Seorang Pemimpin Perempuan dari Samoa-Pasifik Selatan

Matatumua Moana Vermeulen (Almarhum)


ASPBAE, sebuah organisasi Asia Pasifik untuk Pendidikan Orang Dewasa, di mana PESADA adalah salah satu anggotanya; telah kehilangan salah satu sosok pemimpin perempuan. Perempuan yang memperjuangkan hak-hak untuk pendidikan yang berkualitas, yang tidak pernah lelah bekerja untuk kehidupan yang berkelanjutan, demi perubahan hidup orang miskin maupun kelompok marjinal.(terpinggirkan) di Pasifik Selatan.

Perempuan pemimpin itu adalah Mutatumua Moana Vermeulen, atau dipanggil Mua. Seorang perempuan Samoa, berusia 76 tahun, yang  berpulang 12 Januari 2012 di Auckland, Selandia Baru setelah menderita sakit cukup lama.

Siapa Mua?

Mua adalah Executive Council atau Dewan Eksekutif  ASPBAE dari Samoa/Pasifik Selatan selama 2 periode, sejak 2004 sampai saat ini. ”. Sebagai anggota Dewan Eksekutif, perhatian utamanya adalah mengenai isu-isu gender, pembangunan berkelanjutan, partisipasi warga dan tata pemerintahan yang baik.

Ia berjuang dengan mendirikan sebuah LSM di Samoa beberapa puluh tahun lalu yang bernama METI ( Matuaileo’o Environmental Trust) bersama dengan suaminya, Walter Vermeulen. METI adalah anggota ASPBAE, dan melalui organisasi inilah Mua menjadi perwakilan Pasifik Selatan di ASPBAE. Walter selalu setia mendampingi Mua berjuang melalui organisasi tersebut, demikian juga pada saat rapat-rapat atau lokakarya ASPBAE. Bila Walter tidak bisa mendampingi, anak Mua menggantikannya.

Mua (kanan) bersama Walter (suami), Jakarta 2009

Mua (kanan) bersama Walter (suami), Jakarta 2009


Sebenarnya Mua adalah perawat, dan menjadi supervisor (penyelia) perawat yang terlibat aktif dalam mendirikan dan mengembangkan Sekolah Keperawatan di Samoa. Kegiatan keperawatan tidaklah ditinggalkan oleh Mua meski dalam dua decade terakhir ini lebih banyak bergerak melaui METI. Sebab METI juga bekerja untuk kesehatan khususnya untuk pengobatan ‘sleep apnea’, yaitu sejenis gangguan tidur berupa penghentian napas selama tidur yang sering diderita orang dewasa.

Samoa dan Mua di arena politik

Samoa adalah Negara kepulauan di Samudera Pasifik bagian Selatan, yang terdiri dari 2 pulau utama dan 7 pulau kecil. Negara ini merdeka dari Selandia Baru di tahun 1962, dan menjadi anggota Perserikatan Bangsa bangsa (PBB) sejak Desember 1976. Sistem politik di Samoa agak unik. Dunia politik didominasi oleh para pemimpin tradisional. Pemimpin tradisi ini disebut mata’i. Dari 49 anggota parlemen, 47 adalah mata’i; sementara Negara dipimpin oleh Perdana Menteri.

 Mua adalah juga mata’i, mantan anggota parlemen di Samoa dan pendiri sekaligus pemimpin perempuan pertama Partai Rakyat Samoa (Samoa All People’s Party – SAPP). Bukan hanya itu.  Mua juga adalah anggota pandiri dari Partai Perlindungan Hak Azasi manusia (the Human Rights Protection Party– HRPP), sebuah partai yang dalam dua dekade terakhir mendominasi dunia politik Samoa.

Mua juga anggota aktif dari PSA (Samoa Public Service Association) yaitu perkumpulan pelayan public Samoa yang pada tahun 1981 mengadakan mogok umum dan membuat pemerintah Samoa saat itu jatuh.

Penutup

Inilah profile seorang pemimpin perempuan, yang pada tanggal 18-19 Januari 2012 lalu telah dimakamkan dalam sebuah acara besar di Apia, Samoa. Semangat, karya dan pikiran-pikiran Mua akan tetap hidup. Rest in peace Mua, istirahatlah dalam damai. (sumber: orbituari ASPBAE, tulisan2 di internet).

“Kita perempuan, bicaralah…”

(Catatan kecil, kenangan pribadi terhadap Mua)

Mua  yang bijaksana..

Pertama kali mendengar nama Mua, saya tergelitik. Matatumua terdengar seperti bahasa Batak, saya mengartikan dalam hati: Mata yang bijaksana. Dan betul…begitu bertemu muka di Rapat Executive Council/EC  ASPBAE February 2009 di Manila, kesan pertama adalah sinar mata yang lembut dan bijaksana. Seperti orang Batak lagi. Samoa juga terdengar seperti Samosir bagiku… Kami kemudian  bercakap-cakap seperti sudah lama saling mengenal.

Saat makan siang di hari pertama, Mua meminta kami perempuan-perempuan di EC makan semeja. “Hanya untuk mempererat persaudarian di antara sesama perempuan”, katanya sambil senyum.

Tapi ini kuterima sebagai pesan penting. Menyenangkan dan teringat terus. Ini membuat kedekatan yang khusus di antara kami.

Saya (Dina) bersama Mua,  di “Qualitative Adult Education Workshop”, Jakarta 2009

Saya (Dina) bersama Mua,
di “Qualitative Adult Education Workshop”, Jakarta 2009

Pesan Mua: “Bicaralah….”

Satu lagi yang dia ingatkan waktu itu adalah: “Jangan pernah ragu mengutarakan pikiranmu, apapun itu…Bahkan kalaupun hanya menyatakan bahwa kamu tidak mengerti. Itu penting. Kita di sini berharga, waktu kita berharga, dan setiap yang kita ucapkan, berharga. Jadi bicaralah…jangan diam”. Ini diucapkan dengan nada lembut, tegas, dan membuat kita yakin akan ucapannya.

Kehangatan di musim dingin yang membeku.

Perhatiannya juga penuh kepada setiap orang. Dengan diam tanpa heboh, setiap orang dapat merasakan kalau dia memberi perhatian. Perhatian kepada saya salah satunya adalah ketika suhu sangat dingin di Kathmandu. Sungguh di luar perkiraan dan tidak ada di ramalan cuaca. Saya tidak membawa perlengkapan musim dingin, sehingga memilih meringkuk dulu di kamar sambil berpikir pakaian mana yang bias dilapis-lapis agar hangat.

Ternyata beberapa waktu kemudian, Mua mengetuk-ngetuk pintu kamar saya. Dengan senyum tapi ekspressi serius, membawa 2 mantel musim dingin, mendesak saya memilih dan mengenakannya. Bahkan kemudian mendesak untuk menyimpan keduanya, supaya ada ganti.

Ah….aku gembira sekali. Hatiku menjadi hangat. Perhatian serta mantel itu membuatku kuat dan siap menuju ruang pertemuan. Thank you Mua…

Rahasia Mua…

Mua juga selalu tahan duduk serius dalam rapat, memandang yang berbicara dengan penuh perhatian. Saya selalu mengaguminya. Soalnya saya sering merasa pegal duduk diam. Harus berdiri, berjalan, bergerak… Kecuali kalau mengetik di depan computer.

Nah..ternyata kemudian ada satu ‘rahasia’ bagaimana Mua bisa tahan rapat, duduk berjam-jam. Menurut anaknya Mua, Mua bisa duduk dengan mata terbuka tidak berkedip, terlihat serius; padahal dia sebenarnya tidur… Tapi cuma sekitar 10 ke 15 menit. Ah, ada-ada saja… Mungkin aku akan mempelajarinya bila sudah berumur 70 tahun…

Ujung kanan belakang: Mua, depan kanan: Anak Mua ;  tengah, berkacamata hitam; saya (Dina)

Ujung kanan belakang: Mua, depan kanan: Anak Mua ;
tengah, berkacamata hitam; saya (Dina)

Kami adalah keluarga

Kesan lain yang seru adalah ketika kami satu pesawat dari Kathmandu (Nepal) ke Singapura di tahun 2010. Kami 4 orang, terdiri dari Mua, anak perempuan Mua, Robbie (Presiden ASPBAE) dan saya sendiri.

Karena anak Mua memanggil Mua “Mum (Mama)….” dan kami terlihat akrab bercerita kian kemari, duduk bersama dengan Mua sebagai pusat perhatian, meski kemudian berserak lagi (karena pesawat agak kosong); maka para pramugari mengira kami semua anak-anaknya Mua. Ini ketahuan ketika salah seorang menanyakan saya: “Eh, kalian sekeluarga berbicara dengan aksen yang berbeda-beda ya… Pada tinggal di Negara mana saja?! Ibunya tinggal di mana?”. Saya tertawa geli…sampai lupa apa jawabku ketika itu.

Saya senang dengan dugaan itu…dan menceritakannya ke Mua. Ketika berpisah di Singapura, saya melambai dan setengah bercanda bilang: “See you soon, Mum…”. Ternyata itu adalah pertemuan terakhir. Pada waktu rapat di Melbourne tahun 2011, Mua tidak bisa hadir karena sakit… Di akhir Desember 2011, saya mendengar berita bahwa Mua dirawat di Auckland.

Email saya kepada Mua (melalui Walter, suaminya) tertanggal 2 Januari 2012 yang mendoakan kesembuhannya dan mengharap bisa bertemu di rapat EC ASPBAE Februari 2012 yang akan datang, tidak lagi dibalas.

Selamat jalan Mua, ‘rest in peace”, beristirahatlah di dalam damai …. (Ò)

Explore posts in the same categories: Seputar Perempuan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: