Penguatan Perempuan

Mengingat Hari Buruh 1 Mei

Dengan Merenungkan Cerita Buruh Migran Hong Kong

Maaf  ini bukan cerita porno, cerita ini saya dapat dari seorang temannya teman saya yang baru bekerja di Hongkong. Sebut saja namanya Ana. Kira-kira baru 4 bulan bekerja di Hongkong pada sebuah keluarga dengan dua anak yang duduk di sekolah SD, dan kedua majikan sama-sama  bekerja. Otomatis Ana tiap hari berada dirumah sendirian. Masak, bersih-bersih, antar jemput anak, dan belanja ke pasar merupakan pekerjaan Ana sehari-hari bekerja di Hong Kong.

Beruntung Ana tiap minggu libur, sehingga dia bisa berkumpul berbagi cerita kepada teman-teman sesama buruh migran. Cerita ini soal penguasaan bahasa Kantonis (bahasa Hongkong) Ana yang belum begitu lancar, dan sering ada kata-kata yang terbolak-balik. Di suatu pagi saat nyonya majikan sudah berangkat ke kantor dan kedua anak majikan sudah berangkat ke sekolah, dirumah hanya ada Tuan dan Ana. Ketika tuan majikan membuka kulkas ingin mengambil susu segar. Karena tidak ada susu segar dalam kulkas, tuan majikan pun memanggil Ana.

Ana             : “Haiya Sinsang” (iya tuan)

Tuan           : “Hai sit kwai  mou sai lai a….?”( di Kulkas tidak ada susu ya)
Ana             : “Mou a sinsang, sai em sai ngo hoi Hong Wai a ?…”(tidak ada tuan, apa perlu saya buka BRA..?)

Yang benar adalah “SAI EM SAI NGO HOI WAI HONG“ (Apa perlu saya ke WELCOME?) WELCOME adalah nama supermarket di Hongkong.
Si tuan tidak bisa menahan tawanya, dia langsung keluar dari dapur dan menelepon sang Istri. Sedangkan Ana hanya bisa bengong karena tidak tau kenapa tuan majikan tertawa sampai terpingkal-pingkal begitu.

Dan ternyata bahasa Ana yang  terbolak-balik tidak cukup sekali itu saja. Sore hari kira-kira jam 3 nyonya majikan menelpon Ana menanyakan apa saja menu makan untuk nanti malam.

Nyonya      : “Ana, kem man jui mea sung a ?…” ( Ana, nanti malam masak apa saja?)
Ana             : “Yau cing kai, jau joi, cing cui yuk, TAI FU jau joi sam.” (ada ayam kukus, oseng sayur, daging babi kukus, CELANA DALAM dimasak sawi).

Yang benar adalah“TAU FU” bukan“TAI FU” (Sejenis Tahu putih yang masih mentah) nyonya majikan pun tertawa sambil bertanya ke Ana

Nyonya       : “Tai fu pingkoa, Tai fi sinsanga?…..” (Celana Dalam siapa,celana dalamnya tuan ya?)

Dengan gagap Ana pun menjawab “Em…em…em, haia dhai-dhai, ngo hai kaisi mai a…” (bukan…bukan…bukan nyonya, aku beli dipasar)

Nyonya       : “ooooo….tau fu hai mai?….” (oo…tahu ya?)

Ana             : “Hai ya dhai-dhai…” ( iya nyonya)

Dengan masih tertawa Nyonyapun mengajari Ana kalo kata-kata itu salah pengucapannya.

Esoknya sesudah makan malam bersama tuan dan nyonya majikan kembali membahas tragedi pengucapan kata-kata dalam bahasa kantonis Ana yang salah kemarin dan kembali tertawa  terpingkal-pingkal. Tanpa bermaksud untuk mengembalikan Ana, mereka memutuskan untuk menelepon agen penyalur Ana di Hong Kong. Waktu nyonya menekan nomor telpon dan tersambung, bukannya menjawab sapaan HALLO dari seberang, nyonya malah kembali tertawa terpingkal-pingkal. Giliran tuan majikan yang menelepon dan dia pun mengalami hal yang sama, tertawa dan terus tertawa saat mau menceritakan penguasaan bahasa kantonis Ana, pembantu yang sudah mereka sayang itu. Kira-kira satu minggu mereka baru bisa menahan tawa dan menceritakan hal itu ke agen penyalur. Agen pun tak bisa menahan tawanya mendengar cerita majikan Ana.

Beruntung Ana punya majikan yang baik dan sayang, sudah mengganggap Ana sebagai bagian dari keluarganya. Mereka mau mengajari Ana yang masih lugu dan belum punya pengalaman bekerja diluar negeri. Akan beda jika saja Ana tinggal dengan keluarga yang super cerewet dan pencemburu, bisa-bisa Ana langsung disuruh angkat koper dari rumah majikan. Ini cuma satu dari sekian banyak cerita BMI kita yang bekerja diluar negeri. Sekali lagi, penguasaan bahasa menjadi kendala satu-satunya. Tidak sedikit yang di-Dikembalikan ke negara asal gara-gara tidak mengerti bahasa negara tujuan. Disuruh mengambil SOUP  malah yang diambil PERMEN.  Apa lagi bahasa kantonis, satu kata bisa memiliki lebih dari dua pengertian.

Contohnya kata KAU dalam bahasa kantonis memiliki arti jari, angka sembilan, anjing, dan cukup. Semoga kejadian ini hanya dialami Ana saja dan pengiriman BMI ke luar negeri bisa lebih dipersiapkan lagi secara maksimal, bukan mengejar kuantitas tapi benar-benar memperhatikan kualitas BMI. Tapi akan lebih baik kalau pemerintah membuka lapangan kerja dinegeri sendiri, dan tidak perlu lagi mengirimkan warganya untuk mengais dolar ke negeri orang.

Ibarat pepatah “hujan BATU dinegeri sendiri lebih enak dari pada hujan EMAS di negeri orang” (Fera Nuraini  – dari internet  26 Oktober 2011 )

Explore posts in the same categories: Seputar Perempuan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: