TERIMAKASIH KARTINI

Setiap memasuki bulan April, perempuan Indonesia pasti teringat pada perjuangan yang dilakukan oleh R.A.Kartini. Kartini merupakan sosok yang penuh dengan ide-ide perjuangan yang sampai kini ide-ide tersebut dapat kita rasakan untuk hidup sehari-hari bahkan sampai ke gerakan perempuan. Semuanya adalah dalam rangka memperoleh hak asasi perempuan yang utuh. Perjuangan Kartini selalau relevan atau berguna di setiap zaman, sampai saat ini.

Karya-Karya Kartini

Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). Itulah judul buku dari kumpulan surat-surat Raden Ajeng Kartini yang terkenal. Surat-surat yang dituliskan kepada sahabat-sahabatnya di negeri Belanda itu kemudian menjadi bukti betapa besarnya keinginan dari perempuan bernama Kartini untuk melepaskan perempuan dari diskriminasi yang sudah membudaya pada zamannya. Apa yang terdapat dalam buku itu sangat berpengaruh besar dalam mendorong kemajuan perempuan Indonesia karena isi tulisan tersebut telah menjadi sumber motivasi perjuangan bagi perempuan Indonesia hingga hari ini.

Selain itu, dalam buku “ Panggil Aku Kartini Saja”  karya Pramoedya Ananta Toer, juga tidak jauh beda dengan buku “Habis Gelap Terbitlah Terang “ yang berisikan bahwa Kartini sudah memiliki pemikiran yang luas pada masanya. Disamping  itu, Kartini juga menguasai bahasa Belanda yang fasih sehingga dia dapat berkomunikasi baik dengan orang-orang dari Belanda untuk berbagi informasi atau sekedar menyampaikan keinginan Kartini pada masa itu.

Emansipasi

Makna emansipasi yang dipahami sebagai persamaan hak, mempunyai arti luas bagi Kartini. Bukan hanya menyangkut persamaan hak atas pendidikan, tapi juga antar klas atau lapisan posisi masyarakat atas dasar keturunan raja-raja, seperti budaya Jawa yang pada masa itu sangat kuat dengan kaum ningrat sebagai klas atas.

Di bawah ini adalah petikan surat-surat Kartini yang menggambarkan pergolakan pikiran, keinginan untuk lepas dari penindasan; bukan hanya bagi dirinya, tapi bagi perempuan dan klas bawah atau golongan yang dibuat lebih rendah dari yang lain atas dasar keturunan, umur, jenis kelamin, dll.

MENGENAI EMANSIPASI KHUSUSNYA PENDIDIKAN PEREMPUAN

  • Jika saja masih anak-anak ketika kata-kata “Emansipasi” belum ada bunyinya, belum berarti lagi bagi pendengaran saya, karangan dan kitab-kitab tentang kebangunan kaum putri masih jauh dari angan-angan saja, tetapi dikala itu telah hidup didalam hati sanubari saya satu keinginan yang kian lama kian kuat, ialah keinginan akan bebas, merdeka, berdiri sendiri. (Suratnya kepada Nona Zeehandelaar, 25 Mei 1899)
  • Kami beriktiar supaya kami teguh sungguh, sehingga kami sanggup diri sendiri. Menolong diri sendiri. Menolong diri sendiri itu kerap kali lebih suka dari pada menolong orang lain. Dan siapa yang dapat menolong dirinya sendiri, akan dapat menolong orang lain dengan lebih sempurna pula. (Suratnya kepada Nyonya Abendadon, 12 Desember 1902)
  • Alangkah besar bedanya bagi masyarakat Indonesia bila kaum perempuan dididik baik-baik. Dan untuk keperluan perempuan itu sendiri, berharaplah kami dengan harapan yang sangat supaya disediakan pelajaran dan pendidikan, karena inilah yang akan membawa bahagia baginya (Suratnya kepada Nyonya Van Kool, Agustus 1901)
  • Aku mau meneruskan pendidikanku ke Holland, karena Holland akan menyiapkan aku lebih baik untuk tugas besar yang telah kupilih. (Surat Kartini kepada Ny. Ovink Soer, 1900)

MENGENAI KLAS atau POSISI  

  • Bagi saja ada dua macam bangsawan, ialah bangsawan fikiran dan bangsawan budi. Tidaklah yang lebih gila dan bodoh menurut pendapat saya dari pada melihat orang yang membanggakan asal keturunannya. (Suratnya kepada Nona Zeehander, 18 Agustus 1899)
  • Bagi saya hanya ada dua macam keningratan : keningratan pikiran dan keningratan budi. Tidak ada yang lebih gila dan bodoh menurut persepsi saya daripada melihat orang, yang membanggakan asal keturunannya. Apakah berarti sudah beramal soleh, orang yang bergelar Graaf atau Baron? Tidak dapat mengerti oleh pikiranku yang picik ini. (Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899)
  • Sesungguhnya adat sopan-santun kami orang Jawa amatlah rumit. Adikku harus merangkak bila hendak lalu di hadapanku. Kalau adikku duduk di kursi, saat aku lalu, haruslah segera ia turun duduk di tanah, dengan menundukkan kepala, sampai aku tidak kelihatan lagi. Adik-adikku tidak boleh berkamu dan berengkau kepadaku. Mereka hanya boleh menegur aku dalam bahasa kromo inggil (bahasa Jawa tingkat tinggi). Tiap kalimat yang diucapkan haruslah diakhiri dengan sembah. Berdiri bulu kuduk bila kita berada dalam lingkungan keluarga bumiputera yang ningrat. Bercakap-cakap dengan orang yang lebih tinggi derajatnya, harus perlahan-lahan, sehingga orang yang di dekatnya sajalah yang dapat mendengar. Seorang gadis harus perlahan-lahan jalannya, langkahnya pendek-pendek, gerakannya lambat seperti siput, bila berjalan agak cepat, dicaci orang, disebut “kuda liar”. (Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899)
  • Peduli apa aku dengan segala tata cara itu … Segala peraturan, semua itu bikinan manusia, dan menyiksa diriku saja. Kau tidak dapat membayangkan bagaimana rumitnya etiket di dunia keningratan Jawa itu … Tapi sekarang mulai dengan aku, antara kami (Kartini, Roekmini, dan Kardinah) tidak ada tata cara lagi. Perasaan kami sendiri yang akan menentukan sampai batas-batas mana cara liberal itu boleh dijalankan. (Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899)
  • Orang kebanyakan meniru kebiasaan orang baik-baik; orang baik-baik itu meniru perbuatan orang yang lebih tinggi lagi, dan mereka itu meniru yang tertinggi pula ialah orang Eropa. (Surat Kartini kepada Stella, 25 Mei 1899)

MENGENAI AGAMA

        “Agama yang paling indah & paling suci ialah Kasih Sayang. Dan untuk dapat hidup menurut perintah luhur ini, haruskah seorang mutlak menjadi Kristen? Orang Buddha, Brahma, Yahudi, Islam, bahkan orang kafir pun dapat hidup dengan kasih sayang yang murni” (Kartini, 14 Desember 1902)

Kartini memang adalah pejuang hak-hak perempuan dan hak kelompok yang tertindas. Sebagaimana seorang pejuang, dia tidak menikmati hasil-hasil perjuangannya, tetapi kita perempuan dari generasi-generasi setelah Kartini menikmatinya, meski perjuangan atas penegakan hak-hak azasi perempuan masih panjang. Terimakasih Kartini.

(dikutip dari berbagai sumber oleh DL)

Explore posts in the same categories: Tak Berkategori

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: