Menyoal Kondisi Pendidikan Nasional

Downloaded dari Google

                                                                  Downloaded dari Google

Setiap tanggal 2 Mei 2013, Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional. Sejarah peringatan ini menandai semangat pendidikan bangsa yang dipelopori oleh Kihajar Dewantara (2 Mei 1889–26 April 1959). Ki Hajar Dewantara adalah seorang aktivis pergerakan kemerdekaan RI yang mendirikan Perguruan Nasional Taman Siswa yang menjadi awal dari konsep pendidikan nasional. Taman Siswa bertujuan untuk memberikan kesempatan bagi para pribumi jelata untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti halnya para priyayi (pegawai tinggi)  maupun orang-orang Belanda.

Tujuan Pendidikan.

UU RI No 20 tahun 2003 menjelaskan bahwa pendidikan nasional berfungsi “mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, menjadikan manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Namun dalam pelaksanaan tujuan pendidikan tersebut masih mengalami banyak kendala dan belum berhasil yang ditandai tingginya pengangguran 6,14% atau sekitar 7 jutaan penduduk usia kerja di Indonesia pada awal tahun 2013 (sumber : Tribun Medan). Belum kita hitung capaian lainnya dari segi kecerdasan hidup, ataupun menjadi WNI yang demokratis serta bertanggung jawab.

Akhir-akhir ini pendidikan nasional kita pun di rundung berbagai masalah; bongkar pasang kurikulum, polemik ujian nasional, korupsi dipendidikan, minimnya akses perempuan atas pendidikan, dll.

Ganti Menteri Ganti Kurikulum

Banyak masyarakat yang ragu atas penerapan kurikulum 2013, namun Kementerian Pendidikan Nasional RI tetap ‘ngotot akan melakukan penerapan bertahap mulai ajaran baru TA. 2013/2014 di setiap jenjang pendidikan.

Bongkar pasang kurikulum pendidikan nasional ini sangat politis dimana tiap ganti rezim berganti pula kurikulumnya. Penerapan kurikulum 2013 ini menyebabkan beban belajar semakin banyak, guru harus belajar kurikulum baru, orang tua pun bingung mengikuti pola pendidikan anaknya, dan membeli buku baru. Kurikulum 2013 ini pun belum jelas memberi arahan bagi pendidikan kesadaran gender dan kesehatan reproduksi bagi guru dan anak didik.

Lihat saja kurikulum pendidikan anak pra sekolah saat ini; beban belajar sangat berat, tugas rumah yang banyak, fokus belajar lebih ke pengetahuan, dan tak adanya hubungan orang tua dengan sekolah, dll. Taman Bina Asuh Anak (TBAA) yang digagas oleh PESADA yang merupakan pendidikan pra sekolah altenatif bertujuan untuk menciptakan anak Sehat, Cerdas dan Bangga Budaya lebih mengedepankan  bermain dan belajar, perawatan kesehatan dan gizi anak. Juga pengelolaan berbasis komunitas, partisipasi orang tua, dan pengenalan nilai budaya lokal. Tetapi banyak juga orangtua yang mendesak agar anak TBAA belajar membaca dan berhitung..

Polemik Ujian Nasional.

Masalah lainnya adalah ujian akhir. Penolakan penerapan ujian nasional sebagai standarisasi evaluasi pendidikan nasional ditolak banyak kalangan. Di dalamnya termasuk Mahkamah Konstitusi yang menilai ujian nasional tak tepat dilakukan mengingat besarnya kesenjangan antara satu sekolah dengan sekolah lainnya terhadap akses peserta didik atas fasilitas belajar, guru yang profesional, penggunaan ICT, dll. Praktek ujian nasional jadi momok yang menakutkan bagi anak didik; mereka menjadi stress, kesurupan massal, maraknya ritual doa massal, mencontek, kecurangan jawaban soal dari guru, dan yang paling mengejutkan bahwa ujian nasional terlambat dilakukan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Banyaknya masalah yang mendera ujian nasional, bukan membuat pemerintah peka atas putusan Mahkamah Konstitusi yang membatalkan ujian nasional. Pemerintah hanya menghapus UN di tingkat SD/MI/SDLB (baca : Peraturan Pemerintah No 32 tahun 2013) sedang tingat SMP, SMA sederajat akan diteruskan.

Pendidikan Perempuan Yang Diabaikan

Pasal 10 dan pasal 14 (ayat d) dalam UU RI No. 7 tahun 1984 memberi jaminan hak perempuan atas pendidikan formal maupun non formal. Sayangnya jaminan tersebut tak sesuai dengan kondisi di lapangan. Menurut informasi dari perempuan pedesaan anggota CU dampingan PESADA dibeberapa kab/kota di Sumut menyebutkan bahwa mereka jarang dilibatkan menjadi peserta dalam pelatihan non formal yang diselenggarakan pemerintah. Mereka hanya memperoleh hal tersebut melalui CU yang didampingi PESADA. Pendidikan dan pelatihan didominasi oleh kaum Bapak yang dianggap telah mewakili keluarga atau isterinya.

Foto Kegiatan Dialog warga menjaga ketahaan pangan melalui pertanian organik  di CU Sauduran Kerjaan, 27 Mei 2013

Foto Kegiatan Dialog warga menjaga ketahaan pangan melalui pertanian organik
di CU Sauduran Kerjaan, 27 Mei 2013

Bias gender dalam pendidikan inilah menyebabkan manfaat pendidikan dan pelatihan bagi perempuan menjadi sangat minim. Padahal dalam Deklarasi PBB tentang pendidikan untuk semua menyatakan perempuan berhak memperoleh pendidikan sepanjang hayatnya untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan. Oleh karena itu menjadi penting, organisasi perempuan (CU) untuk menyuarakan hak perempuan dalam memperoleh pendidikan dan pelatihan non formal di berbagai tingkat desa.

Pentingnya HAM & HAP

Berangkat dari persoalan diatas, PESADA memandang perlunya hak azasi manusia dan hak azasi perempuan sebagai dasar pendidikan kita. Sudah waktunya pola belajar yang berpusat pada guru perlu di arahkan ke pendidikan partisipatoris yang memanusiakan warga belajar dalam proses pembelajaran. PESADA secara konsisten akan terus  mengkampanyekan hak perempuan memperoleh pendidikan,  mendorong agar kurikulum peka gender, kesehatan reproduksi, dan mengembangkan pendidikan alternatif bagi perempuan.  (KRS)

Explore posts in the same categories: Tema Kita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: