Permasalahan yang dihadapi Pembantu Rumah Tangga (PRT)

Tahun 2011 ini tepatnya dibulan Februari, kita memperingati Hari PRT yang ke-5, sejak Hari PRT ini di buat pada tahun 2007. Hari PRT ini dilatarbelakangi oleh peristiwa penganiayaan terhadap PRT Anak bernama Sunarsih usia 14 tahun yang dianiaya oleh majikannya hingga meninggal pada tahun 2001 di kota Surabaya, dan majikannya berkali -kali melakukan penganiayaan terhadap PRT berbeda-beda namun tak pernah dihukum.

Ketika banyak orang bicara tentang keadilan, kesetaraan, demokrasi, hak asasi manusia (HAM), sepertinya orang lupa pada satu kelompok yang tidak bisa menikmati demokrasi dan hak asasi tersebut tetapi bisa membuat banyak orang tersebut merasa hebat dalam segala hal. Mereka adalah Pembantu Rumah Tangga (PRT), kelompok yang dianggap sepele dan kelompok yang dianggap tidak penting. Namun ternyata merekalah yang mempunyai andil besar bagi mereka yang menggunakan jasa PRT ini.

Pekerjaan sehari-hari yang mereka lakukan yaitu; menyiapkan sarapan, mencuci, menyetrika, menyapu dll. Tapi pernahkah kita berpikir, bahwa tanpa PRT, perempuan atau pun laki-laki yang bekerja diluar rumah tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah dan tidak bisa berkarier di luar rumah.

Sangat disayangkan sekali, PRT ini rentan terhadap kekerasan misal: fisik, psikis, ekonomi, sosial. PRT mengalami pelanggaran hak-haknya: upah yang sangat rendah ataupun tidak dibayar, jam kerja yang panjang: rata-rata di atas 12-16 jam kerja yang beresiko tinggi terhadap kesehatan. Selain itu mereka juga tidak mendapatkan hari libur mingguan, cuti,  minim kesempatan untuk bergaul atau bermasyarakat, rentan akan eksploitasi agen,  korban trafficking, tidak ada jaminan sosial, tidak ada perlindungan ketenagakerjaan, dan PRT migran berada dalam situasi kekuasaan negara lain.

Sementara di sisi lain perlindungan hukum baik di level lokal, nasional dan internasional tidak melindungi PRT. Dalam realitasnya kita tahu bahwa jutaan PRT mengalami persoalan eksploitasi, kerentanan pelecehan dan kekerasan, dan mereka tak berdaya menyuarakannya.

Hal apa yang diperbuat negara setelah beberapa tahun sejak peristiwa Sunarsih? Negara kita belum memberikan perubahan apapun dalam perlindungan PRT lokal maupun Migran. Sebagaimana kita ketahui Indonesia adalah salah satu negara dengan jumlah PRT terbesar dengan 10 juta PRT lokal dan 6 juta PRT migran. Dari 2007 sampai dengan 2011, tercatat 726 kasus kekerasan berat terhadap PRT di Indonesia, yang mana 536 kasus upah tak dibayar, 348 diantaranya terjadi pada PRTA, 617 kasus penyekapan, penganiayaan hingga luka berat, dan bahkan meninggal.

Melihat kondisi kerentanan yang dialami oleh PRT, maka hendaknya Rancangan Undang Undang tentang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga usulan dari Jaringan Nasional Advokasi Pekerja Rumah Tangga (JALA PRT) 7 April 2010 hendaknya segera disetujui, mengingat banyak kasus yang dialami PRT namun belum jelas aturan hukumnya. 

Hendaknya kita memberikan pengakuan dan penghargaan terhadap PRT bukan hanya dibulan Pebruari, namun setiap hari. Karena mereka yang telah memberikan jasa kepada kita yang membutuhkan guna mendukung kehidupan yang lebih baik (EEP/Berbagai sumber)

Iklan
Explore posts in the same categories: Artikel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: