SEKAPUR SIRIH PERKEMBANGAN KELOMPOK Unit Bukit Sion, Sandidin

Pada tanggal 4 Juli 2012  yang lalu, kami (Dina, Mariana/Staff CU Pesada PEREMPUAN, Maringan/Koord. Umum) mengunjungi Desa Sandidin, yang terletak di Desa Jumantuang, Kecamatan Siempat Nempu Induk, Kabupaten Dairi. Kunjungan ini lebih merupakan kunjungan lapang untuk pengenalan lebih dalam perkembangan kelompok-kelompok dampingan PESADA.

Kebanyakan anggota CU Unit Bukit Sion, sedang berada di sawah dan kebun. Sebagian lagi sedang mengurus pendaftaran anak ke sekolah. Untunglah sebagian kecil sedang berada di rumah, selesai makan siang kami langsung menuju ke rumah pengurus bernama Ibu  Risda br Habeahan

Suasana di rumahnya agak santai, karena baru digunakan untuk pesta tetangga. Kami yang memang ingin mengetahui situasi kebun dan pekarangan Ibu itu, langsung meminta izin untuk ke belakang rumah.

Di sana ada dua kandang kecil kosong, sebidang tanah yang digunakan sebagai kebun sawi pahit dan jahe; serta ada tanaman pekarangan. Kandang yang kosong ternyata bekas ternak babi dan ayam, tapi sudah tidak terisi lagi, dengan alasan yang kurang jelas. Saya justru terkejut, karena salah satu kandang dekat pintu yang tidak kuperhatikan, berisi ular.  Ularnya terlihat agak lemas, dan tidak bergairah. Mungkin kurang makan. Suami si Ibu mengatakan bahwa ular ditemukan di jalan, dan dipelihara supaya tidak mengganggu!  Begitulah…

Tidak lama kemudian, 7 orang anggota sudah bergabung dengan kami, di kursi/meja yang terletak di depan rumah. Udara cukup panas, tapi cukup nyaman karena angin sepoi-sepoi.

Sambil meminum teh manis suguhan si Ibu, kami mulai bercerita-cerita mengenai hidup perempuan, perkembangan CU, pertanian, dsb.

Menarik sekali mendengar kisah-kisah mereka. Pada umumnya, mereka rajin menabung, tapi tidak begitu tahu berapa besar jumlah tabungannya. Besar pinjaman mereka selalu tahu dan diangsur. Hanya empat orang yang macet, Dari total 45  jumlah anggota, kelompok ini telah mempunyai total saham sebesar Rp 26.992.500,- dan  pinjaman beredar sebesar Rp 43.817.000,-  Kredit buruk yang agak macet dari 4 orang di atas, berjumlah Rp 6.065.000,-..

Salah satu Ibu yang ikut berbincang menyampaikan bahwa angsurannya macet karena tanaman jagungnya gagal.

Di bawah ini, point diskusi yang dilakukan di desa tersebut, serta saran-saran kepada Pengurus CUB dan PESADA untuk perbaikan:

1. Tabungan dan Pinjaman.

    a. Mendiskusikan ulang arti sesungguhnya dari Credit Union, definisi tabungan, dan tujuan tabungan. Dua anggota tidak tahu besar tabunganya, hanya ingat (dengan malu-malu) besar pinjaman.
    b. CU masih diartikan tempat memperoleh kredit. Akibatnya, tidak bangga dengan besar saham, dan malu karena meminjam; bahkan ada kasus disalahgunakan oleh orang lain untuk mengambil pinjaman.
c. Perlu dibangun sistem ricek pinjaman melalui HP, sehingga tidak terjadi penyalahgunaan nama peminjam, besar pinjaman, penyelewengan yang mungkin terjadi, dll.
  d. Perlu pendidikan memahami bahwa CU adalahtempat orang yang membangun kepercayaan dan bersama menyisihkan sebagian dari pendapatan untuk masa depan dan sumber modal.

2. Tanaman Pekarangan, masalah pangan di rumah tangga, dan pertanian organik.

a. Pentingnya menggunakan tanah sempit di pekarangan atau sekitar rumah dan kebun utama (bagi yang punya tanah dan berkebun untuk pasar), sebagai sumber sayuran dan bumbu keluarga.
b. Dengan metoda organik, sayur dipastikan sehat dan uang belanja sayur dan bumbu dalam sebulan bisa dipakai menjadi tabungan.
c. Sayuran penting dalam menu keluarga, dan tidak boleh digantikan dengan mie instant (ini yang banyak terjadi); harus bervariasi dan tidak melulu daun ubi (ini mengganggu asam urat di darah).
d. Dalam program tanaman pekarangan, perlu dipadukan dengan ternak kecil, kesehatan pangan keluarga dan pertanian organik. Kelompok ini tergantung sekali dengan pupuk kimia dan mengabaikan tanah pekarangan/lahan sempit sekitar.

Lahan sempit di sekitar rumah dapat dimanfaatkan untuk sumber sayuran dan bumbu untuk kebutuhan keluarga sehari-hari.

3. Gender. Kelompok ini perlu diberi penyadaran gender. Kasus seorang anggota yang dibatasi oleh suaminya dan akhirnya mengundurkan diri dengan utang yang belum dibayar dapat menjadi pelajaran mengenai pentingnya menyadari hak-hak perempuan/isteri, dan KDRT.

    a. Penyadaran gender dan pembahasan kasus dapat dilakukan dalam diskusi bulanan.

    b. Setiap penabungan perlu ada diskusi bulanan untuk penambahan pengetahuan dan membangun kesadaran anggota. Paling tidak, 1 jam per bulan.

4. Rencana kerja kelompok ini belum masuk karena Pengurus absen pada pertemuan CU Pesada PEREMPUAN (pesta). Perlu perhatian Pengurus CU Pesada PEREMPUAN untuk memperoleh RK unit segera.

Menurut Mariana Sitinjak, dari kunjungan ini, Rencana Kerja Juli sampai Desember 2012 adalah:

a. Kursus  Penyadaran Organik kepada  Anggota CU.

b. Kursus Penyadaran Gender. Untuk anggota dan diikuti (bila memungkinkan) KPG untuk suami.

c. Pendidikan ulang CU, khususnya Menabung & ERT.

Mudah-mudahan CU Unit Bukit Sion dapat terus belajar dari pengalamannya, dan mampu menjadi Unit yang berhasil di waktu yang akan datang. Salam,. (DL/MS)

Explore posts in the same categories: Seputar Perempuan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: