Konsultasi

Tanya :

Saya teringat kepada sebuah kasus yang menurut saya kasus besar beberapa waktu lalu.

Korban S saat itu berusia 19 thn, berpacaran dengan seorang pemuda sekampungnya. Kemudian mereka melakukan hubungan seksual, hingga akhirnya korban hamil. Korban mendatangi pacarnya untuk meminta pertanggung jawaban, tetapi pacarnya menolak. Akhirnya korban mengadukan kejadian tersebut pada ibunya. Ibu korban adalah seorang janda. Ibu korban sangat terkejut, dan setelah diperiksa ternyata korban sudah mengandung 3 bulan. Ibu korban kemudian berembuk dengan keluarga besar, dan mereka sepakat untuk meminta pertanggung jawaban kepada keluarga pelaku, yang masih merupakan tetangga sekampung. Mereka mendatangi keluarga pelaku, ternyata pelaku sudah melarikan diri, tidak berada di kampung itu lagi. Keluarga pelaku menolak kedatangan mereka dan mengatakan bahwa anak mereka tidak bersalah. Akibatnya, sempat terjadi pertengkaran di antara 2 keluarga, sehingga orang sekampung mengetahui hal itu. Korban merasa malu, sedih, dan takut juga. Keluarga besar korban kembali berembuk. Karena ibu korban adalah janda, maka keputusan – keputusan ditentukan oleh saudara laki – laki sang Ibu atau paman korban. Akhirnya diputuskan bahwa agar keluarga tidak menanggung malu lebih banyak lagi, maka korban harus dinikahkan. Keluarga akan segera mencarikan calon suami bagi korban. Korban hanya bisa pasrah saja dan menerima keputusan yang sudah ada itu. Sementara itu korban lebih sering mengurung diri di kamarnya. Kami meceritakan kasus ini ke Sinceritas saat sedang dilaksanakannya diskusi mengenai Kekerasan terhadap perempuan dan upaya apa yang bisa dilakukan masyarakat untuk mencoba menolong korbannya.

Kemudian Sinceritas mendatangi rumah korban, yang diterima oleh ibunya. Setelah berbincang – bincang, masuk pada pembicaraan mengenai kasus yang menimpa anak perempuannya. Ibu korban mengatakan bahwa mereka sangat kecewa dan marah mengenai sikap pelaku dan keluarganya. Sinceritas memberikan penjelasan tentang layanan Sinceritas dan mencoba membujuk ibu korban agar kasus ini dilaporkan, tetapi ibu korban mengatakan belum bisa memutuskan, harus bertanya dulu pada keluarganya. Saat itu Korban berada di kamar dan setelah dipanggil oleh ibunya barulah korban keluar. Sinceritas juga berusaha menjelaskan bahwa dinikahkan bukanlah satu solusi yang terbaik bagi anaknya, mengingat kondisi korban yang sedang hamil dan terutama bahwa keputusan itu juga diambil tanpa ada persetujuan darinya. Melalui percakapan yang ada antara Sinceritas dan korban, korban tetap mau melahirkan anaknya, namun dia belum bisa memutuskan apakah bersedia dinikahi atau tidak. Korban masih bingung dan takut. Tetapi jika memang itu keputusan keluarga besanya, korban akan mengikut saja. Saat itu korban lebih banyak diam. Akhirnya ditemukan calon suami bagi korban, yang  adalah seorang laki – laki berusia sekitar 40 thn, dari desa yang berbeda. Sinceritas kembali mendatangi korban dan ibu nya. Mencoba melakukan pendekatan lagi agar tidak terjadi pernikahan tersebut, karena sebenarnya korban tidak mau, setelah mengetahui bahwa calon suaminya itu sudah tua. Pada akhirnya, pernikahan tidak dilaksanakan, tetapi kasus tidak mau dilaporkan ke polisi. Untuk menyembunyikan rasa malu, korban dibawa ke Bandung. Di sana, korban dinikahkan dengan seorang laki – laki yang masih terhitung saudaranya. Tapi saat ini korban mengalami KDRT dan saya berpikir, sebenarnya apa yang bisa dilakukan kepada kasus seperti ini? (Ibu X, Kader PESADA)

Jawab:

Terima kasih atas pertanyaan ini. Kami ingat kasus ini dan memang merasa Sinceritas tidak mampu mempengaruhi keputusan keluarga, apalagi membantu korban untuk mempunyai posisi dalam mengatasi masalahnya. Ini memang adalah salah satu contoh kasus di mana adat sangat kuat dan posisi perempuan apalagi seorang korban yang hamil di luar perkawinan, ditambah ibu yang sudah menjadi janda; membuat mereka tidak dapat mengambil keputusan bagi dirinya. Selain itu, perkawinan dianggap menjadi penyelamat dari masalah sejenis ini. Sehingga korban pada dasarnya terpaksa menikah untuk menyelamatkan kehormatan diri, kehormatan keluarga, dan agar si anak mempunyai bapak dan marga. Laki-laki yang mengawini perempuan seperti korban ini adalah laki-laki2 yang sudah berumur atau tua, terkadang yang mengalami kekurangan fisik (cacat), atau bahkan menjadi isteri kedua dan seterusnya. Akibatnya, dasar perkawinan bukan lagi persatuan dari dua orang yang ingin hidup bersama atas dasar saling mencintai. Maka KDRT sangat besar kemungkinan terjadi. Masalah yang kemudian terjadi, selain KDRT terhadap isteri dan anak, adalah pengingkaran tanggung jawab sebagai suami dan bapak. Kekerasan menjadi berlipat ganda. Kemungkinan untuk mengadukan suami juga menjadi kecil, mengingat sejarah perkawinan, dan bahwa suami adalah masih keluarga. Saat ini yang dapat kami sarankan adalah, meminta korban untuk menyampaikan keinginannya kepada ibunya, dan meminta bantuan untuk menyelesaikan masalahnya kepada lembaga yang mengurus KDRT, seperti PESADA/Sinceritas, atau lainnya. Masalah sejarah perkawinan dan kelahiran anak, bukanlah hanya tanggung jawab korban, tetapi tanggung jawab dari laki-laki yang telah lari; juga keluarga yang membuat keputusan. Pembelajaran dari kasus ini cukup banyak, kami harap ini dapat didiskusikan di dalam rapat-rapat bulanan maupun pertemuan perempuan di desa-desa. (L &Ò)

Explore posts in the same categories: Konsultasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: