Bersama Perempuan Memahami & Melawan Budaya Patriarki

PENDIDIKAN DAN TRAINING KADER  PEMULA

PUSDIPRA –PESADA, Sidikalang, 08-09 Mei 2012

 Selasa pagi hari, sebuah nyanyian “Halo Kawan Apa Kabar” menciptakan suasana kebersamaan di antara 43 peserta pendidikan dan training Kader PESADA.  Mereka semua adalah kader pemula yang akan mengikuti pendidikan.

Memahami visi & missi PESADA.

Di awal rangkaian pendidikan, fasilitator memperkenalkan PESADA dan program-programnya melalui apa yang telah diketahui peserta tentang Visi dan Misi, sejarah dan program-program PESADA.  Berbagai kegiatan seperti menabung di CU,  pendidikan dan pelatihan, dukungan untuk perempuan duduk di politik, kursus pendidikan ekonomi rumah tangga,  memeriksa kesehatan : PAP Smear, pengurusan akte lahir anak,  diskusi bulanan,  membentuk TBAA,  audiensi ke pemerintahan, analisis APBD, dialog dengan partai politik,  aksi, talk show di radio dan TVRI, pendampingan Perempuan Pekerja Seks (PPS) dan lain-lain.

Saat fasilitator Dina Lt. mempertanyakan tanggapan peserta tentang  Perempuan Pekerja Seks (PPS), sebagian besar menganggap profesi itu adalah dosa. Lalu,  pertanyaan lanjutan untuk membangun kesadaran peserta mengenai issue ini adalah:

“Siapa yang lebih berdosa, PPS atau yang menggunakan jasa PPS itu? Kenapa ada PPS itu? Apakah itu pilihan atau terpaksa?” Hal ini menjadi sebuah diskusi meski tetap menimbulkan pertanyaan besar dalam pikiran para peserta…

 

Mendalami Issue Gender.

Dengan membangun dialog, peserta menjadi  nara sumber berbagai kasus kisah nyata yang mereka alami sendiri untuk dapat memahami serta menyadari  apa itu Gender.   Hasil diskusi kelompok menemukan perbedaan perlakuan terhadap laki-laki dengan perempuan di bidang Ekonomi, Pertanian, Pendidikan, Politik, Negara dan Pemerintahan.

Sebuah kisah nyata terungkap  tentang pembagian warisan yang tidak adil bagi perempuan karena aturan adat-istiadat.

Ajaran adat yang berat sebelah terhadap perempuan. Tradisi yang  memulangkan perempuan kepada pihak keluarga perempuan untuk sementara menunggu perubahan (disebut: paajarhon), sementara suami yang tidak mampu sebagai Kepala Keluarga, suami, Bapak yang bertanggung jawab, tidak pernah dipulangkan.

Kemudian di bidang pertanian mereka menemukan masalah seperti :

  • lebih besar gaji buruh tani laki-laki dari pada perempuan,
  • jam kerja yang lebih banyak bagi perempuan,
  • pemakaian teknologi pertanian lebih dikuasai laki-laki,
  • produksi pertanian lebih  besar dipercayakan pada laki-laki (misalnya untuk produksi kemenyan dipercayakan pada laki-laki).

Memahami Patriarki untuk Kesadaran Gender

Pendidikan kesadaran gender adalah upaya untuk memberikan pencerahan akan budaya atau keseluruhan perilaku, kebiasaan, nilai, aturan bahkan adat yang membuat perempuan setara dengan laki-laki. Inilah yang sering disebut dengan istilah Kesetaraan Gender, menuju ke Keadilan Gender.

Hasil-hasil diskusi disajikan dalam metoda Role Play atau bermain peran, membuat kisah-kisah ketidak adilan gender dari lapangan menjadi hidup dan menarik untuk dipelajari. Metoda ini memancing kemampuan ‘acting’ ibu-ibu peserta, membuat peserta terbahak meski tetap terhenyak bahkan terharu menyaksikan  kisah rumit perempuan yang dituduh selingkuh hanya karena dia Single Parent (orang tua tunggal). Hidup perempuan yang menjadi anak perempuan, isteri, ibu, atau perempuan yang kehilangan suami karena berbagai hal memang sering membuat perempuan mengalami berbagai bentuk ketidak adilan; mulai dari beban kerjanya, anggapan dan dugaan yang merugikan, berbagai bentuk kekerasan, kemiskinan karena akses ke sumberdaya (harta ataupun warisan bahkan pendidikan), serta budaya yang selalu melihat perempuan lebih rendah dari laki-laki. .

Dengan anak di gendongannya ibu-ibu dengan serius mendiskusikan, apa sebenarnya akar masalah dari ketidak adilan tersebut. Kasus mengenai warisan, upah yang dibedakan, adat yang cenderung menyalahkan perempuan dan membenarkan laki-laki, dsb.membuat peserta melihat adanya cara pikir dan cara pandang yang mengutamakan laki-laki.  Fasilitator memperkenalkan istilah “budaya patriarki”. Pola pikir seperti ini membuat ketidak adilan terhadap perempuan dipandang sebagai hal yang biasa, bahkan diterima sebagai kodrat, dan dipelihara terus melalui pendidikan dan berbagai lembaga di masyarakat (keluarga, tafsir agama, adat, bahkan hukum Negara).

Mengapa perlu kader???

Bila merunut kepada cara PESADA mengatasi permasalahan perempuan melalui misinya:

  1. Penyadaran untuk perubahan pola pikir,
  2. Penguatan posisi perempuan melalui CU (ekonomi), dukungan untuk berkiprah di dunia politik, pemerintah lokal dan adat
  3. Advokasi kebijakan agar adil gender dan pembelaan serta penguatan perempuan korban kekerasan berbasis gender
  4. Kajian dan pengembangan kapasitas untuk mempelajari seluruh aspek yang potensial mendiskriminasi perempuan, serta mendidik untuk kesadaran dan pengetahuan penguatan perempuan dan rakyat.

Adakah Pedoman Perilaku Kader???

Peserta mengambar model tubuh manusia, yang dimisalkan sebagai tiruan tubuh kader, dan bersama-sama menuliskan setiap hal yang tidak boleh dilakukan oleh kader. Hal ini menjadi semacam kode etik dari setiap kader PESADA dalam kehidupannya sehari-hari. Antara lain:

Tugas di lapangan.

Sesuai dengan pesan dan saran di akhir pendidikan, kader mengatakan masih dibutuhkan kesinambungan pendidikan dan penyadaran gender ini. Pemahaman dan kesadaran peserta semoga bertambah dan membawa perubahan. Ibu Kader baru yang akan membuka harapan sempitnya kesempatan bagi kehidupan perempuan di tengah masyarakat. Mengarahkan adat untuk semakin bertoleransi dan memberi ruang gerak dan keadilan bagi perempuan dalam berbagai ruang lingkup kehidupan. Pola pikir tercerahkan sedikit demi sedikit.

(G – disarikan dari Notulen Pendidikan Kader Pemula).

Explore posts in the same categories: Seputar Perempuan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: