Keprihatinan Terhadap Kondisi Perempuan dalam Pendidikan

Peringatan Hari Pendidikan Nasional  sudah sepatutnya dilihat sebagai momen untuk melihat kembali sejauh mana perempuan telah mengakses atau menikmati pendidikan.

Menurut Kemendiknas melalui data per akhir tahun 2010, sekitar 8,3 juta penduduk Indonesia (usia 15 tahun ke atas) mengalami buta huruf. Sebanyak 64% atau sekitar 5,3 juta di antaranya ternyata adalah perempuan dewasa.

Selain angka buta huruf yang cukup besar, jumlah TKI atau buruh migran hingga Januari 2011, menurut kementerian Luar Negeri, mencapai 4-5 juta orang. Sebagian besar dari mereka adalah perempuan atau dikenal dengan istilah TKW/buruh migran perempuan. Kebanyakan buruh migran perempuan tersebut bekerja di sektor rumah tangga atau sebagai Pekerja Rumah tangga (PRT). Kenyataan ini menandakan betapa buruh migran perempuan lebih banyak bekerja pada sektor-sektor non formal yang tidak membutuhkan pendidikan dan keterampilan.

Tak dapat disangkal, bahwa faktor yang menyebabkan lemahnya daya tawar buruh migran Indonesia, khususnya buruh migran perempuan, karena tingkat pendidikan yang rendah. Sebagian besar dari buruh migran tersebut, merupakan lulusan SMP hingga SMA; bahkan SD. Sempitnya lapangan pekerjaan bagi perempuan dengan pendidikan rendah di Indonesia yang didukung oleh mahalnya pendidikan ini lah yang mendorong para TKW untuk pergi keluar negeri mencari pekerjaan.

Dua hal yang selalu disebut sebagai penyebab masalah ini, yaitu kemiskinan dan masalah gender. Peran dan posisi perempuan membuat perempuan mempunyai akses yang terbatas ke pendidikan.

Pengalaman WCC Sinceritas – PESADA dalam menangani korban traficiking atau perdagangan perempuan sangat mendukung hal di atas. Cukup banyak kasus di manaanak perempuan dikorbankan dari bangku sekolah untuk membantu ekonomi keluarga. Menjadi pekerja di usia dini di luar rumah tangga, atau mengganti peran ibu untuk mengurus rumah tangga. Pernikahan dini juga menjadi salah satu jalan keluar dari kemiskinan keluarga. Anak-anak perempuan ini menjadi target atau sasaran empuk untuk dikirim sebagai TKW dengan menambah umurnya agar dapat memperoleh passport. Beberapa kasus yang ditangani kemudian menunjuk bagaimana anak-anak ini kemudian pulang membawa anak hasil perkosaan, pelecehan seksual maupun ingkar janji.

Di luar masalah ini, perempuan korban KDRT, suami yang tidak bekerja atau bertanggung jawab secara ekonomi, memaksa perempuan keluar mencari pekerjaan. Hal ini ditambah dengan tawaran para agen yang menggiurkan menjadi penarik utama TKW. Luar negeri juga menjadi tujuan para perempuan yang ingin menghilangkan trauma, kesedihan karena berbagai hal yang dialaminya sebagai perempuan, dsb.

Itulah segelintir persoalan yang dilatar-belakangi akses pendidikan  yang dialami oleh perempuan-perempuan Indonesia. Untuk itu momentum hari Pendidikan hendaknya tidak berlalu begitu saja, melainkan menjadi titik tolak untuk terus menegakkan hak-hak perempuan untuk mengakses pendidikan dan bebas dari kemiskinan. (EP/DL)

Explore posts in the same categories: Tema Kita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: