Aung San Suu Kyi Perempuan Burma yang berjuang dalam diam dan damai

“Sepanjang yang saya ketahui, tidak satupun perang diawali oleh perempuan. Tapi adalah perempuan dan anak-anak yang terutama selalu menderita dalam situasi konflik” (kutipan dari kata-kata Suu Kyi).

Sepanjang bulan Juni, hampir seluruh media internasional memuat berita mengenai Aung San Suu Kyi; khususnya ketika berpidato di Universitas Oxford dan di Norwegia.

Siapa dia?

Orang mengenalnya sebagai pejuang demokrasi. Tidak banyak yang mengetahui latar belakangnya sebagai anak perempuan, mahasiswi dan ibu rumah tangga.

Aung San Sukyi lahir 19 Juni 1945, dari perkawinan Ma Khin Kyi (Daw Khin Kyi), seorang perawat senior; dengan Aung San, Komandan Pasukan kemerdekaan Burma. Ayahnya adalah pendiri angkatan bersenjata Burma dan salah satu yang ikut dalam perundingan untuk kemerdekaan Burma dari jajahan Inggris di tahun 1947. Suu Kyi sendiri  adalah anak ke 3. Namanya berasal dari 3 nama: Aung San dari Bapak, Kyi dari ibu dan Suu dari Neneknya.

 Tahun 1947 di bulan Juli, ketika Suu Kyi baru berusia 2 tahun, Jenderal Aung San terbunuh oleh lawan politiknya. Setelah itu, Daw Khin Kyi, ibunya; menjadi tokoh publik yang memimpin Badan Perencanaan & Kebijakan Sosial. Di tahun 1960, Daw Khin Kyi menjadi Duta Burma di India. Hal ini membuat Suu Kyi ikut pindah dan tinggal di New Delhi, dan bersekolah di sana (di Lady Shri Ram College).

Masa study yang menempa Suu Kyi

Pada kurun waktu 1964 s/d 1967, Suu Kyi studi dan memperoleh gelar BA di bidang  Filosofi, Politik dan Ekonomi di Universitas Oxford. Waktu itu yang menjadi semacam orangtua asuhnya adalah bekas Duta Inggris di India. Di situ, dia bertemu Michael Aris, mahasiswa peradaban/budaya Tibet; yang kelak menjadi suaminya.

Sukyi sempat kuliah di New York tahun 1969 – 1971, tetapi   kemudian berhenti untuk magang sebagai Asisten Sekretaris di PBB, dan terlibat di berbagai kegiatan sukarela di RS, seperti membaca dan menemani pasien.

Di tahun 1972, January Suu Kyi akhirnya menikah dengan Michael Aris tsb. Pada saat Michael melamarnya, dia mengajukan semacam syarat, bahwa apabila negaranya membutuhkannya, dia harus kembali. Michael menyetujuinya.

Mereka kemudian berangkat ke Bhutan, dan menjadi pengajar pada keluarga kerajaan dan memimpinan Depart. Peterjemah di Pementerian Luar Negeri. Setahun kemudian (1973), Suu Kyi melahirkan anak pertama mereka, Alexander, di London; disusul oleh anak kedua, Kim,  tahun 1977, yang lahir di Oxford. Selama 16 tahun, Suu Kyi hidup sebagai ibu rumah tangga.  Ketika membesarkan anak2nya, Suu Kyi mulai menulis, membuat penelitian untuk riwayat hidup bapaknya dan membantu Michael yang sedang melanjutkan studi mengenai Himalaya & Tibet. Di antara tahun ’85 ke ’86, Suu Kyi dan Michael harus berpisah sementara karena tugas dan studi; dan setelah itu, dapat tinggal bersama lagi di tahun 1987.

Mengapa jadi tahanan rumah?

Pada akhir Maret 1988 Suu Kyi memperoleh kabar bahwa Ibunya stroke. Ini membuat Suu Kyi segera pulang ke Rangoon (sekarang disebut Yangon) untuk merawat Ibunya. Pada tahun yang sama, Diktator militer Birma bernama Jenderal Ne Win yang berkuasa sejak 1962, mengundurkan diri. Sejak itu, Burma bergolak dengan berbagai demonstrasi yang mengakibatkan terbunuhnya ribuan orang oleh militer.

Di bulan Agustus, Suu Kyi mulai melakukan gerakan politik, melalui pengiriman surat resmi meminta PEMILU multi partai, menyampaikan pidato menuntut pemerintahan yang demokratis; tetapi pemerintah justru menanggapi dengan mengeluarkan UU yang melarang adanya kumpulan orang, hingga penangkapan dan hukum diperlakukan tanpa melalui peradilan. Akhirnya pada bulan September, sebuah partai politik bernama National League for Democracy/NLD atau Liga Nasional untuk Demokrasi dibentuk, dengan Suu Kyi sebagai SEKJEN.

Di masa-masa ini, Ibunya berjuang melawan penyakit hingga akhirnya meninggal di bulan Desember. Pada saat Ibunya dimakamkan, Suu Kyi menyatakan bahwa sebagaimana Ayah dan Ibunya, dia juga akan melayani dan berjuang untuk Burma, hingga akhir hayatnya. Sampai bulan Juli, dia terus berkampanye menuntut berbagai bentuk kekerasan yang dilakukan oleh tentara, seperti pemenjaraan para aktivis dan penahanan. Sementara itu junta atau penguasa militer menyatakan bahwa Suu Kyi dilarang ikut dalam PEMILU.

Tahanan selama 15 tahun.

Tanggal 20 Juli 1989, Suu Kyi dinyatakan sebagai tahanan rumah tanpa melalui proses peradilan. Michael, suaminya, terbang ke Rangoon dan menemui Suu Kyi yang sedang melakukan mogok makan sebagai protes atas perlakuan buruk terhadap para mahasiswa di penjara. Dia ingin masuk penjara saja dengan para mahasiswa tersebut. Mogok makan ini berakhir setelah pemerintah memenuhi janjinya untuk memperlakukan para mahasiswa dengan baik.

PEMILU kemudian berlangsung di tahun 1990, dan partai NLD yang dipimpin Suu Kyi memenangkan PEMILU dengan 82% kursi untuk parlemen (DPR). Tapi Pemerintah berkuasa menolak hasil ini. Di saat-saat itu, mata dunia tertuju ke Burma, dan Suu Kyi memperoleh berbagai penghargaan, seperti penghargaan HAM, khususnya Penghargaan Perdamaian Nobel di tahun 1991 oleh Norwegia. Penghargaan ini diterima oleh kedua anaknya sebagai wakil Suu Kyi pada hari HAM 10 Desember, di Oslo. Suu Kyi menolak untuk berangkat dan memilih untuk tetap menjadi tahanan rumah, daripada menerima tawaran meninggalkan Burma dan meninggalkan perjuangan politiknya. Di tahun 1992, Suu Kyi mengumumkan bahwa uang hadiah Nobel Perdamaian sebesar 1,3 juta Dollar akan digunakan untuk membangun lembaga untuk Kesehatan dan Pendidikan Rakyat Burma. Pemerintah militer Burma tidak bergeming, meski seluruh dunia, termasuk Komisi HAM PBB maupun team Nobel Perdamaian terus menyerukan pembebasan Suu Kyi.

Dibebaskan tapi ditahan kembali.

Tahun 1995, akhirnya Suu Kyi dibebaskan dari tahanan rumah setelah 6 tahun menjalani tahanan rumah. Tapi itu tidak berarti dia bebas melakukan berbagai aktivitas. Kegiatan partainya tetap dibatasi, beberapa anggota diserang dan dipenjarakan, Su Kyi tidak berani kembali ke Inggris untuk menemui keluarganya, bahkan keamanan dirinya sangat dikhawatirkan; tidak ingin pembunuhan Ayahnya terulang kepada dirinya.

Media internasional terus mengikutinya, dan popularitasnya tidak terbendung di dalam maupun di luar Burma. Bahkan saat penulis (Dina Lt.) mengikuti Konperensi Perempuan Sedunia ke 4 di Beijing tahun 1995, video Suu Kyi dapat  sampai ke Konperensi Forum LSM di Huairou, yang berisi Keynote/Catatan Kunci. Para aktivis perempuan yang mengikuti Konperensi ini sebenarnya sangat mengharapkan kehadirannya, tapi cukup puas dengan memandang dirinya di layar lebar video ruang Konperensi. Video ini sebenarnya adalah hasil seludupan. Hujan deras yang mengawali Konperensi saat itu dibuka dengan catatan kunci bertemakan “ Toleransi”, sekaligus bertepatan dengan tahun 1995 sebagai tahun toleransi internasional.

Di tahun 1995 itu juga, Suu Kyi akhirnya bertemu dengan keluarganya di Burma, dan sangat terharu melihat betapa kedua anaknya telah dewasa. Pertemuan ini pastilah pertemuan yang sangat menyentuh bagi mereka berempat. Bisa dibayangkan bagaimana perasaan mereka berpisah dan mengikuti dari jauh bagaimana Suu Kyi diperlakukan. Bagaimana Michael juga dengan sabar menghias dinding rumah dengan berbagai penghargaan yang diterima isterinya, termasuk memajang buku yang sedang dibaca oleh Suu Kyi ketika tiba2 harus pulang ke Burma pada saat Ibunya sakit.

Tetapi tahun 2000, kembali Suu Kyi ditahan, dilepas kembali 2002; ditahan kembali 2003, dilepas, demikian seterusnya. Pemerintah militer (Junta militer) selalu mempunyai alasan untuk menahannya kembali.

Baru pada 13 November tahun 2010 dia benar-benar bebas. Dari 21 tahun hidup di Burma, 15  tahun Suu Kyi berada dalam tahanan rumah. Saat-saat itu adalah masa sulit bagi Suu Kyi, keluarganya dan rakyat Burma. Suu Kyi juga beberapa kali mengalami gangguan kesehatan.

Suami berpulang tanpa kehadiran Suu Kyi.

Meski telah bertahun bebas dari tahanan rumah, keinginan untuk bertemu suami dan anak-anak memang sulit dilakukan. Dia dihadapkan pada pilihan, berangkat ke Inggris dan bertemu keluarga; tetapi tidak akan bisa masuk kembali ke Burma; atau tetap di Burma, berjuang dari dalam Burma. Penyakit kanker prostat Michael, suaminya tidak mengurangi semangat perjuangannya. Permohonan Michael untuk mengunjungi Suu Kyi  untuk terakhir kalipun, ditolak oleh Pemerintah.

Hingga akhirnya pada tanggal 27 Maret 1999,  Michael Aris meninggal di  London. Mereka tidak pernah bertemu sejak Michael mengunjunginya di Hari Natal 1995. Pengorbanan ini sangat besar, demi demokrasi di Burma.

Satu cerita mengenai hubungan Suu Kyi dengan suaminya yang tidak diketahui media adalah film pendek yang dia buat untuk suaminya. Ketika Suu menyadari dia tidak mungkin lagi bertemu dengan suaminya selagi hidup, dia memakai gaun dengan warna kesukaan suaminya, dengan mawar di rambut dan mebuat film pendek di Kedubes Inggris, untuk diseludupkan. Tetapi film ini tidak pernah dilihat Michael, suaminya; karena hanya bisa sampai di Inggris dua hari setelah Michael meninggal, cerita ini dikisahkan oleh Rebecca Frayn, penulis dan pembuat  film“Lady”  film yang merupakan kisah dari Suu Kyi.

Menang PEMILU dan melakukan tour.

Setelah kebebasannya di 2010, Suu Kyi memulai kunjungan ke daerah-daerah yang merupakan basis dari partainya. Dia semakin disorot oleh media, terutama ketika Hillary Clinton (MENLU AS) mengunjunginya di bulan Desember 2011. Kepala Negara pertama yang bertemu Suu Kyi setelah dibebaskan adalah Perdana Menteri Thailand, Anaknya, Kim; juga mengunjunginya berkali-kali, bahkan menemaninya di saat kunjungan ke daerah.

Pada 1 April 2012, partainya (NLD) memenangkan PEMILU, sehingga dia berhasil duduk menjadi anggota Majelis Rendah untuk parlemen Burma. NLD memenangkan 43 dari 45 kursi, dan kemenangan ini diakui oleh Komite Pemilihan Burma.

Pada bulan Juni 2012, Suu Kyi kemudian melakukan perjalanan 2 minggu ke Negara-negara Eropa yang memang sudah sangat menanti kedatangannya. Termasuk ke Norwegia untuk menerima secara resmi penghargaan Nobel Perdamaian, maupun menerima penghargaan dari Oxford University, tempat Suu Kyi dulu studi. Pidatonya di dua tempat ini sangat terkenal dan diliput secara luas oleh media di seluruh dunia.

Tour ini sangat berhasil menyebarkan pikiran-pikirannya dan membuatnya kembali pulang ke Burma dengan sambutan layaknya Kepala Negara.

(DL – dari berbagai sumber, a.l. Wikipedia,Fox News, Tribune, dll.) 

Explore posts in the same categories: Seputar Perempuan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: