Dewasa Dari Alam Raya

Catatan dari Desa Pegagan Julu IV tentang

Ibu Munthe, Peran Perempuan & RANPERDES

 

Pagi ini bus PAS melaju membawaku ke simpang Validen, lewat Sumbul, Kab. Dairi. Aku akan menjejaki Desa Pegagan Julu IV, untuk berjumpa dengan ibu-ibu dampingan, anggota CU.Ulina di dusun Buluh Ujung.  Kudapati beberapa ibu dan anak di gendongannya. Senyum-sapa mengawali perkenalanku.

Ibu Munthe- si Parsinabul
Dok. PESADA

Sengaja kubuka topik tentang ibu Munthe sebagai parsinabul, yaitu pembicara di acara-acara adat Batak. Dia adalah seorang ibu di usia lanjut (sekitar 60-an), yang menginspirasi kaum perempuan. Ibu Munthe perempuan yang mampu menembus batas tradisi patriarkhi di suku Batak, di mana ruang adat adalah arena kekuasaan kaum laki-laki.

Raut wajah Bu Munthe sedih dan berkata, “ Ngak ada lagi itu, (aku) udah tua, sudah lewat semua. Susah di sini perempuan, tak ada kesadarannya. Aku salut, dulu PESADA memberikan pelatihan dan pengetahuan, pantang menyerah untuk mendorong kita, tetapi memang perempuanlah yang sangat susah untuk diajak. Dulu kelompok kami ini masih sedikit, karena adanya bantuan beras dari Jepang melalui PESADA maka banyaklah yang mau bergabung”  Ia mengenang sejarah pembentukan CU.Ulina.

“Menjadi pengurus saja sangat susah. Sudah lama tidak pernah ganti pengurus. Apalagi yang muda-muda ini, tak ada yang mau. Bagaimanapun caranya, tetap susah menyadarkannya. Sampai-sampai aku buat perjanjian sama parumaenku (menantu perempuan)  agar mau jadi pengurus, (kalau dia mau) kukasih setapak tanah,” tambah ibu Munthe.

 

Suasana Rapat – mendengar tapi kurang bersuara

Setelah makan siang, sekitar jam satu, aku ambil kesempatan untuk sosialisasi SPUK (Serikat Perempuan Untuk Keadilan). Sekitar 60 orang sudah berkumpul. Kelihatannya mereka mendengarkan dengan perhatian  serius. Tak banyak pertanyaan,  hanya  tentang biaya saja.

Ibu Munthe menambahkan penjelasan. Menurutku, sangat mantap  cara menjelaskannya. Ibu itu berbicara penuh  kharisma, bahasanya sederhana tetapi bermakna dan berisi. Ibu Munthe menterjemahkan bahasa Indonesia secara tepat dan sangat gampang dipahami ke dalam bahasa Batak. Contohnya ketika dia menjelaskan tujuan dari SPUK adalah untuk meperjuangkan hak-hak perempuan. “HAK itu disebut –Jambar”, memberi contoh-contoh dan selipan lelucon disela penjelasannya.

Pada saat Pra-RAT pembacaan SHU, terdengar banyak bisikan  mengeluh, dan bertanya-tanya karena SHUnya menurun dari tahun sebelumnya padahal saham sudah lebih besar. Banyak kekecewaan tetapi tidak ditanyakan. Ini mengherankan…

Disela-sela penabungan, saya menjalankan daftar formulir keanggotaan SPUK, wawancara dengan cara tidak langsung kepada seorang ibu bernama Kisla br. Situmorang. Dia mengaku rajin mengikuti rapat-rapat dan pertemuan. Menurut pengamatannya memang ibu-ibu disini lumayan rajin untuk  mengikuti rapat-rapat di desa, mengikuti kelompok-kelompok tani di desa. Namun, “Banyak ikut rapat, tetapi cuma mendengar saja, tidak bersuara,” ungkapnya.

             Hujan terus mengguyur diselingi dentuman guntur dan langit yang diterangi kilat. Aku menumpang tidur malam ini di rumah ibu Gultom. Lama juga  kami mengobrol di bawah selimut, lalu terlelap.

Kesibukan di pagi hari & Diskusi RANPERDES.

Jeritan babi kelaparan dan dinginnya hawa di pagi hari membangunkanku. Aku melipat selimut dan ikut memasak makanan babi dengan Jefri, anak ibu Gultom. Aku senang mengikuti rutinitas pagi mereka.

Sekitar jam 08.30,  aku diantarkan Jefri ke rumah Kepala Desa di dusun Tumpak Debata. Kira-kira waktu tempuh 7 menit dari dusun Buluh ujung. Mau riset lapangan tentang partisipasi perempuan di desa Pegagan Julu IV ini. Berhubung dengan adanya rancangan peraturan desa (RANPERDES)  mengenai keterlibatan perempuan di desa.

Sudah sejak tahun 2010 digagas, dan menjadi  draft/rancangan di tahun 2011  melalui diskusi dengan berbagai pihak. Yaitu: Kelompok CU, perempuan desa, pemerintahan desa, BAPPEDA, BAPEMAS, Kabag Hukum, dan PESADA. Sudah lolos di BAPEMAS, tapi macet/mandeg di bagian hukum. Setelah ditelusuri ternyata ada makna-makna tekstual dipertanyakan oleh bagian Hukum. Pada tanggal 6 Maret lalu PESADA memfasilitasi pertemuan diskusi mengenai RANPERDES ini, namun Bagian Hukum tidak hadir, padahal mereka yang mempertanyakannya.

Rendahnya tingkat pendidikan perempuan desa  dan pengaruh budaya batak (patriarkhi-kebapaan) yang membatasi ruang perempuan berakibat pada rendahnya kemampuan untuk berpartisipasi secara aktif, sehingga di rapat-rapat desa suara perempuan belum diperhitungkan.

Minimnya partisipasi aktif perempuan di pemerintahan desa membuat pembagunan cenderung tidak memperhatikan kebutuhan perempuan. Peraturan desa (PERDES) ini sangat dibutuhkan untuk mendorong perempuan terlibat aktif dalam setiap pengambilan kebijakan desa. Kepekaan perempuan akan kebutuhannya akan lebih tinggi, sehingga kegiatan yang bertujuan untuk  penguatan perempuan akan terlaksana.

Pembicaraan dengan para bapak di kedai kopi.                                

Kususuri lagi jalan desa menuju sebuah kedai. Bertemu dengan tiga orang bapak marga Sinaga, dan seorang ibu br.Sinaga, menyusul seorang lagi marga Situmorang. Dengan kuluman senyum dan jabatan tangan aku mendekat ke meja kedai itu. Aku menyambung pembicaraan dan basa-basi berarti bagiku sebagai pintu masuk membuka diskusi dan wawancara dengan obrolan santai. Ketika kuperkenalkan diri bahwa aku dari Perkumpulan Sada Ahmo (PESADA), Pak Sinaga pemilik kedai langsung nyambung, “Ohh, yang urusan perempuan yah, bicara gender, Itu sudah sering di radio,” katanya.

            Bapak-bapak itu langsung membuka wacana sendiri tentang perempuan. Disela itu muncul Pak Situmorang mengakui bahwa beban perempuan-ibu rumah tangga itu memang berat.

    

Pak Situmorang menyambung, “Ibunya sebagai bendahara keluarga, makanya anak-anak dekat dengan ibunya, pastinya anak-anak lebih dekat sama sumber uang. Memang mau tidak mau pasti anak itu lebih dekat dengan ibunya. Karena beda cara mendidik ibu dengan cara mendidik bapak. Ibu lebih bisa dibodoh-bodohi, dibohongi  si anak; kalau sama bapaknya mana berani. Selain itu juga karena sejak kecil ibu lebih dekat kepada anak, mulai dari menyusui, memandikan dan kasih jajannya.”

“Itulah, kalau diibaratkan ibu itu menteri dalam negri dan bapak menteri luar negeri. Tanggung jawab seorang ayah itu sangat besar ke luar. Memang tanggung jawab ibu itu juga  sangat tinggi dalam rumah tangga. Kalau ibu tidak pintar-pintar maka langsung kelihatannya rusak keluarga itu.” tambah bapak Sinaga.

“Kalau cerita sayang, pasti sayang nya kita sama istri itu, karena kan kita yang memilihnya” Sambung bapak Situmorang.

Kubiarkan diskusi di meja kedei ini berjalan dengan asyik diantara mereka. Aku menawarkan topik selanjutnya.

Jadi menurut bapak-bapak “Bagaimana pandangannya terhadap ibu-ibu disini?”

            “Ibu-ibu disini selalu sibuk  ke ladang, rajin-rajinnya mereka. Hari-hari begini  ibu-ibu itu ke ladang. Ada hari-hari tertentu yang tidak akan kau temukan orang –orang di rumah. Misalnya kalau mau hari Pekan, seperti hari Jum’at, tidak akan kau temukan orang di rumah. Pendidikan memang masih kuranglah. Padahal kan seorang perempuan itu harus pintar mengelola rumah tangga.” cerita pak Situmorang.

“Benar itu. Perlu memang perempuan itu didorong karena tiang keluarga itu adalah kaum ibu. Sudah sering memang disini program-program dari berbagai lembaga pemerintah maupun kelompok-kelompok  tani, tetapi cuma sebentar saja, tidak berkembang. Tahulah kalau di Batak ini, dikasih lembu menjadi babi, dari babi bisa tinggal sifatnya. Aturannya kan dikasih lembu harus bisa jadi gajah. Susah disini membentuk kelompok kerjasama. Misalnya kelompok koperasi susah membangun kepercayaan. Semua berlomba untuk jadi pemimpin, taulah orang batak pintar-pintar dan tak mau mengalah satu dengan yang lainnya. Pernah ada berdiri koperasi, tapi tidak kompak. Ada koperasi tetapi belanja dari tempat lain. Tidak paham artinya koperasi itu, pengurusnya pun ada menggelapkan uang. Maka itu susah orang untuk saling percaya. Penyadaran-penyadaran memang masih minim dan masih diperlukan untuk mengembangkannya.” Ungkap pak Sinaga dengan serius.

Akhirnya…RANPERDES

Sudah sore, kilat, Guntur dan hujan deras masih mengguyur bumi desa  Pegagan Julu IV. Cerita sambung-menyambung terus berlangsung diantara ibu-ibu.

Ketika aku bicara dengan ibu PKK, beliau malah bilang tidak tahu-menahu soal RANPERDES ini. PKK di desa ini sendiri tergolong bagus dibanding desa-desa lainnya di Dairi. Karena mereka sudah punya asset yang bisa menghasilkan. PKK memiliki drum-drum yang bisa mereka sewakan untuk pesta-pesta. PKK disini juga pernah menjadi PKK terpilih oleh pemerintahan kabupaten. Namun sekarang menurut salah seorang warga, PKK sekarang kurang aktif.

Bu Situmorang bendahara kelompok cerita “Lumayan, ibu-ibu disini. Kalau diundang rapat, rajin. Hampir semua ibu-ibu mengikuti kelompok-kelompok yang ada di desa ini. Banyak juga kelompok di sini. Kelompok petani misalnya, kelompok tani kopi dan  jagung.”

Bu Situmorang yang lain, ketua kelompok beda lagi ceritanya,  “Kadang kita tidak ikut, karena mau  suami melarang. Katanya: ‘Ngapainlah Ikut kau sok sibuk, Udah aku saja’. Padahal betul kadang yang dibilang kepala desa itu, kalau bapak-bapak ini mau rapat kadang tidak sampai ke tempat rapat, malah ke kedai. Soalnya pernah kutanyai apa hasil rapatnya dia (suami) malah bilang tidak tahu.”

Ibu br.Situmorang mengaku tidak punya sekolah (SD), tidak tahu membaca tetapi pintar dan bisa cepat menangkap dan mengerti sebuah persoalan. Ibu itu percaya diri. Ibu ini seorang PEKKA (perempuan kepala keluarga) yang mampu menyekolahkan 5 anaknya dan  memenuhi tanggungjawab adat. Semua bisa ditanggulangi tanpa mengundang penagih utang sampai ke rumah.

             Langit sudah menggelap, aku ikut ke rumah ibu Situmorang. Makanan langsung disuguhkan. Katanya kalau ada orang perantau seperti aku ini, dia langsung ingat anaknya yang besar di perantauan. Dengan lauk ikan asin, dan sambal. Wahh Enak! Aku bersantap dengan lahap. Dekat dengan tungku api,  kami sambil menghangatkan badan. Bermain dengan cucunya dan ngobrol-ngobrol dengan menantunya. Hari yang panjang dan penuh pelajaran sudah kulalui…Terimakasih Bu, terimakasih Pak… Aku juga akan terus belajar darimu dan dari alam raya…Ranperdes masih panjang perjalanannya.. (mys)

Explore posts in the same categories: Seputar Perempuan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: