Mengenal Suraiya Kamaruzzaman Penerima Penghargaan Perdamaian Internasional 2012

GAMBAR DESEMBER 3

Pada tanggal 12 Oktober 2012 yang lalu, Indonesia, khususnya LSM dan aktivis perempuan ikut bergembira atas penghargaan yang diberikan oleh N Peace, sebuah lembaga yang mendukung kepemimpinan perempuan di wilayah konflik dan perdamaian; kepada Suraiya. Mengapa? Karena Suraya adalah aktivis perempuan yang berkiprah di LSM. Di kalangan LSM, Suraiya sering dipanggil Aya. Penulis mengenalnya ketika lembaga yang dia dirikannya pada tahun 1989 yaitu FLOWER Aceh menjadi anggota ASPPUK. Saat itu Aceh masih merupakan Daerah Operasi Militer (DOM) dan gerak LSM cukup dibatasi. Tapi ini tidak menghalangi semangat Aya dan kawan-kawan yang bernaung di bawah LSM Perempuan bernama Flower tersebut untuk mendampingi perempuan-perempuan korban DOM, yang menjadi kepala keluarga atau janda, serta mengembangkan kelompok-kelompok perempuan, khususnya melalui pengembangan usaha kecil dan mikro seperti kelompok perempuan petani garam. Penulis pernah berkesempatan mengunjungi kelompok petani garam di pinggiran Banda Aceh di sekitar tahun 2000, dan sangat mengagumi semangat Ibu-ibu dalam mengembangkan usaha pembuatan  dan pemasaran garam, meski terkendala dalam pemasaran yang lebih luas karena tidak mengandung yodium. Inilah salah satu kelompok dampingan Flower, lembaga yang didirikan Suraiya. Pada akhirnya para petani garam ini menjadi korban tsunami yang melanda Aceh di Desember 2004.

Aya kecil yang heran & sedih..

Suraiya dilahirkan di Aceh pada bulan Juni, 1968; di sebuah desa yang mayoritas petani. Dia heran, mengapa kebanyakan perempuan dan Ibu-ibu yang bekerja di sawah, sementara bapak-bapak dengan santai duduk di warung. Dia juga heran dan sedih ketika teman sebangkunya sejak kelas 1 sampai kelas 3 SMP tiba-tiba berhenti sekolah karena menikah dengan laki-laki yang hanya dua kali dilihatnya dari jendela rumahnya. Padahal kawannya pintar dan dapat ranking di kelas. Ada apa dengan perempuan-perempuan itu…begitu pertanyaan di benak Aya.

Mulai dari Kampus.

Suraiya kemudian melanjutkan kuliah di Universitas Syah Kuala, jurusan Tehnik Kimia. Dia kemudian melihat berbagai persoalan di sekitar dan terjun menjadi Volunteer (tenaga sukarela) ke desa-desa di sekitar kampusnya. Di sana dia melihat lebih banyak lagi masalah yang dihadapi perempuan, soal menikah muda, kemiskinan maupun kesehatan reproduksi. Yang paling berat adalah ketika mengetahui kisah-kisah tersembunyi mengenai perempuan-perempuan korban perkosaan militer di masa DOM. Cukup banyak korban yang berdiam diri dan tidak ingin mengungkapkan, hingga kemudian menjelang rezim Soeharto jatuh, kisah ini terbuka. Aya pun bergerak dalam menangani semua issue tersebut, bersama kawan-kawan di Flower maupun LSM lainnya di Aceh dan di luar Aceh.

Aktif di berbagai organisasi.

Berbagai aktifitas dijalani oleh Suraiya tanpa lelah dan melawan rasa takut maupun ancaman. Dia kemudian menjadi pendiri dan Dewan Pengurus dari berbagai organisasi di Aceh termasuk Relawan Perempuan untuk Kemanusiaan (RPuK), Kelompok Kerja Transformasi Gender Aceh  (KKTGA),  Balai Syura Ureung Inong Aceh (BSUIA), Radio Komunitas Suara Perempuan,  Pusat Study Hukum dan HAM (PUSHAM) Unsyiah,; dan menjadi anggota serta Dewan Pengurus organisasi berbasis di Jakarta seperti Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM) dan Dewan Pengawas Nasional Solidaritas Perempuan.

Pada tahun 2000 dia terpilih sebagai Ketua Steering Committee untuk Kongres Perempuan  Aceh yang mendorong proses penyelesaikan konflik di Aceh dengan cara damai yaitu melalui dialog. Pada tahun 2009 Dia bekerjasama dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia (Mowe) dan di United Nasional Dana Populasi (UNFPA) menjadi konsultan untuk memberikan analisis gender pada RUU tentang mengatasi Konflik sosial, sesuai dengan Resolusi Dewan Keamanan PBB No 1325.

Penerima Penghargaan

Perempuan penerima penghargaan perdamaian 2012

Perempuan penerima penghargaan perdamaian 2012

Di tahun 2001, dia menerima penghargaan Yap Thiam Hien untuk kontribusinya dalam membela hak asasi manusia dan penguatan perempuan. Kurang lebih sepuluh tahun kemudian, tepatnya di 2012, penghargaan di atas diterimanya; bersama perempuan lain.

Congratulations Aya, selamat untukmu, kami semua ikut bangga.

(DL-sumber: notulen JASS Sumatra 2011, N’Peace website)

Explore posts in the same categories: Seputar Perempuan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: