Pentingnya Perlindungan Hak-hak Pekerja Rumah Tangga

(Dalam Rangka Hari PRT 15 Februari)

B

erapa banyakkah di antara kita yang pekerjaannya terbantu karena adanya Pekerja Rumah Tangga? Atau karena ada yang membantu kita mengurus pekerjaan di rumah tangga kita? Pekerjaan rumah tangga sangat beragam, mulai dari menyapu, mencuci, belanja; menggendong bayi, menjaga bayi,  bahkan membangunkan anak-anak, menyiapkan sarapan, mengantar anak ke sekolah, menyiapkan bekal ke sekolah atau ke kantor, ke kebun atau ke sawah…dan sebagainya. Juga menjaga rumah, pembawa pesan ke keluarga atau tetangga..Semua tugas ini terkadang kita bebankan kepada PRT.

 

Apapun judul PRT di rumah kita, pada dasarnya semua ini adalah pekerjaan rumah tangga, yang apabila dilakukan oleh orang lain di luar Ibu dan anak-anak, menjadi pekerjaan untuk PRT. Kita sering menyebutnya Pembantu, atau yang lebih kasar lagi, Babu. Beberapa dari kalangan Ibu atau perempuan bahkan menyebut dirinya ketika melakukan pekerjaan rumah tangga sebagai “membabu’, jadi Oshin (diambil dari film Jepang tentang anak perempuan yang menjadi PRT sejak kecil), dsb.

Mengapa Hari PRT??

Nah, apa persoalannya? Mengapa pula setiap tanggal 15 February, diperingati sebagai Hari Pekerja Rumah Tangga/PRT? Sebagian dari kita mungkin gusar. Seperti kegusaran laki-laki ketika perempuan sibuk merayakan Hari Perempuan… Ada perasaan terganggu, seakan kenyamanan sebagian besar perempuan yang menjadi majikan diganggu, bahkan ada rasa khawatir kalau-kalau nanti para PRT menjadi besar kepala, menggunakan hak-haknya untuk menindas balik para majikan yang pastinya sebagian besar adalah perempuan.

Ada banyak alasan sebenarnya untuk kita merenungkan soal PRT ini. Coba ingat kembali berbagai kisah PRT yang ditayangkan di TV, di Koran, bahkan di sekeliling kita. Cerita tersebut bukan hanya di luar negeri atau menjadi urusan Buruh Migran (sering disebut TKI & TKW), tetapi juga urusan di dalam negeri, dan di dalam rumah kita.banyak modus atau bentuk kekerasan yang dialami oleh PRT. Mulai dari jam kerja yang tidak jelas, gaji yang tidak diberikan atau tidak layak, dipukul, tidak memperoleh tempat yang layak dan aman untuk istirahat, diberi julukan yang memalukan atau menghina, tidak diberi makan atau diabaikan kebutuhannya atas pakaian dan pengobatan, sampai kepada dituduh menggoda suami atau anak laki-laki majikan.

Sebuah kasus menarik bahkan sedang dihadapi saat ini, di mana seorang perempuan sejak kecil disebut telah diangkat menjadi anak. Tetapi menurut pendapatnya, dia diperlakukan tidak lebih dari seorang PRT, dengan beban yang cukup berat. Bila menyimak kepada kisahnya, apa yang dialami oleh perempuan tersebut adalah perbudakan. Tanpa gaji, tanpa jam kerja, tidak dididik, sering dipukul, bahkan mengalami pelecehan seksual.

Pekerjaan Rumah Tangga Tidak Berharga?

Kebiasaan dan budaya di Indonesia memang  melihat pekerjaan rumah tangga sebagai pekerjaan yang tidak mempunyai nilai ekonomi. Penting, tapi tidak terlalu penting, begitu kira-kira. Hanya para Ibu yang melihat pekerjaan ini penting. Anak-anak perempuan sering tidak menghargainya, dan sangat jengkel mengerjakannya. Faktanya, banyak Ibu yang menganggap tugas RT adalah tugas anak perempuan,sehingga di banyak kasus, anak perempuan menjadi semacam asisten Ibu. Bahkan dalam sebuah kasus yang didampingi oleh PESADA, seorang anak perempuan tidak sekolah karena harus menggantikan tugas Ibu di dalam rumah tangga.

Selain itu, pekerjaan ini dianggap sebagai pekerjaan yang tidak membutuhkan pengetahuan dan keterampilan. Ini membuat para PRT tidak pernah dididik soal ini. Berbeda dengan tukang kebun, supir, tukang, dsb. Karena siklus pekerjaan RT hamper terus menerus dari bangun pagi hingga tidur malam, maka jam kerja untuk tugas ini juga menjadi sangat panjang dan longgar. Hanya tergantung kepada niat baik sang majikan barulah seorang PRT dapat mempunyai jam kerja yang jelas. Apalagi kalau di rumah tangga ada bayi, lansia atau orang sakit; maka beban semakin bertambah, dan PRT harus ikut turun tangan. Di beberapa kasus, bahkan mereka yang melakukannya sendirian.

Jumlah PRT.

Berapa banyakkah sebenarnya PRT saat ini. Di dalam Siaran Pers sebuah LSM yang mengurus masalah PRT beberapa tahun lalu disebutkan bahwa:

 

 

Menurut perkiraan ILO Tahun 2009 dari berbagai sumber data, Pekerja Rumah Tangga (PRT) merupakan kelompok pekerja perempuan terbesar secara global: lebih dari 100 juta PRT di dunia, lebih dari 4 juta PRT domestik di Indonesia dan lebih dari 6 juta PRT migran dari Indonesia. Di Yogyakarta sendiri lebih dari  36.500 orang bekerja sebagai PRT. Ini adalah angka untuk mereka yang betul-betul diberi judul PRT. Di luar itu, sungguh banyak perempuan usia sekolah yang sebenarnya berfungsi seperti PRT, dan sebagai imbalannya, mereka diberi kursus , atau disekolahkan. Anak2 ini biasanya memiliki hubungan keluarga dengan ‘majikan’ atau merupakan titipan dari keluarga sekampung. Biasanya posisinya lebih miskin atau lebih rendah dari ‘majikan’.

Perlindungan Hukum untuk PRT

Sampai saat ini pemerintah belum selesai meratifikasi atau membuat UU untuk melindungi PRT. Membuat UU ini pada dasarnya adalah  bentuk komitmen  Pemerintah Indonesia dalam sidang ILO (organisasi Buruh sedunia) ke-100, yaitu me ratifikasi RUU tentang Perlindungan Hak-hak Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya. Memang kita mempunyai UU untuk pekerja yaitu UU no 13 tahun 2003, tapi PRT tidak masuk di dalamnya. UU ini  hanya mengatur pekerja formal di lembaga public, seperti perusahaan.

Meski RUU  ini masih hanya ditujukan untuk pekerja migrant atau yang bekerja di luar negeri, paling tidak kita bias mengharap tangga menuju perlindungan PRT di dalam negeri akan lebih mudah. Seperti yang dilakukan oleh PEMDA Yogya, di mana Gubernur telah mengeluarkan sebuah Peraturan Gubernur no 31 tahun 2010 khusus untuk  perlindungan PRT. Apa saja yang dilindungi? Di bawah ini kami buat contoh kontrak antara majikan dengan PRT, yang di dalamnya terkandung dengan jelas batasan pekerjaan, besar upah, jam dan hari kerja, masa kontrak, fasilitas yang diperoleh, dan antisipasi apabil terjadi sesuatu yang di luar perkiraan, sbb:

Penutup.

Dengan melihat tulisan di atas, mudah-mudahan pembaca menyadari mengapa 15 Februari  didedikasikan sebagai sebuah hari untuk para PRT. Untuk mengingatkan kita bahwa PRT mempunyai hak-hak sebagaimana manusia lain dan juga sebagai pekerja. Tidak perlu menunggu RUU atau Peraturan daerah, kita dapat memulainya di rumah kita sendiri. Mari…..(Ò)

Explore posts in the same categories: Tema Kita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: