PEREMPUAN DILACURKAN SUAMI…

Sebuah Fakta Kejahatan Kemanusiaan

(VS,Feminist Muda/Volunteer PESADA)

 

Mungkin kita tercengang-cengang saat pertama kali melihat judul diatas. Yah setidaknya itulah kesan yang saya dapati saat saya membaca artikel (berseri-seri) dari salah satu “Koran kuning” yang beredar  lokal beberapa pekan terakhir ini.

Kesempatan mencari data untuk kebutuhan pekerjaan saya, merupakan suatu kesempatan yang “terpaksa” mengharuskan saya membaca semua artikel tanpa terkecuali di dalam Koran tersebut. Suatu fenomena yang telah lama terjadi dimasyarakat kita yang saya sendiri tidak mengerti bagaimana mungkin seorang suami yang berjanji hidup bersama kita dalam suka maupun duka akan tega menjual istrinya sendiri dengan alasan kebutuhan hidup?

Siapapun tidak memungkiri, saat ini kebutuhan yang sangat melecit secara drastic, dimana akhir-akhir ini kita dihebohkan baik dari berbagai media atau bahkan sering kita temui langsung di jalanan akhir-akhir ini aksi demonstrasi akibat rencana kenaikan BBM oleh Pemerintah. Yang sudah bisa dipastikan akan lebih berdampak pada kaum ibu yang notabene adalah perempuan. Maka dengan alasan kebutuhan hidup yang harus dipenuhi dan pandangan patriarkhis yang seakan menganggap perempuan sebagai objek komoditi yang layak untuk diperjual belikan, maka para lelaki yang tidak bermoral merasa “berhak” untuk menjajakan tubuh istrinya. Tubuh perempuan yang hidup bahkan mungkin yang sudah melahirkan keturunannya.

Patokan harga pun sering dipatok mulai dari Rp 500,000/malam atau sekitar setengah harga untuk short time/jangka pendek. Cara dan jenis “menjajakan”nya pun berbeda-beda di tiap kasus. Para suami bejat itu akan “meletakkan” istrinya umumnya pada tempat hiburan malam. Seperti mucikari, mereka pun akan mengantarkan sang istri di tempat itu pada waktu menjelang larut malam. Lalu umumnya menjemput istrinya kembali pada waktu subuh sekitar pukul 04.00wib dari tempat yang sama.

Ada lagi versi yang istrinya sengaja dijajakan dengan laki-laki hidung belang yang mana suami tersebutlah yang mencarikannya. Setelah dapat pelanggan, lalu suami pun mengantarkan ke TKP tempat transaksi berlangsung, yang umumnya hotel. Kadang suami akan menunggu di lobi hotel, atau akan kembali menjemput setelah istrinya selesai melayani pria hidung belang tersebut.

Artikel yang sengaja dimuat dalam beberapa bagian dalam tiap edisinya itu seakan mengajak saya dan pembaca lainnya untuk melihat lebih jauh lagi dengan mata telanjang betapa kasus ini bukan lagi sekedar peristiwa yang berdiri sendiri. Tapi menunjukkan cara pandang yang melihat perempuan sebagai objek, barang/benda untuk dijual, dijajakan, direndahkan dan membuat institusi perkawinan sebagai selubung dari bisnis yang bejat dan merendahkan isteri serta anak-anaknya.

 

Dengan alasan apapun para istri dalam fenomena diatas menjalankan “kehidupannya”, saya yakin itu bukanlah pilihan yang didasarkan atas kesadaran sebagai perempuan dan isteri yang mempunyai hak azasi. Semua ini adalah pelanggaran atas kemanusiaan, khususnya hak-hak azasi perempuan. (Diambil dari sumber: artikel Posmetro – 18/2 & 26/2).

Explore posts in the same categories: Seputar Perempuan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: