Di Pucuk Gunung Lae Mbentar-Pagindar

(Tulisan relawan lapang PESADA)

Jauh dari asap kepenatan, jauh dari kebisingan dan rayuan iklan televisi, tak ada jaringan, jauh dari berita politik dan korupsi, bahkan jauh dari Sekolah. Itulah suasana di Desa Lae Mbentar di puncak gunung Kecamatan Pagindar, Kabupaten Pakpak Bharat.  Desa ini sejajar dengan bukit Barisan, dibentengi barisan gunung berlapis-lapis, mengharu biru, di perbatasan Pakpak Bharat dengan Aceh Selatan. Dinding kemegahan Bukit Barisan mengelilingi membuat mereka jarang dijamah oleh kekisruhan hidup bernegara.

Perkampungan Transmigran

Pertanyaan pertama yang muncul melihat rute jalan dan jarak tempuh yang cukup lama dari ibu kota kabupaten adalah: “ Kok bisa ada perkampungan disini?”.  Ternyata mereka adalah ungsian pemerintah. Era Soeharto menghantarkan mereka menjadi penduduk Pakpak Bharat melalui program transmigrasi Orde Baru. Mereka menjadi pembuka puncak gunung di Lae Mbentar. Sebuah desa dengan hunian kurang lebih 200 manusia, dan 90%  suku Jawa.

Dapat dipastikan tak ada satu mobil pun menggelindingkan rodanya disana. Kita bisa ke sana hanya lewat sebuah jembatan kayu dengan  panjang 30 meter dan lebar 1 meter di atas ketinggian lembah 50 Meter. Wow!! Ketika jembatan gantungnya bergoyang, membuat lututku menggigil, apalagi saat memandang kecuraman dan desiran air di bawahnya. Kadang ada ketakutan seakan penghuni hutan memata-matai di balik rerimbung pepohonan. Sesekali terdengar suaranya, bergerombol sahut-menyahut, “monyetkah itu?’, pikirku.  Medan yang menguras tenaga, gedebag-gedebug dada kita dibuatnya. Dari kota ke kabupaten kira-kira jaraknya 120 Km, waktu tempuh 4 jam melalui jalur lintas Aceh Selatan Kabupaten Subuluhsalam.

Tidak bisa membaca

 

Mereka tak mengerti betul arti jejeran huruf-huruf dan perkalian angka-angka. Orang yang bisa menuliskan namanya dengan benar, sudah hebat bagi mereka. Ketika penabungan, mereka akan minta tolong kepada kawannya untuk sekedar menuliskan namanya. Saat PESADA menerangkan peraturan CU disana, ibu-ibu itu hanya menjawab “Ora mudeng aku!” (bahasa Jawa, artinya: ‘aku tidak mengerti’) Jadi untuk menjelaskan satu hal, harus diulang-ulang beberapakali.

            Mereka punya minimal dua hektar tanah per keluarga. Dengan produksi utama kebun karet, punya cukup uang, namun sudah menganggap mewah lauk ikan asin. Tak ada sayur atau tanaman berbuah yang bisa dikembangkan, kecuali hasil dari hutan. Karena masih banyak hama monyet dan binatang hutan yang suka memakan tanaman mereka.

Ber-CU tanpa pendampingan

Berbagai hal membuat pengelolaan keuangan keluarga juga kurang baik. Seorang ibu Elmida Silitonga punya pandangan dan keiginan untuk membantu warga desa, menggagasi dibukanya Credit Union disana. Ibu ini belajar CU dari desa Sibagindar. Salut dengan mereka! Ketika tanpa pendampingan sekalipun selama 1,5 tahun, penabungan tetap berjalan, walau cara-cara penabungan masih belum teratur.  Dan anggotanya pun tidak ambil pusing mengenai peraturan CU. Mereka cuma mengandalkan ingatan dan rasa percaya, seberapa duit yang mereka sudah berikan. Untuk saat ini anggota CU sudah ada 21 orang. Dan baru pertama kalinya PESADA datang ke desa ini (Mei 2012).

Mereka jarang bepergian keluar dari perkampungan. Betapa senangnya  mereka bila ada alasan untuk keluar dari desa, yang mereka anggap sebagai refreshing atau penyegaran untuk menyebrang ke desa lainnya.

            Kabar baiknya, sudah ada sekarang upaya untuk membangun jalan lintas dari daerah Sibagindar ke Kecupak. Diperkirakan jarak  45 Km dengan waktu tempuh 2 Jam. Satu lagi kabar baiknya adalah,  telah diupayakan listrik tenaga air secara mikro (PLTAM).

Memori Lintasan Pagindar Nai

Kecamatan Pagindar meliputi desa Napatalun, Sibagindar, Pagindar dan Lae Mbentar. Lae Mbentar merupakan desa terpojok. Untuk menuju Desa Lae Mbentar, kita melalui Desa Napatalun, Sibagindar dan Pagindar.

            Di perjalanan Pak Manik bercerita, ”Kira-kira 15 tahun yang lalu, daerah ini adalah hutan alami. Penebangan kayu hutan juga masih alami, tidak untuk eksploitasi hutan atau orientasi bisnis,” ucap Bapak itu. Saat ini, selang beberapa hektar, pokok-pokok sawit mulai berderet rapi.

Aku tak tahu persis siapa pemiliknya. Dipelosok negeri yang bergelombang batu-batu ini, sesekali mobil mewah melintasi, dugaanku dialah pemiliknya. Sebab, rumah-rumah kecil penduduk berkisah, dia bukan yang empunya. Saat diskusi bersama ibu-ibu di CU Sada Pekkat Desa Sibagindar, tersaji data JARPUK yang mengambarkan bahwa mereka 90% hanyalah petani padi dan cabe yang cukup untuk kebutuhan dapur saja.

Wilayah potensial mulai dikepung sawit

Pakpak Bharat wilayah yang cukup potensial. Disatu sisi kita ingin menjadikan hutan ini menjadi lahan yang produktif, disisi lain tidak ingin kemegahan gunung dijangkiti berbagai tanaman seperti sawit yang menguras kesuburan dan keindahannya. Bahkan dapat memiskinkan penduduk.

Di malam yang melarut, PESADA pulang dengan kenangan ‘Pagindar Nai’.  Tak kan terlupakan lembahnya, curamnya, hamparan dan dinding bukit Barisan yang menyimpan jutaan kisah dan keindahan lainnya.

(Berdasar Cerita K’Mida S & K’Tiba dari Lae Mbentar/DL)

Explore posts in the same categories: Info Kita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: