Konsultasi :

                                                                    

Saya mempunyai adik sepupu perempuan bernama Y, berumur 20 thn, yang saat ini sedang ada masalah. Pada saat dia berumur 18 thn lebih  3 bulan, D tanpa sadar telah melakukan hubungan seksual dengan pacarnya. Caranya pelaku mengundang D untuk main ke rumahnya kemudian memberikan D minuman air putih. Setelah minum, D menjadi lemas dan tidak punya tenaga untuk melawan, dan akhirnya setelah sadar D ternyata sudah dalam keadaan telanjang. Pelaku mengatakan akan bertanggung jawab dengan perbuatannya.

Untuk selanjutnya peristiwa itu berulang terus, dan D selalu menuruti apa kata pelaku, karena pelaku selalu mengancam akan memberitahukan perbuatan mereka itu pada ibu nya dan juga mengancam akan menghabisi keluarga nya jika tidak dituruti.

Kejadian ini kemudian membuat D stress, uring – uringan, tidak konsentrasi dalam belajar dan cenderung labil emosinya. Karena takut, D tidak pernah memberitahukan hal ini pada ibu nya (orang tua D sudah berpisah).

Setelah 1 tahun peristiwa itu akhirnya diketahui oleh keluarga D, kemudian mereka melaporkan pada polisi. Saat BAP, korban tidak didampingi oleh ibunya, dan menurut korban ada informasi darinya yang tidak dimasukkan oleh Juper pada BAP nya. Apakah jalur ini sudah benar?

Memang pelaku ditangkap, namun sekarang sudah dilepaskan, dan kasus tersebut juga tidak bisa naik ke pengadilan. Alasan jaksa, kasus sudah kadaluarsa, artinya kejadian itu  sudah lebih dari 1 thn dan korban dianggap sudah dewasa. Jaksa menggunakan pasal Pencabulan 293 & 74 KUHP.  Apakah masih ada jalan atau cara yang bisa kami tempuh agar kasus ini bisa disidangkan?

Jawab :

Seharusnya memang sejak pertama sekali kejadian pemaksaan hubungan seks itu terjadi, korban harus melaporkan ke polisi. Jika tidak berani langsung ke polisi, bisa juga keluarga atau korban mendatangi LSM untuk didampingi.

Upaya yang bisa dilakukan saat ini adalah audiensi, dan meminta pada Jaksa agar kasus ini bisa naik ke Pengadilan. Karena jika seorang jaksa berpihak pada korban, maka jaksa punya wewenang untuk mengembalikan berkas pada polisi/juper dan memberikan petunjuk. Yaitu merubah pasal menjadi pasal 289 yaitu pasal pencabulan dengan ancaman kekerasan.  Bukti – bukti pengancaman harus disimpan, misalnya melalui sms. Diupayakan untuk mencari bukti lainnya, misalnya saksi/orang yang pernah melihat ataupun mengetahui bahwa mereka berpacaran.

 Kemudian, dapat  diambil juga BAP tambahan dari korban, sehingga informasi penting yang hilang bisa diperoleh kembali. Saat BAP harusnya korban harus didampingi oleh Ibunya.

Selanjutnya untuk korban sendiri, mungkin diperlukan pendampingan/penguatan psikologis baginya. Melalui proses konseling nantinya, diharapkan bisa membuat korban lebih percaya diri sebagai perempuan, tidak terus – terusan menyalahkan diri sendiri atas apa yang telah terjadi, dan juga akan lebih banyak lagi informasi yang bisa digali nantinya.

Untuk selanjutnya, Ibu bisa membawa korban dan keluarganya ke PESADA agar kita bias mendiskusikan lebih lanjut untuk pendampingan kasus ini, khususnya untuk penguatan korban.

Explore posts in the same categories: Tak Berkategori

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: