Perkosaan anak perempuan. Pelaku lari, korban sakit jiwa dan akhirnya meninggal.

Konsultasi kita kali ini sedikit berbeda. Kami akan membagi sebuah kisah pilu yang membuat sesak dada, marah dan…mempertanyakan DI MANAKAH KEADILAN???

Di hari Natal 25 Desember tahun 2000, di sebuah desa kecil bernama Tualang di Kecamatan Jumateguh, Kabupaten Dairi; tersentak karena sebuah kasus perkosaan yang dilakukan oleh seorang pemuda belasan tahun kepada seorang anak perempuan berumur 10 tahun. Pelaku adalah anak seorang pejabat pada waktu itu.

Orang tua korban langsung meminta bantuan ke PESADA untuk menjadi kuasa hukum dalam menggugat pelaku. Pelaku secara enteng sebenarnya sudah mengaku di hadapan orang banyak di desanya, melalui kata-kata: “kalau dia (korban) bilang saya yang melakukannya, ya sayalah itu…”.

 Tetapi faktanya berbagai proses dilakukan, pelaku tidak kunjung diperiksa. Sampai tahun 2004, berbagai upaya dilakukan oleh PESADA agar polisi dapat memeriksa pelaku, Tetapi tidak berhasil. Jawaban yang diterima adalah: tersangka tidak lagi berada di tempat, sudah pergi merantau. Tahun berlalu, korban ternyata mengalami tekanan jiwa yang luar biasa. Berbagai cara untuk memulihkan jiwanya ditempuh, tidak berhasil. Hingga akhirnya di tahun 2011; si korban akhirnya meninggal dunia. Kedua orang tuanya yang adalah guru di desa tersebut, mengalami kesedihan dan kemarahan yang luar biasa.

Di tahun 2013, bulan April; tiba-tiba si pelaku kembali ke desa, dan undangan beredar yang mengundang penduduk untuk menghadiri perkawinannya. Segera orangtua korban melapor ke PESADA (WCC Sinceritas), dan meminta sebagai kuasa hukum agar segera melaporkan pelaku ke polisi. Pelaku dilaporkan ulang, dan para polisi sibuk mencari file yang berhubungan dengan kasus ini. Polisi yang menerima laporan, telah mejinggal. Yang lainnya, sudah pindah tugas. Tetapi mengingat setiap kantor mempunyai sistim file, maka PESADA mendesak agar alasan perpindahan ataupun berpulangnya polisi yang menangani kasus ini tidak menjadi penghambat.

Maka saat ini pelaku sedang dalam pemeriksaan polisi. Perkawinan pelaku tetap terlaksana, meski PESADA telah menginformasikan kepada pihak Gereja mengenai kasus yang bersangkutan, dan Gereja tempat yang bersangkutan merencanakan pemberkatan pernikahan telah memutuskan untuk tidak memberkatinya; tetapi pemberkatan pernikahan tetap dapat dilakukan di Gereja lain. Berbagai bentuk intimidasi telah dilakukan pihak pelaku kepada orangtua korban agar menarik gugatannya, tetapi orang tua korban tidak bergeming.

“Keadilan harus ditegakkan. Biarlah penegak hukum melakukan tugasnya untuk keadilan, sehingga anak kami juga bisa tenang di atas sana…” ucap sang Bapak dengan wajah sedih… (DL)

Explore posts in the same categories: Konsultasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: