Konsultasi

Tanya:

Saya seorang ibu (26) menikah pada tahun 2011 dan  diberkati di sebuah Gereja. Saya telah dikarunia satu orang anak  berusia 10 bulan. Ini merupakan pernikahan kedua saya setelah pernikahan pertama, Saya ditinggalkan oleh suami pertama saya karena ia pindah ke kota lain dan menikah dengan perempuan lain.

Setelah 3 bulan menikah, saya mulai sering mendapat perlakuan kasar dari suami. Sering dipukuli, dimaki dll. Mertua hanya diam saja menyaksikan semua itu. Saya sering dipukul hingga para tetangga sudah biasa mendengar jeritan saya. Mereka juga sudah pernah berusaha untuk menasehati suami, tetapi suami saya marah-marah dan mengancam mereka untuk tidak mencampuri rumah tangga kami.

Suami saya sering menghabiskan uang untuk mabuk dan memakai narkoba. Saya juga tidak mendapat nafkah yang layak dari suami. Hingga saat ini kekerasan fisik dan psikis terus saya alami. Puncaknya suami saya mengancam akan membunuh saya atau membuat saya cacat. Saya sangat ketakutan, saya merasa rumah tangga saya tidak mungkin lagi dapat berlanjut. Saya kemudian lari meninggalkan rumah karena merasa hidup saya dan anak saya  terancam. Tapi anak tidak sempat saya selamatkan, sehingga dia tertinggal. Saya hampir saja bunuh diri, tapi sepertinya Tuhan menyelamatkan saya…

Apa yang harus saya lakukan, saya kebingungan karena saya meninggalkan anak bersama suami yang tidak bertanggung jawab.

 

Jawab :

Ibu, kami sangat prihatin dengan keadaan yang ibu alami. Kekerasan yang ibu alami merupakan pelanggaran hukum UU RI No.23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga. Berdasarkan keterangan ibu, ada 2 kekerasan yang ibu alami antara lain Kekerasan fisik yaitu perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit atau luka berat, dengan ancaman hukuman penjara maksimal 10 tahun atau denda maksimal Rp 45 juta. Juga Kekerasan Psikis yaitu; perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya dan atau penderitaan psikis berat pada seseorang, dengan ancaman hukuman penjara maksimal 3 tahun atau denda maksimal Rp 9 juta.

Sebaiknya ibu meminta bantuan lembaga yang perduli terhadap kasus perempuan dan anak untuk membantu dalam mengambil anak yang masih bersama suami apabila ibu tidak ingin melanjutkan pernikahan lagi dengan suami. Suami ibu tentunya dapat diberikan surat peringatan (Somasi) yang berisi pelanggaran hukum yang telah dilakukannya kepada ibu dan anak. Ibu juga akan dibantu untuk melihat benang merah dari permasalahan serta dibantu untuk mencari solusi yang ibu alami. (DH).

Catatan: Saat ini si Ibu telah tinggal bersama anaknya, jauh dari suami dan keluarga. Si anak diserah-terimakan suami melalui Rumah Aman Perempuan Sinceritas/PESADA sebagai kuasa hukum, sementara perceraian resmi tidak bisa diurus karena perkawinan mereka tidak dicatat secara sipil. Si Ibu tidak ingin melanjutkan masalah ini ke hukum, hanya ingin pisah secepat mungkin dari suami dan hidup aman dengan anaknya di luar jangkauan suami. Meskipun demikian waktu untuk berpikir masih ada, si Ibu sedang mempertimbangkan untuk kebali kepada suami, sepanjang ada perjanjian suami untuk berubah dan dimonitor oleh PESADA. (DL).

Explore posts in the same categories: Konsultasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: