Catatanku dari Filipina

Oleh : Vina Simanjuntak – Feminist/Jurnalist Muda (ex Volunteer PESADA)

“Mabuhay” adalah kata yang pertama kubaca tepat di depan pintu keluar, saat ketibaanku di Bandara Ninoy Aquino-Manila. Guna mengikuti Youth SEA Camp 2012 yang berlangsung dari tgl 25 Juni s/d 8 Juli, 2012, tepatnya di Island Cove-Philippines.

Indonesia tidak buruk.

Dua minggu berada dalam camp yg mendatangkan sekitar 38 peserta dari 10 negara di Asean, membukakan mataku bahwa negaraku NKRI sebenarnya bukanlah yang terburuk di dunia khususnya dalam urusan perempuan dan anak. Bertempat di salah satu resort di Cavite-Cove Island, hampir 2 minggu penuh, waktu kami habiskan untuk belajar dan berlatih dan belajar.

Dalam kegiatan di camp, kami banyak di hadirkan dengan beberapa pembahasan materi yang menceritakan tentang keadaan negara masing-masing, itu semua dikemas manis dalam selipan-selipan tema sesi kelas Debat. Di sinilah aku memperoleh kesimpulan bahwa Indonesia cukup baik.

Belajar Multimedia % Jurnalistik.

Belajar tentang Multimedia dengan mentor dan alumni SEA Camp terdahulu membuatku sadar akan betapa beratnya dan “fun” nya (fun=menyenangkan) beban seorang Cameraman kami di kantor (catatan: bukannya sok artis tetapi memang 2 minggu sebelum keberangkatanku ke Manila aku masih volunteer PESADA, sebuah LSM local yang giat dalam memperjuangkan hak-hak perempuan dan saya bangga pernah menjadi bagian keluarga PESADA @_@).

Dalam pembelajaran multimedia kami diajarkan mulai dari mencari angle(sudut pandang gambar yang akan diambil) yang tepat untuk shoot (pengambilan gambar) lalu bekerja sama dengan tim untuk memilih video mana yang akan diambil, memilih musik yang pas untuk dipakai sebagai backsound, pemahaman mendasar mengenai photoshop dan lain-lain.

Hal yang sangat kusukai dari semua kelas yaitu kelas Jurnalistik. Aku suka semuanya termasuk instruktur utamanya si Ibu Vanitha yg enerjik. Beliau adalah mantan jurnalis di salah satu surat kabar besar di Kuala Lumpur-Malaysia.  Aku sangat senang dengan kelas jurnalis ini karena disini aku merasa menjadi diriku, benar-benar memahami. Menggunakan kecerdasan intuisi social dengan bermodalkan pengalaman dan kejadian di lapangan yang mana pemahamannya lebih dekat dengan kehidupan nyata..

Debat… Dan membuat Video

Berbeda waktu di kelas debat,  sepertinya merasa harus “berjuang” mengorek sisi kepintaranku untuk merangkai pribahasa dan kata-kata intelektual dengan IQ tingkat tinggi, yg memang hanya sedikit. Wkwkkkkk..

Di kelas videomaking aku diajar untuk berkhayal dan kreatif dengan menggunakan alat-alat canggih (padahal aku kan sedikit gagap teknologi).

Cara belajar kamipun secara online, setiap malam kadang kami harus lembur untuk mengerjakan tugas karena umumnya setiap kelas, tiap harinya kami mendapatkan tugas untuk dikerjakan atau sekedar membaca bahan untuk esok harinya. Umumnya para instruktur akan mengirim bahan kelasnya melalui email dan tersimpan dalam satu aplikasi online yang bernama Dropbox.

Wisata dengan sedikit uang…

Memang tidak semua hari kami habiskan belajar dalam ruangan, seperti halnya hari kedua sebelum camp selesai kami melakukan perjalanan wisata ke Tagaytay sebuah dataran tinggi  yang berjarak sekitar 1 jam dari Pulau Cove. Disana kami diberikan modal jajan PH300 per-orang (Sekitar Rp.67.500,-) dan diberikan  kebebasan untuk berjalan dan berbelanja sesuka kami (asal uangnya cukup).

Setelah camp berakhir tanggal 8 Juli kemarin,  sebenarnya aku dan 3 orang kawan dari Vietnam menambah hari untuk menjelajahi Manila selama 3 hari. Ditemani kawan-kawan Filipina yg sangat membantu (thanks untuk Precy, Gail, Dave, Jio yang sudah membantu meng-entertain kami selama dalam bacpack trip).

Aku tidak sama lagi…

Tapi satu catatan akhir yang penting yang kulihat dari backpack trip ku di Manila, lalu lintas yang amburadul, prostitusi dikarenakan banyak perempuan yang hijrah ke kota Manila tanpa dibekali keahlian,  sehingga menjajakan tubuhnya kepada para supir bus atau yang biasa mereka sebut dengan supir Jeepney.

Hmmm aku merasa sangat sedih menyaksikan itu semua, seakan-akan diantara peningkatan kehidupan manusia disatu sisi dan di lain sisi kebobrokan kualitas hidup manusia itu sendiri.. Tuhan.. Tuhan…apa yang dapat kami lakukan?

Kadang itulah pertanyaanku disepanjang jalan pulang menuju tanah air. Vanitha, pelatih kami  pernah mengatakan dalam pesan di malam keakraban. Ketika pulang kami tidak akan menjadi manusia yang sama lagi. Karena kami telah belajar sedikitnya tentang hidup ini.

Semoga pemahaman yang kami dapat dan latar belakang kami masing-masing saat datang kesana kiranya dapat membantu kami untuk hidup berhidup bersosial yang lebih baik di masyarakat. Amin…

Explore posts in the same categories: Seputar Perempuan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: