Beras Miskin (RASKIN) dan Tempe Makanan Pokok Kami

Raskin dengan lauk tempe adalah makanan pokok kami. Saat kedelai krisis, tempe pun tak terbeli. Beraspun harus tergadai…hanya garam yang tersisa murah

 

Begitu ucapan seorang Ibu dampingan PESADA beberapa waktu lalu. Bermula dari adanya perhatian PESADA terhadap kondisi pangan di Pakpak Bharat, kami melihat dan berdiskusi dengan ibu-ibu  dampingan.

Bila melihat daerah Pakpak Bharat dengan hamparan bukit pertanian/ladang yang luas, cukup  menjanjikan sebagai sumber beras bagi masyarakat desa. Tapi ternyata tidak. Hal ini terungkap  dari bincang-bincang dengan ibu-ibu setempat.

Penghasil beras mengkonsumsi Raskin

Aku berada di Desa Namuseng dan Resdes di Pakpak Bharat, dan bertanya seputar kondisi pangan mereka.

“Sebenarnya kalau padi kami tidak dijual untuk membeli kebutuhan lainnya, tak perlu raskin”. Begini umumnya jawaban ibu-ibu itu, sebagai alasan mengapa harus mengkonsumsi raskin (Beras untuk orang Miskin). Perkataan tragis untuk kisah seperti ini menjadi kedengaran sangat biasa. Bagaimana kita harus menjual beras tanaman sendiri yang lebih terjamin, diganti dengan raskin yang tidak tentu kualitasnya?

Berbagai persoalan dihadapi petani desa. Hasil ladang sedikit karena diganggu binatang (monyet/kera/babi hutan), pupuk kurang dan tak punya modal, penyakit tanaman, penyakit flu burung, persoalan irigasi dan masih kurangnya pengetahuan pengelolaan berbagai tanaman. Belum lagi masalah alam (hujan) yang tidak menentu lagi.  Hasil panen sekali setahun satu-satunya sumber untuk memenuhi kebutuhan dapur sehari-hari. Tak sampai setengah tahun maka lumbung sudah melompong. Utang akan menjadi tumpuan harapan, maka ibu-ibu di desa akan membayarnya dengan menyewakan  tubuh di ladang petani kaya.

Sekilas aku juga teringat pada pemberitaan harian lokal (Waspada) tentang aksi ibu-ibu di gedung DPRD Sumut perkara raskin yang tidak tersalur, tidak adil dan tidak tepat sasaran.

Data Raskin

Dalam konferensi pers Kemenko Kesra pada Sabtu, 28 Juli 2012/00:15 WIB diketahui “Pada tahun 2012 jumlah sasaran penerima raskin sebanyak 17,5 juta RTS. Dengan jatah tetap 3,147 juta ton; 15 kg/RTS/bulan. Untuk tahun ini harga jual sebesar Rp 1.600,00/Kg dengan durasi selama 12 bulan.”

Tahun ke tahun yang ditambah adalah stock Raskin katanya untuk ketahanan pangan. Sejalan dengan itu, beberapa media sibuk memberitakan dan memuat berbagai opini tentang ketahanan pangan dalam kondisi buruk (Kompas). Negara pertanian dengan hamparan jutaan hektar lahan tetapi jadi pengimpor bahan pangan utama (beras, kedelai) dari negara yang justru jauh lebih kecil lahan pertaniannya dibanding Indonesia,  seperti Malaysia dan negara industri Amerika.

Sama halnya dengan produksi lainnya seperti sawit. Telah ribuan hektar hutan digarap jadi ladang Sawit. Indonesia Produsen/penghasil  utama, tetapi tetap saja kalah dengan Malaysia. Malaysia meningkatkan nilai lebih 35% lebih tinggi daripada Indonesia, karena mereka sudah mengolah dan meningkatkan nilai tambah hingga 85%. Kekayaan nusantara luar biasa melimpah, namun kita hanya tahu menjual tanpa mengolah. Menjual mentah-mentah! Produksi pangan dasarpun dikuasai negara lain. Utang terus memuncak (hingga Agutus 2012 hampir Rp.2000 triliun: identitasnews.com/24-08-2012), perut semakin terikat. Beraspun harus diimport satu juta ton tahun ini (ekonomikabisnis.com/24-082012).

Apakah kami perempuan petani harus membaca UU yang sering dipermainkan dan susah dimengerti itu???

Apa sebenarnya ketahanan pangan?

Nusantara kita luas, tanah subur, mempunyai  ribuan pulau dan gunung megah, dilalui garis khatulistiwa, beriklim sangat bagus, tapi harus krisis pangan. Katanya dipengaruhi oleh bencana kekeringan di Amerika. Cerita iklim ini yang diperbesar isunya oleh pasar petani raksasa di Amerika, dengan mudahnya pemerintah Indonesia mengurangi bea (pajak) masuk kedelai dari sana. Harga kedelai mereka yang mengatur, sehingga banyak industry rumah tangga yaitu tempe terhenti. Tempe yang semulanya jajanan murah dan lauk ekonomis, sekarang harus juga ikut mengalami krisis.

Dimana letak kesalahan itu, maka kaum ibu tidak pernah tahu, karena pengambil keputusan menyusun aturan untuk kepentingan pemodal raksasa. Maka perempuan hanya tahu membujuk suara anak lapar dan tak pernah kami tahu apa artinya pengendalian harga.

Perempuanlah yang akan selalu mendapat ganjaran dari kebijakan yang tidak jeli ini.

Pernah seorang kawan mengatakan “Sangat mudah mengacaukan Indonesia, tinggal rusak produksi padi maka semua akan kacau, karena perut Indonesia tak bisa tanpa nasi tiap hari.” Beras belum bisa terganti oleh makanan berkabrohidrat lainnya. Saat negara bergantung pada produksi pertanian negara lain akan sangat mudah dipermainkan harga pangan, akan sangat mudah harta negara Indonesia tergade. Untuk sepiring beras bisa-bisa ditukar dengan sepiring emas.

Ahli ekonomi Robert Malthus mengatakan “Bahwa jumlah penduduk berkembang menurut deret ukur sedangkan produksi pertanian berkembang menurut deret hitung”. Produksi beras Indonesia memang meningkat tetapi tetap kekurangan pasokan dikarenakan jumlah pertumbuhan  penduduk tinggi. Stock beras Indonesia hanya mampu untuk memberi makan setengah jumlah penduduk bangsa ini, lainnya beli.

Indeks ketahanan pangan Asia tenggara

 Sumber: Economist Intelligence Unit

Menurut beberapa pemerhati pangan, kelemahan Indonesia dibagian infrastruktur pertanian di desa, pengetahuan, regulasi/peraturan, dan banyaknya pergantian/perubahan lahan, serta penyusutan lahan pertanian menjadi perkebunan sawit raksasa, pemukiman dan lain-lain. Bumi Indonesia lebih kaya di asia khususnya Asia tenggara. Kita seharusnya bisa lebih Jaya.

Ketahanan Pangan :

Melalui diskusi sederhana kami memaknai ketahanan pangan sebagai adanya:

  1. Ketersediaan pangan yang cukup
  2. Keanekaragaman, bernutrisi/bergizi
  3. Kemampuan untuk menjangkau, memperoleh (akses)

Dengan konsep umum ketahanan pangan merujuk pada terpenuhinya pangan bagi setiap individu dalam rumah tangga secara merata dan terjangkau sepanjang waktu, tercermin dari ketersediaan dan konsumsi pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, dan bergizi seimbang untuk menunjang hidup yang aktif, sehat, cerdas, dan produktif.

Ketahanan pangan adalah sebuah kemerdekaan, hak untuk hidup lebih sehat, memiliki akses mudah dan kedaulatan (kekuasaan penuh untuk mengatur sendiri) terhadap pangan. Ketahanan pangan keluarga diartikan sebagai kemampuan Rumah Tangga untuk mengakses pangan yang bergizi/bernutrisi yang dapat memenuhi asupan kebutuhan keluarga agar dapat hidup aktif dan sehat.

Bergizi bukanlah kata baru, namun masih banyak ibu tidak mengerti. Bahwa bukan dua piring nasi yang disebut bergizi, tetapi adalah keseimbangan nutrisi dalam tubuh dengan makanan yang beraneka ragam, cukup vitamin (sayuran dan buah), kabohidrat (ubi, jangung dan nasi) dan protein (ikan).

Adalah kesalahan promosi jaman swasembada beras dahulu mengakibatkan orang yang menjadikan makanan pokok ubi menjadi sebuah status rendah. Masih ingatkah pada saat swasembada beras, tiba-tiba  diberbagai pelosok daerah Indonesia dipaksa mengganti makanan pokok menjadi beras semua. Saat ini terjepit dipaksa kembali untuk makan sagu, ubi dan beras miskin.

Kearifan lokal (kebudayaan lokal yang baik jaman dahulu) diharapkan kembali muncul, menaburnya dengan pupuk organik. Memelihara budaya pembibitan lokal dan sistem kerja gotong-royong. Secara sederhana, agar perempuan tidak belanja beras, sayur, bumbu, ikan dan kebutuhan dasar yang memang bisa diproduksi dihalaman sendiri. Belanja bisa dikurangi dan diharapkan bisa melestarikan kearifan pertanian lokal.

Kami berkesimpulan bahwa perempuan penghuni dapur rumah tangga perlu dibantu. Sebuah keinginan untuk menggerakkan kesadaran agar bisa memiliki tanaman sendiri di pekarangan rumah. Kita tidak hanya bermimpi tetapi memulai sejak kini. Demi terciptanya perempuan yang lepas dari jerat kemiskinan, sehat,  mandiri, dan memiliki kehidupan sejahtera lahir batin.

(MS/Sumber : berbagai media cetak dan elektronik, diskusi dengan KRS dan Logika serta warna emosi penulis).        

Explore posts in the same categories: Info Kita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: