Konsultasi

Poto 18 SP Juni

Tanya:

Saya adalah isteri beranak satu dari seorang laki-laki yang menikahiku di tahun 2010. Tetapi anakku tidak tinggal bersamaku, dan saya telah pisah rumah dengan suami. Saya dan suami dulu menikah setelah dikenalkan oleh keluarga, dan tidak lama setelah itu saya dilamar dan langsung menikah. Tidak ada masa pacaran, sehingga memang saya kurang mengenalnya, dan orangtua juga dulunya melarang kami menikah karena dianggap belum saling mengenal. Setelah menikah, kami tinggal di rumah mertua (orangtua dari suami) di kota M. Saya tetap bekerja di kota K dan  pulang setiap akhir minggu. Sikap suami mulai berubah, sering pulang larut malam dan suka bersikap kasar. Selain itu, sejak menikah, saya tidak diizinkan berkomunikasi dengan orang tua kandung, apalagi bertemu. Saya juga  tidak dinafkahi, dan meski mertua tahu soal ini, mereka tidak perduli.

Ketika saya hamil, suami tidak mengakui kehamilanku dan menuduh berselingkuh dengan laki – laki lain. Saya merasa tersinggung dan marah berani tes DNA saya bahkan disuruh bersumpah di depan Alkitab… Kemudian, ketika itu pernah juga ditelepon seorang perempuan yang mengaku istri dari suamiku. Aku sangat terkejut dan meminta bertemu, tapi dia tidak mau. Ketika aku melahirkan, suami dan siapapun tidak ada yang membantu mengurusku, bahkan untuk makan saja, saya harus membeli nasi bungkus. Hingga suatu hari, bayiku demam dan kubawa berobat; tapi sepulangnya, suami memarahiku, memaki dan memukulku; kemudian mengusirku dan tidak boleh membawa bayiku.

Saya lalu pulang ke rumah orang tua dan melaporkan kasus pemukulan itu ke Polsek. Kasus diproses dan sudah putus di PN, tetapi suami tidak ditahan. Saya sangat sakit hati & kecewa. Hingga sekarang aku belum pernah melihat bayiku lagi, dan aku memutuskan bercerai, kasusku putus dan hak asuh anak jatuh padaku. Tapi sampai sekarang bayiku belum kembali kepadaku. Mohon bantuan Ibu, apa yang bisa saya lakukan lagi… Saya juga ingin suami dihukum karena semua perbuatannya.

Jawab

Ibu mengalami berbagai bentuk kekerasan di dalam rumah tangga. Mulai dari fisik, jiwa Ibu dan juga secara ekonomi. Ini berhubungan dengan pasal-pasal mengenai KDRT yang termuat di UU Penghapusan KDRT no.23 tahun 2004.

Meski kasus perceraian Ibu sudah beres, tetapi kami melihat tidak ada upaya hukum yang dilaksanakan untuk merubah perilaku bekas suami Ibu. Untuk itu, kami dapat mendampingi Ibu untuk meneruskan upaya hukum agar terjadi upaya paksa pelaksanaan putusan mengenai hak asuh anak.

Selain bantuan dari Komisi perlindungan Anak Daerah SUMUT (KPAID), kami juga berharap Ibu datang konseling sekali-sekali agar luka hati ibu dapat pelan-pelan terpulihkan, dan Ibu dikuatkan sebagai perempuan yang berhak atas keadilan dan hak-hak azasi sebagai perempuan, isteri dan Ibu. Tetaplah tegar dan jangan takut untuk memperjuangkan hak, dan sabar dengan seluruh proses. (DL)

Foto Februari...14

Iklan
Explore posts in the same categories: Konsultasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: