Kartini Dari Balik Surat

Foto Mei 1

Kita semua tentunya sudah kenal Ibu Kartini. Kalau saya sendiri sewaktu sekolah dulu, tepatnya di SMP; saya ingat ibu Kartini, saya ingat Emansipasi wanita. Meski asing, tapi kata emansipasi membuatku pelan-pelan memahami maksudnya; Kesetaraan, persamaan hak untuk memperoleh pendidikan maupun posisi dengan laki-laki. Begitu… Apa rupanya kata Kartini???

 Habis gelap terbitlah terang.

Seperti sebuah nasehat indah, kata ini seolah mampu menyihir kondisi yang kurang menyenangkan dengan memberi semangat, penguatan danFoto Mei 2 adanya harapan dalam hati bahwa besok akan membaik. Buku itu terbit setelah Kartini meninggal. Suami dari Rosa, temannya yang dulu  berkorespondensi di Belanda, mengumpulkan surat-surat Kartini dan menjadikannya buku ‘Habis Gelap terbitlah terang. Kartini rajin surat-menyurat. Tidak hanya dengan Rosa, Kartini juga berkirim surat dengan Stella Zeehandelaar. Kartini berbicara banyak hal mengenai sosial, budaya, agama bahkan korupsi.

Keren yah, jika di masa Kartini saja seorang Perempuan yang terkukung telah membicarakan hal itu. Apalagi kita sekarang. Sebenarnya, tidak sulit lagi bagi kita kaum perempuan untuk bisa menjangkau cita-cita yang kita kehendaki bahkan setinggi langitpun. Tapi memang masih ada beberapa posisi yang susah diambil oleh perempuan hingga kini.

Masih ada pemikiran-pemikiran kolot yang mengatakan perempuan itu harus bekerja di dapur, harus bisa masak, harus pintar dandan, dan banyak lagi… yang membuat perempuan terus dikungkung oleh aturan tidak tertulis semacam ini. Tetapi hanya sedikit mungkin yang akhirnya bisa menangkap, betapa Kartini menderita ketika sampai akhir hayatnya, keinginannya untuk melanjutkan kuliah di kedokteran tidak pernah kesampaian. Pertama karena Ayahnya yang berubah pikiran dan tidak mengizinkan; kedua karena Pemerintah Belanda.

Perjodohan.

Bagaimana dengan perkawinan Kartini? Kartini sendiri dalam cerita riwayat hidupnya mengatakan bahwa dia menikah dengan dasar dijodohkan dengan seorang Bupati yang sudah tiga kali menikah. Meski kedengarannya ironis (karena dia sebenarnya anti poligami), tapi Kartini agak beruntung, karena dengan suaminya ini dia mempunyai kebebasan dan memperoleh dukungan untuk mendirikan sekolah bagi kaum kita Perempuan.

Hmmhhh… dari zaman dulu sampai zaman sekarang sebenarnya masih tak terbilang laki-laki yang mempunyai istri lebih dari satu. Yang menolak banyak, tapi banyak juga yang pro alias setuju. Dalam surat Kartini yang pernah dikirimnya ke teman korespondensinya mengatakan harapannya untuk memperoleh pertolongan dari luar. Salah satunya dalam hal perkawinan dan perjodohan.

 Pada saat perkenalannya dengan Estelle “Stella” Zeehandelaar, dia mengungkapkan keinginannya untuk menjadi seperti kaum muda Eropa, dengan menggambarkan penderitaan kaum Perempuan di Indonesia. Khususnya di Jawa pada saat itu yang tidak bebas sekolah, yang dipingit, dijodohkan dengan laki-laki yang tidak dikenal dan juga harus bersedia dimadu.

Satu lagi tentang perjodohan ini; intinya perjodohan berarti dipaksa menikah dengan yang lain, sangat tidak menyenangkan yah  mendengar kata dipaksa, belum lagi kita harus mendapati diri bahwa ternyata dijodohkan dengan orang yang sudah memiliki istri, *ckckck… Penderitaan double pastinya… Tapi Kartini, tidak terlalu menunjukkan bagaimana penderitaanya sebagai perempuan yang mengalami poligami…

 

Cemburu dan adil…

Ada isi dalam kitab Suci Kristen yang mengatakan “Aku adalah Allah yang cemburu, jangan menyembah yang lain selain Aku (lengkapnya lihat Kitab Suci di Kel 20:4-5). Ayat ini  mungkin bisa kita renungkan, sedangkan Tuhan kita saja cemburu kalau kita menyembah yang lain selain DIA. Apalagilah seorang Perempuan yang diduakan, ditigakan, diempatkan bahkan disembilankan seperti “Eyang Subur”;  apa mungkin itu adil??? BOHONGGG…!!!

 … Yah mungkin hanya Nabi yang bisa berlaku adil terhadap istri-istrinya, apalagi di zaman dulu  Nabi menikahi perempuan-perempuan yang tidak mampu untuk dijadikan istri. Bukan seperti yang banyak terjadi sekarang, semua karena “NAFSU SEMATA”

Coba kita ingat dari cerita teman, dari tontonan di TV, dari internet, dari surat khabar; masih banyak perjodohan di zaman sekarang ini. Bahkan kawin kontrak pun ada.  Padahal kita sudah sangat jauh moderen dibanding zaman Kartini.

 Baiklah kalau memang di jodohkan, atau juga kalau memang kita mempunyai suami hasil perjodohan; tapi yang banyak terjadi ketika kita dijodohkan tidak sesuai dengan yang kita dapat, malahan kita mengalami kekerasan dalam Rumah tangga. Dan lebih ngeri lagi kalau kita dipaksa. Seperti cerita dari Afganistan baru-baru ini, yang mana seorang ayah tega dan harus menjual dengan paksa anak Perempuannya yang berumur 6 tahun demi membayar utang. Untungnya peristiwa ini batal karena ada yang membayarkan utangnya. Kemungkinan di sekitar kita juga banyak terjadi kejadian seperti itu yang kita tidak sadari. Bagaimanakah kesadaran Kartini akan hal ini???

Pendidikan.

Dengan hadirnya semangat Ibu Kartini dari 100-an tahun yang lalu, kita tidak lagi terkungkung dengan status kita yang “perempuan” yang selalu dinomor duakan. Dengan perjuangan Kartini, kita kini bebas mendapatkan pendidikan formal sampai kejenjang  Sarjana yang kita inginkan. Juga pendidikan informal yang kita mau. Kita juga punya kesempatan memilih mau jadi apa kita, mau tinggal dimana atau bahkan mau menikah dengan siapa.

 Kita juga bebas mendapatkan pendidikan saat berkumpul bersama dalam pelatihan ketika ber CU, setiap ada penabungan atau setiap diskusi bulanan atau ketika kita RAT. Intinya kita kini bebas mendapatkan pendidikan darimana saja. Tentunya ini merupakan usaha dari Ibu kita Kartini yang berhasil mengangkat martabat kita perempuan Indonesia. Meski Kartini menyembunyikan perasaan terdalamnya mengenai kekecewaannya, sebagai perempuan kita memahami bagaimana setiap pejuang juga manusia biasa, yang mengalami kekecewaan dan penderitaaan.

 “Selamat Hari Kartini, 21 April 2013, semoga semangatnya semakin terang dihati kita” (AS – Sumber: Biografi tokoh, Tempo)

 

Explore posts in the same categories: Tema Kita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: