Konsultasi

 

 

 

 

Tanya:

Saya seorang ibu berusia 40 tahun yang akhir-akhir ini gelisah dan takut akan masa depan anak-anak di daerah saya. Ini karena sekitar bulan September 2012 di Desa kami terjadi kasus perkosaan terhadap 4 orang anak perempuan yang baru berumur 9 sampai 13 tahun. Yang membuat ngeri dan sedih, para pelaku merupakan tetangga korban yang sudah tua, berumur 56 tahun dan 61 tahun. Sementara itu, ada pandangan dari setempat bahwa orangtua tidak mungkin tega menjadi pelaku. Juga karena salah satu adalah Penatua, atau pengurus Gereja. Keluarga pelaku juga sangat melindungi para pelaku ini.

Yang menjadi pertanyaan saya apakah mungkin para Bapak yang sudah berumur bahkan lansia ini melakukannya? Dapatkah pelaku dihukum, karena saksi sepertinya tidak ada? Bagaimana caranya agar peristiwa semacam ini tidak berulang, dan anak-anak perempuan dapat dilindungi dari kekerasan seksual seperti itu?

Jawab:

Buat ibu M, kami mengerti kegalauan perasaan Ibu. Memang ada pandangan bahwa orang-orang berumur tidak mungkin melakukan kekerasan seksual. Faktanya, pelaku kekerasan seksual atau perkosaan, berasal dari semua umur. Bahkan salah satu pelaku perkosaan dalam kasus yang ditangani Sinceritas, berusia 77 tahun. Selama pelaku sehat tubuhnya, tentu selalu mampu melakukan hubungan seksual. Bahkan bila seorang laki-laki tidak mampu berhubungan secara normalpun, selalu banyak kemungkinan melakukan tindakan seksual terhadap orang lain dengan berbagai cara. Apalagi bila korbannya adalah anak-anak.

Oleh karenanya, untuk kasus seperti di atas, ancaman hukumannya adalah 15 tahun. Ini diatur pada UU No. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak. Masalah lamanya hukuman pelaku tergantung pada putusan di Pengadilan. Mengingat jumlah korban yang diperkosa adalah 4 orang, yang masih berusia anak (di bawah 18 tahun); sebaiknya berkas kasus korban dibuat secara terpisah, artinya ada 4 kasus. Sehingga lamanya hukuman pelaku adalah jumlah putusan pengadilan dari keempat berkas kasus. Karena jika berkas kasus disatukan (empat korban satu pelaku), akan menguntungkan bagi pelaku. Karena hukumannya bisa menjadi lebih ringan, yaitu putusan Pengadilan ditambah sepertiga dari hukuman terberat.

Untuk menjaga kasus seperti ini berulang, sebaiknya anak-anak diberi pendidikan mengenai seksualitas. Bagaimana mengenali tubuhnya, menjaga tubuhnya, dan terutama diberi pengertian dan keberanian untuk menolak, bahkan melawan orang yang menyentuh tubuhnya. Anak perlu dilatih untuk tegas dan dapat mengurus tubuhnya sendiri, sehingga tidak ada peluang orang lain untuk mengganggu tubuhnya. Bahkan meski orang tersebut adalah keluarga dekat atau tetangga.

Selain itu yang  perlu ibu lakukan adalah mencari tahu apakah masih ada anak lain yang menjadi korban, karena kemungkinannya bisa saja masih ada yang lain. Biasanya kekerasan sexual semacam ini seperti gunung es, hanya sebagian yang terlihat, sedangkan yang tidak kelihatan masih banyak. (HS)

Explore posts in the same categories: Konsultasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: