Menggugat Penegakan Hak Azasi Perempuan

Merayakan Hari Perempuan

 

Sejarah singkat.

Sudah tahun ke berapa perayaan ini? Begitu pertanyaan penyiar sebuah radio swasta ke saya, juga pertanyaan beberapa orang jurnalis ketika Perempuan Sumut merayakannya beberapa waktu lalu…Tidak mudah menjawabnya, 101 atau 102 tahun…begitulah kira2. Mengapa? Karena kalau dilihat dari ide awal, kisahnya dimulai di tahun 1910. Kelompok sosialis (kelompok yang percaya bahwa sumber kekayaan Negara harus dinikmati bersama oleh seluruh rakyat secara bersama dan sama rata) dari 17 Negara mengadakan pertemuan di Kopenhagen untuk membahas hak-hak perempuan yang sering diabaikan.

Pertemuan tersebut kemudian memutuskan untuk membuat Hari Perempuan Sedunia setiap tanggal 28 February, untuk mengingatkan dunia mengenai pentingnya memperhatikan hak-hak. Sejak itu setiap tahun Hari Perempuan Sedunia diperingati, meski kemudian mulai tahun 1920 berhenti karena konflik dan perang yang banyak terjadi di berbagai Negara di seluruh dunia. Tahun 1975, ketika tahun Dekade Perempuan dimulai oleh PBB, hari Perempuan Sedunia kembali dirayakan dan diputuskan untuk diperingati setiap tanggal 8 Maret.

Apa itu Hak Azasi Perempuan?

Sebenarnya Hak Azasi Perempuan sama dengan hak azasi manusia, tetapi perbedaan tubuh perempuan, peran-peran yang dibebankan kepadanya serta berbagai masalah yang ditimbulkan oleh perbedaan tubuh dan pengalaman perempuan, membuat PBB mengeluarkan Konvensi yang dikenal dengan nama CEDAW (dibaca: sidau) yang menjadi acuan untuk Hak-hak Azasi Perempuan. Konvensi ini diundangkan oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1984, yaitu UU Nomor 7 tahun 1984. Di dalam UU ini dijelaskan semua hak-hak yang harus dipenuhi oleh Negara dan oleh semua manusia, termasuk Hak Reproduksi maupun Hak Politik Perempuan

Tema SUMUT 2012.

Di SUMUT, kelompok perempuan mendiskusikan berbagai hal mengenai penegakan Hak Azasi Perempuan. Sebagai hasilnya, ada 2 point penting yang menjadi sorotan; yaitu KESEHATAN PEREMPUAN dan KEPEMIMPINAN PEREMPUAN, KHUSUSNYA DI MEDIA.

Seluruh lapisan perempuan di kota Medan yang bergabung dalam perayaan HPI

Seluruh lapisan perempuan di kota Medan yang bergabung dalam perayaan HPI
Photo Doc. PESADA

 

Selama seminggu di kota Medan, kelompok perempuan yang terutama terdiri dari Aktivis Perempuan, Jurnalis Perempuan, Perempuan dari berbagai LSM dan Universitas melakukan berbagai kegiatan, antara lain: talkshow di radio, wawancara dengan surat kabar, diskusi internal dan jalan santai.

Sementara itu PESADA di Sidikalang, juga mengadakan berbagai kegiatan, seperti talkshow di berbagai radio dan Siaran Pers. Fokus perjuangan tetap KESEHATAN PEREMPUAN, tetapi Siaran Pers secara khusus menggugat pentingnya PELAKSANAAN PENGARUS UTAMAAN GENDER DAN KETERWAKILAN PEREMPUAN.

Di bawah ini KEDUA Siaran Pers yang disampaikan kepada media dan seluruh masyarakat, untuk mengingatkan seluruh issue yang disampaikan tersebut di atas. (Ò)

Explore posts in the same categories: Tema Kita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: