Konsultasi

Tanya :

Saya seorang ibu rumah tangga, yang mempunyai 3 orang anak. Anak pertama saya perempuan  berumur 15 tahun dan saat ini tidak bersekolah karena mengalami kasus kekerasan seksual. Begini ceritanya, anak saya dikenalkan oleh teman satu sekolahnya dengan teman laki-lakinya, berumur sekitar 21 tahun. Setelah satu bulan berkenalan, laki-laki itu mulai memaksa anak saya untuk melakukan hubungan badan. Tentu saja anak saya menolak.

Pelaku terus memaksa hingga memberikan makan dan minum kepada anak saya, sampai akhirnya anak saya tidak sadar dan dicabuli hingga berkali-kali. Anak saya merasa tidak berdaya menolak ajakan pelaku. Ia juga kerap mendapat ancaman akan ditinggalkan bila menolak keinginan pelaku. Pelaku juga kerap meminta uang kepada anak saya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Karena ketakutan akan dimarahi oleh orang tuanya, anak saya sering tidak pulang kerumah dan bolos sekolah. Menjadi pendiam dan tidak mau menuruti perkataan orang tua. Hingga akhirnya saya mengetahui permasalahan anak saya. Saya pun melaporkan kasusnya ke polisi dan ternyata pelaku telah mencabuli beberapa anak lainnya. Demikian informasi yang saya terima. Namun kami bingung apa yang harus kami lakukan selanjutnya.

Jawab :

Ibu, kami sangat prihatin dengan masalah yang ibu hadapi, terutama untuk anak ibu. Anak ibu mengalami tekanan psikis yang begitu berat akibat prilaku kekerasan seksual yang diterimanya. Kondisi dimana anak kemungkinan merasa kotor, tidak suci, membenci diri sendiri, ketakutan dan tergantung dengan pelaku serta merasa kehilangan masa depan; mungkin saja dialami oleh anak ibu.

Disini fungsi keluarga dan orang tua untuk meningkatkan kepercayan diri korban sangat dibutuhkan. Kondisi dimana korban sangat diterima dan tidak dibedakan juga tidak terlalu disalahkan dapat membantu pemulihan kondisi psikis korban. Meski ibu ingin menegurnya, sebaiknya untuk saat ini, tunjukkan bahwa ibu prihatin atas kejadian itu dan melihat anak ibu sebagai korban kejahatan. Ada baiknya ibu juga memeriksa kondisi organ reproduksi anak ibu, agar ibu mengetahui akibat yang dideritanya. Selain untuk menyembuhkan dampak dari kerusakan organ ini, juga merupakan deteksi dini dari penyakit IMS (Infeksi Menular Seksual) yang mungkin ditularkan dari pelaku.

Secara hukum menurut UU No 23 tahun 2002 (Pelindungan Anak) kasus yang ibu hadapi adalah Kasus Cabul. Pada pasal 81 & 82 disebut bahwa : “ memaksa anak melakukan persetubuhan (Perbuatan Cabul) diancam pidana penjara max 15 tahun, minimum 3 tahun, dan denda max Rp. 300 juta & minimum Rp. 60jt. Ada baiknya ibu meminta didampingi oleh lembaga yang memberi nasehat/bantuan hukum atau konseling untuk anak ibu. Kami WCC Sinceritas – PESADA, bisa ibu hubungi melalui nomor telepon di bawah ini, (DH)

Explore posts in the same categories: Konsultasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: