KARTINI MENGEJA ZAMAN

(Tulisan feminist muda, volunteer PESADA, Mei Yanti Siagian)

Dari jaman Kartini (1879), satu abad lebih  hingga sekarang, perjuangan perempuan masih untuk mengeja huruf saja. Sungguh mengerikan, masalah buta huruf pun belum tuntas, apalagi melek politik. Perempuan dengan anak di gendongannya masih berteriak dari pintu dapur dan menjerit dari pintu kamar. Gaungnya masih seputar itu saja. Perkawinan poligami, urusan kerja domestik, pelayan seksual, serta perempuan dan anak yang diperjual-belikan. Seluruhnya masih menjadi gambaran perempuan sampai saat ini.

Kesadaran & Perjuangan Kartini

Kapankah timbul kesadaran Kartini untuk memperjuangkan perempuan? Kesadarannya pertama kali timbul karena batasan untuk memperoleh pendidikan dan budaya pingit yang dialaminya secara pribadi. Sifatnya yang selalu ingin tahu dan pemberontak pada tradisi jalan tunduk-tunduk membuatnya semakin gelisah. Dengan modal dasar kemampuan membaca Kartini menyantap semua huruf-huruf bacaan yang ada disekelilingnya. Melalui alamat dari majalah dia rajin berkorespondensi dengan Stella Zihandelaar seorang feminis sosialis dari Belanda. Kartini mencurahkan segala kegelisahan, kritik tradisi dan agama serta keterbelakangan pendidikan perempuan bangsanya melalui surat dan tulisannya. Beberapa  diantara suratnya tertuang dalam buku “Door Duisternis Toot Licht”(Habis gelap terbitlah terang) yang diterbitkan Abendanon dari Belanda dalam rangka politik etis. Politik etis sering disebut sebagai politik balas budi, padahal sebenarnya adalah untuk efesiensi tenaga berpendidikan yang murah demi kepentingan penjajah.

Dalam kehidupan keluarga priyayi (ningrat) Kartini adalah perempuan progresif, perempuan yang maju berpikir. Rajin membaca buku dan punya pemahaman luas akan kondisi sosial, dimana ia sendiri terasing karena berada dalam pingitan. Melalui buku-buku yang dibacanya, seperti “Multatuli”, cakrawala pemikirannya berkembang penuh inisiatif. Upaya pertama yang dilakukan Kartini adalah dengan mengajar beberapa anak perempuan di rumahnya. Belajar merajut dan membaca.

Sekolah Kartini

Terwujudkah cita-citanya?

Kegelisan Kartini dahulu belum terwujud penuh hingga kini.  Program yang dilakukan pemerintah maupun gerakan perempuan sangat susah dalam menuntaskan permasalahan perempuan. Apakah gerakan perempuan tidak berproses untuk maju? Apakah Organisasi perempuan yang ada belum menjadi katalisator (pemacu) perjuangan yang baik? Apakah pendidikan kesadaran gender selama puluhan tahun tidak mengubah mindset (pola pikir) dan budaya?

Di satu sisi pemerintah punya kepentingan sendiri dalam menyusun segala rancangan pembangunan nasional. Perempuan pada zaman Soekarno ditujukan untuk kemerdekaan dan nasionalisme; di zaman Soeharto untuk pembangunan  dengan domestifikasi (penjinakan); dan di era reformasi untuk memecah kebulatan gerakan rakyat melawan liberalisasi (pasar bebas). Tentu program yang dilakukan menyesuaikan diri dengan tujuan pembangunan nasional. Gerak organisasi perempuan selalu terhalang oleh tuntutan utama pembangunan yang tidak peka gender.

Perempuan Indonesia masih mengeja di jaman globalisasi yang mutakhir ini. Apalagi Perempuan desa jauh tertinggal mengejar bahasa zaman. Hendak mengikutkan diri terjun ke dunia politik dengan segala keterbatasannya. Berusaha menjawab pertanyaan dan kebutuhan dalam kegundahan ekonomi.

Perempuan Indonesia diharuskan kembali menjahit baju robeknya dengan benang jarum. Perempuan Indonesia diharuskan kembali menyulut kayu bakar untuk menanak nasi di dapur. Perempuan Indonesia diharuskan kembali untuk membajak tanah gersang dengan cangkul. Mengharap hujan turun dari langit karena semua tak terbeli. Anak-anak dengan mata sayu perut buncit meringis minta air susu dari payudara yang kurang gizi. Perempuan desa adalah korban utama dari sistem yang menjarah darah rakyat.

Titik Nol!

Kartini kembali ke titik nol. Kalau dulu suami poligami, sekarang selingkuh dan melacur. Kalau dulu penjajah mengeksploitasi Jugun Ianfu, sekarang trafficking. Kalau dulu kuli murah, sekarang TKW murah. Kalau dulu buta huruf, sekarang buta aksara, atau lupa aksara. Sama saja, yang terjadi cuma pergeseran angka statistik yang tipis dan kadang menipu.

Selama kebutuhan pokok, persoalan perut belum terjawab, tidak ada peduli pada status atau derajat. Budaya dan adat-istiadat di dalamnya akan berjalan dan berubah sesuai dengan kondisi. Budaya berkembang dan bergerak sesuai dengan kebutuhan masyarakat, namun terdesain sedemikian rupa untuk  melanggengkan kepentingan pihak tertentu.

Pendidikan kesadaran gender yang dilakukan organisasi perempuan berupaya melakukan perubahan kebudayaan. Lalu sampailah tuntutan untuk mendudukan perempuan dalam kursi-kursi pemerintahan. Apa yang terjadi? Tuntutan dan kebutuhan masih belum terpenuhi. Wakil perempuan disana belum mempunyai suara yang kuat. Perempuan di sanapun masih banyak yang mengeja arus kepentingan dalam penyusunan kebijakan yang tidak pro-rakyat apalagi pro-perempuan.

Kartini berontak karena disuruh mengikuti tradisi yang mengungkung dirinya, namun terakhir ia terjerat memilih menikah daripada sekolah. Aktifis perempuan sekarang ini juga masih seperti itu. Kartini dahulu meninggal karena melahirkan, angka ibu melahirkan meninggal sekarang ini pun masih banyak.

Militansi Kartini sebagai Tokoh Pergerakan.

Diatas semua itu Kartini adalah seorang perempuan progresif yang militan. Membuka mata bangsa. Melahirkan kesadaran dan kebangkitan semangat nasionalisme yang pertama. Yang menginspirasi munculnya Budi Utomo. Dia menyerahkan jatah beasiswanya kepada pemuda miskin yakni Agus Salim yang menjadi salah satu tokoh Sarikat Islam (IS).

Kartini tidak hanya untuk kebangkitan perempuan tetapi juga menjadi pengerak semangat kebangkitan nasional dari kegelapan menuju dunia tercerahkan (Door Duisternis Toot Licht). 

Atas nama perempuan dan bangsa Indonesia, terimakasih Kartini. Selamat Hari Kartini 21 April 2012. (MYS)

Explore posts in the same categories: Tema Kita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: