Mengenali Sejarah Partisipasi Perempuan di Olympiade Sejak zaman “tidak pantas” sampai ke “mayoritas peserta”

Olympiade pasti sudah kita dengar selama ini. Bahkan waktu disekolah, semua harus menghapal di mana saja dan kapan pernah diselenggarakan Olympiade. Nah, baru-baru ini Olympiade ke 30 baru saja selesai diselenggarakan. London menjadi tempat penyelenggaraan, dan dipuji dunia karena keberhasilan mereka menjadi tuan rumah.

Meski kita termasuk 5 negara terbesar penduduknya di dunia, tetapi kita tidak mampu menjadi  salah satu yang terbesar, meskipun misalnya di 20 besar. Rasanya malu ya? Dari 220an juta penduduk, hanya 22 orang ( 8 perempuan) yang berangkat, dan bahkan pulang tanpa membawa satupun medali emas. Kita hanya mampu di peringkat 63, dengan membawa 1 medali perak dan satu perunggu! Inilah tahun di mana Indonesia sama sekali tidak dapat emas!

Bandingkan dengan 2 negara lainnya yang berada di urutan 1 & 2 di Olympiade, maupun di jumlah penduduk; yaitu Amerika Serikat dengan 46 medali emas, 29 perak 29 perunggu; sementara Cina memperoleh 38 medali emas, 27 perak dan 22 perunggu.

Nah, kita tidak akan mengusut lagi soal medali ini, pasti Indonesia akan berbenah untuk memperbaiki prestasinya. Sekarang kita mau melihat  bagaimana partisipasi perempuan di Olympiade.

(Photo: WomenCan International)

Berawal di tahun 1900.

Di zaman dahulu, menurut sebuah sumber di internet, Olympiade pertama sekali diketahui pada tahun 776 Sebelum Masehi (SM). Dilaksanakan sekali dalam empat tahun, hingga tahun 394 Masehi. Siapa yang boleh ikut pada waktu itu? Laki-laki dan yang berbahasa Yunani!  Tetapi laki-laki itupun, haruslah laki-laki merdeka, artinya bukan budak. Maklum, pada waktu itu masih ada perbudakan. Meskipun laki-laki itu jago olahraga, kalau dia hamba/budak dan tidak berbahasa Yunani, tidak boleh ikut. Ini berarti, paling tidak issue/masalah gender (perbedaan perempuan dan laki-laki), kelas (kaya & miskin, majikan & budak, kelas atas dan bawah) serta dominasi ras dan budaya melekat di dalam pesta olahraga ini. Jadi, kapankah perempuan mulai bisa ikut di Olympiade? Ternyata baru di tahun 1900, atau di Olympiade II versi modern. Di Olympiade modern yang pertama, pendiri Olympiade bernama Pierre de Coubertin, seorang bangsawan Perancis, mengganggap perempuan tidak perlu ikut. Alasannya: tidak praktis, tidak menarik, tidak indah dan tidak benar! Wah, bayangkan….. betapa diskriminatifnya pandangan ini… padahal sudah dianggap modern. Disebut Olympiade modern karena sebelumnya dianggap tradisional, kuno, sebagaimana dapat dilihat dari kriteria di atas tadi.

Ada memang perempuan-perempuan disebut disejarah olympiade kuno, tapi mereka hanyalah pemilik kuda-kuda yang ikut dalam pertandingan pacuan kuda. Mereka biasanya datang dari kalangan orang kaya, atau keluarga kerajaan. Itu sudah dianggap cukup membanggakan pada zamannya.

Prosentase perempuan naik turun..

Di Olympiade tahun 1900 itu, ada 22 perempuan (2,2%) dari 997 atlit. Meski Olympiade mempertandingkan 5 jenis olahraga yaitu tennis, layar, kriket, pacuan kuda dan golf; perempuan hanya berlaga di 2 jenis saja yaitu tennis dan golf! Baru tahun 1928 perempuan masuk ke gimnastik dan atletik, dan saat itu jumlah peserta  perempuan sudah mencapai 277 orang, atau 9,6 %. Setelah tahun 1928, prosentase perempuan di Olympiade agak naik turun. Baru tahun 1952 ke atas bisa di atas 10%, tetapi jenis pertandingan di mana perempuan ikut kompetisi, selalu meningkat; misalnya di tahun 1952, sudah mencapai 25.

Bila kita melihat ke tahun 80an sampai sekarang, di Olympiade Los Angeles 1984, perempuan mencapai 23%, sementara tahun 2008 di Olympiade Beijing sudah mencapai 43%. Pertandingan untuk perempuan juga terus ditingkatkan. Bahkan di tahun 2012 ini, jumlah atlet perempuan AS lebih banyak dari laki-laki, yaitu 268 perempuan dan 261 laki-laki. Ini karena tim sepakbola mereka tidak lolos ke putaran final.

Demikian pula Kanada dan Rusia, jumlah perempuan lebih banyak dari laki-laki. Bila dilihat dari kontribusi perempuan memperoleh medali, Inggris Raya sangat bangga karena 14 atlet perempuan menyumbang medali emas ke negaranya, dan membuat negaranya berada di urutan ketiga.

Komitmen Kesetaraan Gender di  Komisi Olympiade.

Tentu kita perlu tahu, bagaimana sebenarnya sikap penyelenggara Olympiade mengenai kesetaraan perempuan dan laki-laki dalam olahraga. Komisi Olympiade Internasional atau IOC sebenarnya mempunyai komitmen terhadap kesetaraan gender.

Dalam Deklarasi Olympiade, disebut bahwa salah satu peran IOC adalah: “Mendorong dan mendukung peningkatan perempuan dalam olahraga di semua tingkatan dan struktur, dengan menerapkan prinsip kesetaraan perempuan dan laki-laki (Aturan no 2, alinea 7), (lihat box) itulah sebabnya mereka dengan bersungguh-sungguh bekerja dan peningkatan perempuan dapat dilihat pada table di samping.

Tetapi faktanya, tidak semua perempuan dapat menikmati olah raga. Pandangan atas mana yang pantas untuk perempuan atas pertimbangan ‘keharusan karena gender’ (bukan karena kemampuan tubuh), menghambat perempuan untuk menikmati semua jenis olah raga, apalagi untuk berpartisipasi dalam pertandingan-pertandingan. Apalagi untuk bertanding di pertandingan internasional.

Di sinilah IOC berperan, karena semua Negara yang ikut Olympiade, harus tunduk pada aturan yang telah ditulis di atas. Olympiade Tahun 2012 memang istimewa.

Apa hasilnya setelah sekian lama menjadi aturan tertulis? Ini dia, untuk pertama kali dalam sejarah Olympiade, di Olympiade London 2012,  semua cabang diikuti atlet perempuan.

Tiga Negara yaitu: Qatar, Arab Saudi, dan Brunai Darussalam untuk pertama kalinya mengirim atlet perempuan ke Olympiade. Dan tinju untuk perempuan juga diperkenalkan di tahun ini, yang berarti semua cabang telah terbuka untuk semua.

Bandingkan dengan tahun 1900. Butuh waktu lebih dari satu abad untuk ini, seumur dengan masa ORBA! Semua Komite Nasional Olympiade (NOC) telah mengirimkan perempuan dalam kontingan mereka.

Kuota Perempuan di Kepemimpinan Olympiade.

Bukan hanya partisipasi perempuan dalam keikut-sertaan di pertandingan Olympiade saja yang perlu kita pelajari. Tapi juga sama penting adalah kepemimpinan perempuan, dalam arti keikut sertaan secara nyata dalam pengambilan keputusan.

IOC atau Komite Internasional Olympiade, menyadari pentingnya perempuan dalam pengambilan keputusan atau di kepemimpinan Olympiade. Di tahun 1995, bersamaan dengan tahun Konperensi Internasional IV untuk Perempuan; dibentuklah Kelompok Kerja IOC untuk Perempuan & Olahraga. Mereka bertugas sebagai Badan Konsultasi Yang memberi masukan ke Presiden dan Pengurus IOC mengenai kebijakan-kebijakan yang perlu diadopsi untuk peningkatan partisipasi perempuan di semua tingkatan.

Oleh karena itu, IOC juga mempunyai sistim kuota, di mana target minimum 20% perempuan harus ada di pengambilan keputusan, khususnya di badan pelaksana dan legislative paling lambat tahun 2005. Tapi ternyata sulit untuk tercapai.

Di Desember tahun 2000, pada saat pengecekan di tengah periode; hanya sampai 10%. Itupun adalah capaian disekitar 61% anggota komite tingkat nasional (NOC).

Di tingkat Komite Olympiade International (IOC) sendiri, perempuan pertama baru ada di posisi anggota pada tahun 1981. Tahun 1990 untuk pertama kali dalam sejarah IOC, satu perempuan terpilih menjadi pengurus IOC; menyusul tahun 1997 dan 2004 di masing-masing tahun tsb. terpilih seorang perempuan menjadi Wakil Presiden IOC. Demikian juga di tahun 2008, dipegang oleh perempuan Marokko, yang bekas juara Olympiade; yang juga menjadi perempuan pertama memimpin Komisi Evaluasi IOC, dan posisi ini masih akan dipegangnya Untuk Olympiade 2016 mendatang.

Di Juni 2012, telah terdapat 20 perempuan sebagai anggota aktif (18,8%) dan 2 perempuan menjadi Pengurus IOC. Jadi, target kuota mereka memang sulit untuk dicapai, tetapi mereka bekerja keras untuk itu.

Nah, inilah sedikit informasi bagaimana partisipasi perempuan di Olympiade, serta perwakilan perempuan di pengambilan keputusan Komite Olympiade. Bukan hanya di penyelenggaraan Negara kita berjuang, tetapi di semua institusi seharusnya berpartisipasi, keterwakilan dan khususnya kepemimpinan perempuan harus terus diperjuangkan, untuk keadilan.

(DL – dari berbagai sumber di internet)

Explore posts in the same categories: Seputar Perempuan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: