rakyat kecil. Pejabat tanpa rasa bersalah dan malu terus menerus menyakiti hati rakyatnya. Ini menjadi bukti dan tanda bahwa korupsi menjadi kebiasaan, perilaku yang diterima, bukan aib yang memalukan. Pemerintah yang menerima mandat rakyat untuk melaksanakan pembangunan dan mensejahterakan rakyatnya justru terkesan tidak berbuat apa-apa. Banyak pejabat yang ditahan karena diduga sebagai pelaku korupsi, seperti tersebut di bawah ini:

Menurut ICW, pada semester I (2010), 26 kasus korupsi terungkap di Sumut, kemudian Jawa Barat dengan 16 kasus, Jawa Tengah 14 kasus, Lampung 10 kasus dan Kaltim 7 kasus. Sedangkan di semester II, Sumut 38 kasus, Bengkulu 23 kasus, Jawa  Timur 20 kasus, Riau 20 kasus dan Sulawesi Selatan 20 kasus. Akibat korupsi ini, kerugian negara mencapai ratusan milyar.

SUMUT termasuk terbesar, bahkan Walikota Medan periode lalu bersama Wakilnya dipenjara. Saat ini GUBSU juga dipenjara. Sungguh memalukan.

Korupsi mengakibatkan kesejahteraan perempuan dan kelompok miskin terabaikan. Sementara akses kepada kebutuhan dasar sangat sulit terpenuhi. Harga terus meningkat, kemiskinan membuat perempuan dan keluarga miskin semakin terbebani. Perempuan, tidak dapat menikmati fasilitas kesehatan dan pendidikan, sebagai layanan dasar yang harus dipenuhi negara. Di bidang kesehatan, perempuan harus mengeluarkan biaya mahal untuk berobat, karena negara tidak menyediakan dana untuk layanan kesehatan yang murah dan berkwalitas.

Seharusnya  uang negara digunakan untuk pembangunan dan hal-hal yang memang berguna bagi rakyat banyak baik itu pembangunan di sektor pendidikan, kesehatan, pertanian, ekonomi dan masih banyak lagi. Ke depan, perempuan harus banyak belajar dari kenyataan ini, agar tidak menjadi kelompok pemilih yang memilih karena diiming-imingi hadiah dsb. Tetapi dengan cermat melihat kualitas para calon Pemimpin, agar masalah korupsi dan semua penyalah-gunaan kekuasaan tidak berkelanjutan. (EEP/berbagai sumber)

Iklan
Explore posts in the same categories: Artikel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: